hujan deras

Archive for the ‘Tulisan’ Category

Sumber: Majalah Acehkini Edisi II, Oktober 2007

Reporter : Yuswardi, Tuahta Arief (Jakarta)

Teungku Ismuhadi memiliki seorang istri, Cut Aznani dan dua orang putra putri. Saat ini putra sulungnya, Maulana Tadashi, 12 tahun, berada di pesantren Al-Hamidiah, Sawangan Bogor, sementara putrinya yang kecil, Cahaya Keumala, 9 tahun, duduk di Madrasah Ibtidaiyah Al-Azhar. Hampir setiap dua minggu sekali anak istri dan kedua buah hatinya mengunjungi. Baca entri selengkapnya »

Sumber: Majalah Acehkini Edisi II, Oktober 2007

Reporter : Yuswardi, Tuahta Arief (Jakarta)

SELASA, 21 Agustus silam. Penjara Cipinang, Jakarta, kedatangan tamu istimewa: mantan Panglima GAM Muzakkir Manaf. Bersama dua stafnya, Muzakkir datang membesuk Ismuhadi, terpidana pengeboman gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang dijatuhi hukuman seumur hidup.

“Dia (Muzakir) mendapat kabar saya tewas dalam insiden antara penghuni Lapas awal Agustus lalu. Dia menerima 250-an SMS yang mengatakan saya tewas. Makanya dia datang menjenguk saya,” kata Ismuhadi.

Tak banyak yang tahu pertemuan yang berlangsung tiga jam itu. Sesekali mereka tertawa bersama. Kata Ismuhadi, pembicaraan tak jauh seputar kondisi Aceh terkini dan upaya pengurangan masa penahanannya.

Ismuhadi Jafar ditangkap polisi terkait peledakan gedung BEJ pada 13 September 2000 yang mengakibatkan 15 orang tewas dan puluhan luka-luka. Polisi mengungkap empat orang tersangka. Irwan Ilyas, Ibrahim Abdul Manap, Ismuhadi, dan Nuryadin. Pemilik bengkel mobil Krueng Baro di Ciganjur ini dituduh terlibat merancang aksi peledakan dengan bom mobil itu. Baca entri selengkapnya »

Oleh : Hujan

Semacam Pengantar

Manusia hidup memang untuk mencari-cari sesuatu yang dapat menjamin hidupnya di dunia dan pasca dunia.Sehingga tak salah bila seluruh waktu manusia nyaris
habis hanya untuk memuaskan keinginan-keinginan keberadaanya. Ada yang sukses dalam proses pencapaian keinginan itu, ada yang puas hanya dengan hasil separuh dari perjuangan proses itu dan ada yang gagal.

Apa bila gagal sudah menjadi sebuah akhiran, maka sisa dari waktu hidup manusia habis hanya untuk menyesali kegagalan itu. Tapi tidak semua yang gagal melakukan hal seperti itu. Ada yang lebih ekstrim dari pada sekedar eforia kegagalan. Yang menunjukkan bahwa kehidupan seorang manusia itu adalah sebuah ketololan dan kekonyolan. Ada yang gagal nekad hidup diatas kenyataan. Ada yang lupa, dan ada juga yang gila. Sedikit yang menyadari, apapun yang sudah didapat seseorang manusia sebenarnya adalah sesuatu yang dicari selama proses kehidupan ini. Dan yakinlah. Hidup bukanlah hal yang sia-sia. Baca entri selengkapnya »

Pada waktu duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar, saya pergi ke bioskop H di Kota M. Kurang lebih tahun 1994 peristiwa itu berlangsung. Dengan uang senilai Rp 250 yang diwajibkan pihak sekolah, saya pun akhirnya berangkat juga ke bioskop bersama teman-teman lainnya. Sebab ketika itu memang ada kewajiban dari sekolah inpres negera untuk menonton film-film perjuangan. Dengan dalih menambah sifat kebangsaan dan bela bangsa. Baca entri selengkapnya »

Sampai juga aku pada tahun ke-24 kelahiranku. Sebuah perjalanan yang bila dipetakan dan dihamparkan bisa memakan seperempat bagian bumi. Seuntai doa dan harapan dari semua orang berharap baik padaku. Papa dan Emak, empat kakak dan dua adikku. Baca entri selengkapnya »

Sumber: www.myrmnews.com

RUMAH KACA
ranah sastra merdeka
Sabtu, 18 Agustus 2007, 21:35:49 WIB

Oleh: Hujan

“Tamu Agung itu sudah datang?” tanya Saiman dengan suara berat. Karto diam dan menggelengkan kepala. Mata lelaki tua itu sudah kuyu, lelah digiring waktu. Saiman bangkit dari dipan, berdiri menyongsong Karto yang duduk di depan pintu.

“Biar aku susul saja dia,” kata Saiman. Digulungnya sarung yang menjuntai diantara betisnya. Disambarnya sepasang sepatu lars yang tergantung di dinding gubug tempat mereka tinggal. Baca entri selengkapnya »

censorCerita ini mengenai kehidupan seorang petualang waktu. Berasal dari tempat dan lingkungan yang sangat mematuhi waktu.  Dan waktu dari tempat asalnya telah membawanya bertualang, bersama waktu, menembus waktu, sampai pada waktunya, petualangan mereka berhenti. Stop, waktunya stop! Sekarang waktunya, untuk menikmati waktu, tak lebih dari 60 menit!

Waktu bercerita, sudah waktunya kita mendengar sebentar…… Baca entri selengkapnya »