hujan deras

Pesan Apa di Balik ‘Perjamuan Kudus Soeharto’?

Posted on: 5 Februari, 2008

Sumber; myRMnews.

Selasa, 05 Februari 2008, 14:34:54 WIB

84368-12282905022008tempo.jpg

Laporan: Tuahta Arief

Jakarta, MyRMNews. The Last Supper karya Leonardo Da Vinci adalah salah satu bagian dari penggambaran adegan yang paling menentukan dalam sejarah kehidupan Yesus. Dalam peristiwa yang terjadi beberapa saat sebelum penangkapan Yesus di Taman Getsemani, Da Vinci menggambarkan keresahan murid-murid Yesus setelah Yesus mengabarkan bahwa salah seorang muridnya adalah penghianat. Maka keduabelas murid pun saling bertanya-tanya.

Ribuan tahun orang mencoba tahu, apa sebenarnya yang ingin disampaikan Da Vinci melalui lukisan yang sekarang terpampang di dinding Gereja Santa Maria Delle Grazie, Milan, Italia.

Hingga akhirnya Dan Brown mencoba menjelaskan kodefikasi yang terdapat pada lukisan yang dibuat tahun 1495 dalam sebuah buku berjudul ‘Da Vinci Code’.

Dalam The Last Supper Da Vinci, tergambar Yesus berada di tengah dua kelompok muridnya.

Kelompok di sisi kanan berjumlah enam orang dan di sisi kiri Yesus berjumlah enam orang. Persis di sisi kanan Yesus, duduk Yohanes dan di sisi kirinya adalah Yakobus. Di belakang Yakobus duduk Thomas yang mengacungkan jari tanda tidak meragukan kabar Yesus. Filipus berdiri sambil meletakkan tangan di dadanya.

Sementara itu, di sisi kanan Yesus duduk Yohanes (yang oleh Brown dianggap sebagai Maria Magdalena). Sedangkan duduk di belakang Yohanes adalah Petrus. Dalam adegan itu, Da Vinci menggambarkan kekesalan Petrus dengan melukis Petrus seolah bangkit dari duduk dan menggenggam pisau.

Orang ketiga di sisi kanan adalah Yudas Iskariot yang digambarkan Da Vinci tengah kaget dan langsung mengarahkan wajahnya ke arah Petrus sambil menggenggam kantong uang.

Jelaslah, dalam The Last Supper, Da Vinci tengah menjelaskan kekacauan yang terjadi di tengah-tengah murid Yesus.thelastsupper.jpg

Setelah kematian Soeharto, Majalah Tempo terbit dengan edisi khusus Soeharto. Yang menggemparkan adalah, dalam cover edisi “Setelah Dia Pergi” terlihat mendiang Soeharto tengah duduk di antara dua kelompok anaknya.

Dalam gambar itu, Soeharto terlihat lemah, berbaju putih-putih dan duduk sambil memalingkan wajahnya ke kiri. Posisi duduk ini persis posisi duduk Yesus dalam lukisan karya Da Vinci.

Kendra Paramita si ilustrator sampul memang mengaku terinspirasi dari The Last Supper karya Da Vinci. Ada posisi yang mirip dan ada pula posisi yang berbeda dari lukisan Da Vinci.

Dalam “Setelah Dia Pergi”, Kendra menggambarkan posisi duduk di sebelah kanan Soeharto adalah anak tertuanya, Siti Hardiyanti. Dengan sedikit memalingkan wajah dari bapaknya, Kendra melukiskan Mbak Tutut tengah mendengar bisikan dari Hutomo Mandala Putra. Duduk di depan Tommy adalah Siti Hedijati Harijadi. Di mana dalam lukisan Da Vinci, posisi Siti Hedijati adalah posisinya Yudas. Hanya saja, dalam “Setelah Dia Pergi” Kendra menggambarkan Mba Titiek tengah terlibat diskusi sepihat dengan Mba Tutut.

Di sisi lain, duduk anak kedua Soeharto, Sigit Harjojudanto. Sambil menghalangi dua saudara dengan merentangkan tangan, Sigit terlihat kaget, namun dengan mimik wajah sedikit mencibir.

Sementara itu Bambang yang berdiri di belakangnya terlihat serius dan mendekatkan kepala ke arah Soeharto. Berdiri di belakang Bambang adalah si Bungsu Siti Hutami Endang Adiningsi alias Mamiek. Dalam adegan itu, Mamiek tidak memberikan ekspresi berlebihan. Persis seperti Filipus dalam The Last Supper Da Vinci.

Latar belakang lukisan karya Kendra, juga persis dengan lukisan The Last Supper. Mulai dari tingkap yang berjumlah tiga buah, hingga daerah V yang menjadi jarak duduk antara Soeharto dan putri sulungnya Mba Tutut.

Hanya saja, di atas meja tidak terdapat potongan roti maupun sisa-sisa perjamuan terakhir. Di atas meja, Kendra hanya melukis beberpa piring putih, mangkok bergambar ayam, asbak, gelas dan cangkir yang semuanya kosong!

Entah peristiwa apa yang sebenarnya tengah terjadi di dalam lukisan Kendra Paramita itu. Yang jelas, karya seni Kendra ini sudah melukai hati umat Kristiani. hta

10 Tanggapan to "Pesan Apa di Balik ‘Perjamuan Kudus Soeharto’?"

Wah… tempo kesandung lagi… tapi menurut saya, itu sih biasa aja. Kan kebebasan mengungkapkan pendapat, kreasi dan ide dilindungi…… undang-undang.

Yang protes, saya rasa karena nggak punya nilai seni aja… apa bedanya kartun nabi orang islam di plesetkan majalah swedia… sama kan… minimal atu-atu…

Iya betul, gambar tersebut melukai hati umat Kristiani. Puji Tuhan bahwa umat Kristiani lebih memilih mengampuni dari pada membredel majalah tersebut.

Salam.

Banyak yang bilang pemikiran seniman itu melebihi orang-orang pada zamannya. Leonardo da Vinci pun bisa jadi begitu, waktu membuat lukisan The Last Supper bisa jadi juga dicap menghina cerita Kristiani.

Yang jelas pasti ada pesan terselubung di setiap karya. Apa itu perlu diterjemahkan dengan ngejelimet atau sebaliknya sebenarnya pesannya sederhana saja.

Kalau saya sih lebih pilih interpretasinya langsung saja. Memang Suharto itu sudah dekat dengan kematiannya, dan anak-anaknya sudah tahu apa yang akan terjadi. Mirip dengan cerita The Last Supper itu. Makanya si ilustrator berani bikin tema gambar yang sama.

Omong-omong yang bikin lukisan dengan tema The Last Supper kan bukan cuma Leonardo da Vinci, mas? Setau saya da Vinci juga mereproduksi lukisan orang lain dari masa abad pertengahan.

hmmmm… kenapa gua gak merasa terluka ya ?

1. Kalau pipi kirimu ditampar, berikan juga pipi kananmu.
2. Berdoa dan berkatilah orang yang menganiaya engkau, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.

1. Kalau pipi kirimu ditampar, berikan juga pipi kananmu.
2. Berdoa dan berkatilah orang yang menganiaya engkau, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.
Demikianlah Firman Tuhan.

Puji TUHAN,
Kristiani Penuh Dengan Kasih
Dan Damai…..

artikan positif aja

apapun juga mereka buat, toh tdk berpengaruh pada keimanan saya… orang bisa menggambar segudang karya meniru de davinci code, krn orang2 seperti itu hanya membuat sensasi saja… okey tetaplah pada iman kita msing2… GOD BLESS

kenapa sebuah karya seni harus melukai agama atau kepercayaan tertentu. iwan fals pernah menulis lagu ‘manusia setengah dewa’ gari juga pernah membuat film (lupa judulnya) dan banyak lagi. jika sang seniman ‘cukup pintar’ seharusnya ia mampu membuat karya seni yang bermutu tanpa harus melukai perasaan siapapun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,087 hits
%d blogger menyukai ini: