hujan deras

Archive for the ‘Cerpen’ Category

Oleh: Hujan
(untuk almamaterku)

Rajab dan Muis bertemu di balik pohon besar di halaman belakang sekolah. “Siapa saja yang mau ikut malam ini?” tanya Rajab. Muis menggeleng. “Syafei dan Ilham, Misrun juga mau ikut barangkali.”

Tak lama, seorang siswa lain mendekati mereka. Seragamnya kucel. Padahal ini baru hari Senin. “Jab, Is, sedang apa kalian? tak ikut upacara?” sapa Shaleh, sambil mendekati dua siswa kelas tiga SMA.

“Sebentar lagi Leh, kau pergi sajalah dahulu.” jawab Muis mengusir. Shaleh tertegun sejenak. Kemudian tanpa banyak tanya langsung balik kanan. Baca entri selengkapnya »

Oleh : Hujan

Semacam Pengantar

Manusia hidup memang untuk mencari-cari sesuatu yang dapat menjamin hidupnya di dunia dan pasca dunia.Sehingga tak salah bila seluruh waktu manusia nyaris
habis hanya untuk memuaskan keinginan-keinginan keberadaanya. Ada yang sukses dalam proses pencapaian keinginan itu, ada yang puas hanya dengan hasil separuh dari perjuangan proses itu dan ada yang gagal.

Apa bila gagal sudah menjadi sebuah akhiran, maka sisa dari waktu hidup manusia habis hanya untuk menyesali kegagalan itu. Tapi tidak semua yang gagal melakukan hal seperti itu. Ada yang lebih ekstrim dari pada sekedar eforia kegagalan. Yang menunjukkan bahwa kehidupan seorang manusia itu adalah sebuah ketololan dan kekonyolan. Ada yang gagal nekad hidup diatas kenyataan. Ada yang lupa, dan ada juga yang gila. Sedikit yang menyadari, apapun yang sudah didapat seseorang manusia sebenarnya adalah sesuatu yang dicari selama proses kehidupan ini. Dan yakinlah. Hidup bukanlah hal yang sia-sia. Baca entri selengkapnya »

Oleh : Hujan
(untuk cdgs)
Dengan nama Tuhan yang telah menurunkan hujan malam ini.

Maafkan aku Dik. Setelah beratus-ratus pucuk surat yang kau kirimkan padaku, dan hanya beberapa yang sempat kubaca, maka akhirnya aku tulisan ini sebagai balasan jutaan bait puisi yang telah kau tulis.

Sebagai pembuka, aku ingin kau tahu, mengapa aku menuliskan kisah ini. Dua hari lalu, sahabat baikku baru saja merapat. Dia membagikan kisah petualangannya padaku selama berada di tengah lautan. Di saat bersamaan, dia kemudian teringat pada sebuah dongeng yang pernah di dengarnya. Maka inilah dongeng temanku itu: Baca entri selengkapnya »

Satu lagi cerpen saya dimuat RUMAH KACA
ranah sastra Rakyat Merdeka Online

Rabu, 14 November 2007, 08:33:25 WIB

LANGIT teja. Dengan letih Saiman bersiap merapihkan cangkul dan aritnya. “Sudahlah, cukup sudah rayuanmu Mat,” ujar Saiman sambil mendudukkan pantatnya di atas sawung bambu reot.
“Aku tidak sedang merayumu. Siapa pula yang sudi merayumu kawan? Aku cuma memberikan pandangan lain soal desa kita,” balas Rahmat. Baca entri selengkapnya »

Sumber: www.myrmnews.com

RUMAH KACA
ranah sastra merdeka
Sabtu, 18 Agustus 2007, 21:35:49 WIB

Oleh: Hujan

“Tamu Agung itu sudah datang?” tanya Saiman dengan suara berat. Karto diam dan menggelengkan kepala. Mata lelaki tua itu sudah kuyu, lelah digiring waktu. Saiman bangkit dari dipan, berdiri menyongsong Karto yang duduk di depan pintu.

“Biar aku susul saja dia,” kata Saiman. Digulungnya sarung yang menjuntai diantara betisnya. Disambarnya sepasang sepatu lars yang tergantung di dinding gubug tempat mereka tinggal. Baca entri selengkapnya »

censorCerita ini mengenai kehidupan seorang petualang waktu. Berasal dari tempat dan lingkungan yang sangat mematuhi waktu.  Dan waktu dari tempat asalnya telah membawanya bertualang, bersama waktu, menembus waktu, sampai pada waktunya, petualangan mereka berhenti. Stop, waktunya stop! Sekarang waktunya, untuk menikmati waktu, tak lebih dari 60 menit!

Waktu bercerita, sudah waktunya kita mendengar sebentar…… Baca entri selengkapnya »

RUMAH KACA
ranah sastra merdeka
Jumat, 27 Juli 2007, 23:37:12 WIB

Oleh: Hujan

“…kasihmu sunyi
menunggu seorang diri
lalu waktu – bukan giliranku
matahari – bukan kawanku….”(1)

MALAM masih membebat kesunyian hutan ini. Meskipun api menyala dengan besarnya, tapi tak bisa menghalau dingin yang menyeruak masuk hingga ke sumsum tulangku. Ku geser dudukku dan meraih sepotong kayu lagi. Ku lemparkan, dan menyambarlah lidah api sampai ke langit. Baranya melayang seperti bintang berpijar, kadang-kadang juga seperti rama-rama. Baca entri selengkapnya »