hujan deras

Cover Majalah Tempo Menuai Kontroversi

Posted on: 5 Februari, 2008

Sumber: myRMnews
Selasa, 05 Februari 2008, 12:26:13 WIB

Laporan: M Hendry GintingCover Tempo

Jakarta, myRMnews.
Politisi Partai Damai Sejahtera (PDS) Denny Tewu tidak mau negative thinking dalam menilai cover majalah Tempo edisi 04-10 Februari 2008. Dalam cover edisi terbaru tersebut, digambarkan Soeharto dan enam orang anak-anaknya. Ilustrasi tersebut mirip lukisan “The Last Supper” atau Perjamuan Terakhir Yesus beserta 12 muridnya karya Leonardo da Vinci.

“Kami tidak mau negative thinking dulu,” kata Wakil Ketua Umum PDS, Denny Tewu kepada myRMnews Selasa siang ini (5/2) menyikapi cover majalah Tempo tersebut.

Ia mengakui, ketika mengetahui munculnya cover seperti itu, malam kemarin (Senin, 4/2), para pengurus PDS menggelar rapat khusus untuk membahasnya. Hasilnya, PDS menugaskan bidang hukum dan HAM untuk melayangkan surat ke redaksional majalah Tempo. Dalam suratnya, PDS kata Denny menanyakan apa motivasi redaksi majalah Tempo membuat cover seperti itu.

Denny meyakini, pemunculan cover tersebut, akan mendapat reaksi dari umat Kristen yang berbeda-beda. Ada yang menganggap sebagai hal yang wajar, sebagai sebuah kreativitas, dan ada pula yang tersinggung.

Ia menambahkan, dalam perjamuan kudus (sesungguhnya), Yesus dikelilingi 12 pengikutnya. Sedangkan cover Majalah Tempo, berada di tengah dikelilingi putra-putrinya. “Mudah-mudahan tidak ada maksud Majalah Tempo untuk melecehkan Yesus Kristus, tapi sebagai bentuk kreativitas saja,” ujarnya. dry

8 Tanggapan to "Cover Majalah Tempo Menuai Kontroversi"

Jadi ingat novelnya Dewi Lestari yang dulu sempat heboh karena memakai salah satu simbol dalam agama Hindu dan mendapat protes dari Parisada Hindu Dharma. mirip kasus ini juga kan?

Baru tahu dari blog ini.
Maklum nggak langganan Tempo.🙂

Hanya Leonardo da Vinci yang berhak protes terhadap Tempo, itu pun kalau memang ada yang “enak dan perlu” diprotes…

Saya Katolik, tapi saya gak masalah dengan hal tersebut. Belum tentu juga kan perjamuan kudus yang dalam alkitab seperti yang dilukiskan oleh Da Vinci, lha wong dia hidup beratus tahun setelah perjamuan itu terjadi.

Ini seni dan kreatifitas, bukan sesat dan menyesatkan. Gereja dan umat Kristiani harusa bisa lebih dewasa.

Maju terus Tempo, salam buat Kang Gunawan Mohamad.

Gambar ini menurut saya adalah sbgai sindiran atas KEMUNAFIKAN BANGSA kita, yg dari thn 1966 sampai 1997 memuja soeharto sebagai juruselamat mungkin tuhan ke 2 jg. namun thn 1998 tiba2 dihujat, kemudian setelah dia mati thn 2008 dia kembali dipuja sebagai juruselamat yg suci, yg seolah tak pernah korupsi dan membunuh bangsa sendiri, apalagi kelakuan anak2nya dan kroni2nya yg seperti setan kelaparan itu.
Soeharto kembali ‘disembah’ oleh media dan pemerintah setelah kematiannya.
Menurut saya itulah makna dari cover Majalah Tempo tersebut.

Orang2 kristiani gak akan mempermasalahkan hal ini jika dan hanya jika motivasi yang dimunculkan bukan sebagai pelecehan terhadap Yesus. Yang patut disayangkan adalah analisa sdr paulo_themadman yang menghubungkan gambar tersebut dengan situasi suharto. Secara sepintas akan memberikan pengertian bahwa Yesus adalah memang penjahat, dan pengikutNya adalah seperti setan kelaparan. maaf, tetapi hal ini akan memberikan dampak yang buruk dalam komunitas online. Komentar boleh bebas, tetapi mohon dengan dengan kecermatan yang cukup.
Saya tidak akan berkomentar tentang hal ini. Ini bukan karya yang menakjubkan dan bukan ekspresi yang cerdas dari sebuah majalah TEMPO.
Terimakasih.

sdr antonio,
bkan maksud saya mnyamakan yesus dgn penjahat.
bgini saudara, soeharto dlm cover dpn ini seolah2 adlah yesus dlm last supper-nya da vinci.
mksud saya, ya memng benar soeharto selama hidup smpai matinya ya dipuja oleh para pngikutnya sbg tuhan, krn memang slama dia brkuasa , praktis tak ada lembaga/kelompok manapun yg brani kritis mlawan dia, pasti langsung di ‘hilangkan’. dan jg soharto slama brkuasa jg haus pujian dan penghormatan, bahkan kultus individu, bagaikan sang raja negri ini plus sbg juruselamat yg mnyelamatkan bngsa ini dr masa orde lama, bahkan lembaga keagamaan sekalipun tak brani mengkritisi stiap kbijakannya, kl lembaga keagamaan saja tunduk kpadanya bukankah brarti dia sdh menyamakan dirinya dgn tuhan?

terima kasih🙂

saya setuju dengan paulo_themadman, tapi aku no comment aja deh (farrelrifqi.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: