hujan deras

Revolusi Adalah Mendjebol dan Membangun [1] (Pidato Bung Karno di depan GMNI 3 Desember 1966)

Posted on: 16 Januari, 2008

Saudara-saudara,
Di kalanganmu itu aku melihat tadi Pak Mukarto. Tapi kok sekarang nyisih ya. Aku melihat Pak Adam Malik, belakang. Aku melihat Pak Tjokro. Dan di hadapanmu, engkau melihat aku.

Baik Pak Mukarto, maupun Pak Tjokro, maupun Pak Adam Malik, maupun aku, dulu, muda, dulu ikut-ikut muda. Sekarang saja sudah ada yang sudah ubanan rambutnya seperti Pak Mukarto. Yang tadi aku ceritakan waktu physical revolution mulai, beliau adalah, kita, penyeludup, smokkelaar untuk mendapatkan senjata. Physical revolution untuk mendapat pembiayaan, uang buat perwakilan kita di luar negeri. Kemudian pula bapak-bapak itu di waktu muda ikut-ikut giat di dalam pergerakan nasional ataupun di dalam physical revolution.

Demikian pula aku.

Engkau telah sering mendengar mengenai diriku, bahwa aku ini sejak umur 16 tahun, 16 tahun, telah mencemplungkan diri dalam gerakan untuk tanah air, bangsa, cita-cita. Pada waktu aku umur 16 tahun, aku adalah siswa daripada sekolah menengah Belanda di Surabaya HBS, Hogere Burger School. Siswa. Pada waktu itu aku karena telah ikut
bercita-cita, menjadi anggota daripada satu organisasi pemuda Jawa, pemuda dan pemudi Jawa. Namanya Trikoro Darmo. Trikoro Darmo.

Demikian pula bapak-bapak tua sekarang ini dulu semuanya, pada waktu masih muda telah ikut berkecimpung di dalam gerakan-gerakan. Ada yang seperti Bapak menjadi anggota Trikoro Darmo. Pak Leimena yang duduk di sana, dedengkot tua Pak Leimena, dulu pun menjadi anggota daripada satu gerakan pemuda Ambon.

Bung Hatta juga pada waktu masih muda menjadi anggota daripada satu serikat siswa Sumatera, Jong Sumatranen Bond.

Pak Leimena punya organisasi namanya Jong Ambon.

Nah, kita sekarang dedengkot-dedengkot tua. Sejak dari muda kita telah bukan saja ikut, ya nak, jangan lihat itu, lihat hidungnya Bapak. Bapak itu kalau pidato dilihat mata anak anggota GMNI itu lantas Bapak ikut menyala-nyala.

Ha, dedengkot-dedengkot itu sekarang ada, ada lo, di kalangan mahasiswa yang waduh, memaki-maki kepada kami, mencerca kami. Sampai tempo hari itu, sampai Bapak itu setengah menangis.

Pak Leimena yang sejak dari mudanya telah berkecimpung mencemplungkan diri dalam gerakan untuk kepentingan bangsa dan tanah air, cita-cita. Sekarang di kalangan mahasiswa ada yang waduh, bahkan mengucapkan kata-kata yang tidak baik: Kami tidak sudi orang “cap”, atau “cap Leimena”, “semacam Leimena”. Masya Allah pemuda-pemuda zaman sekarang ini bagaimana. Dan engkau tahu Bapak sendiri sekarang ini ada yang waduh sudah habis-habisan lah, habis-habisan.

Padahal, padahal, Bapak, Pak Leimena, Pak Mukarto, Pak Adam Malik, Pak Tjokro, dan macam-macam banyak sekali Pak, Pak, Pak itu, sedari mudanya boleh dikatakan menyerahkan diri, bahkan mengorbankan kebahagiaan hidup untuk kepentingan tanah air, bangsa dan cita-cita.

Nah, sekarang engkau pemuda-pemuda. Bukan saja engkau jangan ikut pemuda-pemuda yang begitu itu tadi, yang mencerca kepada Pak Leimena, Pak Mukarto, dan lain-lain sebagainya, tetapi aku menghendaki supaya engkau pun mengetahui tugas dan kewajiban sebagai pemuda. Tugas kewajibanmu sebagai mahasiswa.

Pernah kukatakan, menjadi mahasiswa zaman sekarang ini tugasnya adalah dua, tugasnya dua. Satu, untuk terus ikut menjadi pelopor daripada revolusi kita sekarang ini. Kan menjadi pelopor itu berarti, bukan saja berjalan di muka, tetapi yaitu sebagai kukatakan
berulang-ulang, jangan meninggalkan sumber daripada revolusi, jangan menyeleweng daripada riilnya revolusi. itu satu.

Kedua, untuk menjadi unsur mutlak di dalam pembinaan. Sebab, revolusi kataku, kemarin pun diterangkan panjang lebar dihadapan anggota MPP PNI, revolusi adalah di satu pihak menjebol, di lain pihak membina. Menjebol kepada imperialisme, menjebol kepada sistem
yang tidak sesuai dengan revolusi, sistem sosial yang tidak sesuai dengan revolusi. Tegasnya menjebol sistem feodalisme, menjebol sistem kapitalisme. Di samping itu membina, membina, membangun satu barang baru yang memberi kebahagiaan kepada rakyat Indonesia seluruhnya. Dus di satu pihak menjebol, di lain pihak membina.
Karena itu aku, sejak daripada pecahnya revolusi fisik kita, telah kuterangkan, revolusi adalah satu simfoni. Simfoni itu adalah lagu yang merdu dikeluarkan oleh rombongan bersama. Ada yang memegang biola, ada yang memegang gitar, ada yang memegang drek, dek, dek, dek, dek, tambur, ada yang memegang macam-macam pesawat. Tetapi
bersama-sama mengeluarkan satu simfoni yang merdu. Dan aku berkata, revolusi adalah simfoni daripada destructie dan constructie. Destructie yaitu menghancurkan, atau dengan perkataan yang baru tadi kuucapkan menjebol. Constructie, membangun, membina, mencipta, to create, scheppen, kata orang Belanda.

Nah, ini untuk to create, kamu orang semuanya mahasiswa mengerti perkataan create. Scheppen, itu tidak semua kamu mengerti, yaitu bahasa Belanda, tapi artinya sama dengan create, membina, membangun, mencipta. Created itu kita memerlukan pengetahuan, memerlukan skill. Sebab, tujuan revolusi adalah, sebagai kukatakan berulang-ulang dan engkau katakan berulang-ulang, satu masyarakat adil dan makmur tanpa exploitaion de l’homme par l’homme, tanpa exploitation de nation par nation. Pendek kata, tujuan revolusi adalah Ampera. Ampera di dalam arti aksi Ampera, arti aksi Ampera. Jangan Ampera sebagai diterangkan atau dikatakan oleh satu golongan mahasiswa zaman sekarang. Nanti aku terangkan.

Dan aku mengucap syukur terhadap kepada Tuhan bahwa akulah fabrikant. Fabrikant, pembuat kata Ampera itu, Amanat Penderitaan Rakyat, bersama-sama dengan yang kau katakan pada waktu melantik Akabri, Akademi Angkatan Bersenjata, bersama-sama dengan Bapak Sukarni. Kita ciptakan satu perkataan untuk menjadi slogan daripada
perjuangan kami berdua, Soekarno-Soekarni membuat kata baru Ampera, Amanat Penderitaan Rakyat. Bagaimana? Nah, inilah yang aku akan terangkan kepadaku lebih dahulu. Umur 16 tahun, aku menjadi anggota Trikoro Dharmo. Itu kumpulan mahasiswa Jawa. Perkataannya saja sudah Jawa, Trikoro Dharmo.

Aku pada waktu itu diindekoskan. Apa perkataan indekos zaman sekarang di pondokkan, ditumpangkan. Diindekoskan, ditumpangkan atau di pondokkan, diindekoskan kepada rumahnya pemimpin ulung Umar Said Tjokroaminoto, yang kemudian menjadi haji, Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Aku diindekoskan di situ.

Nah, ini belakangan, Saudara-saudara, syukur aku mengucapkan kepada Tuhan, kok aku diindekoskan di situ oleh orang tuaku. Tidak diindekoskan ke rumah orang lain, kok diindekoskan di rumahnya seorang pemimpin.

Apa sebab? Bukan saja aku di rumah Tjokroaminoto itu sering bicara dan mendapat pengajaran dari Tjokroaminoto almarhum. Tetapi di rumah Pak Tjokro itu aku berjumpa dan bercakap-cakap lama, kadang jauh malam, sampai kadang hampir fajar pagi, dengan pemimpin-pemimpin lain yang bertamu kepada Pak Tjokro atau yang beberapa hari logger-kan di rumahnya Pak Tjokro itu. Antara lain siapa? Antara lain almarhum Haji Agus Salim. Antara lain siapa? Almarhum Soerjopranoto. Antara lain siapa? Sosrokardono. Andara lain siapa? Semaoen. Antara lain siapa? Tjipto Mangoenkoesoemo. Antara lain siapa? Douwes Dekker. Yang kemudian ganti nama Setiabudi. Aku dus bicara dengan
politisi, politikus dari segala aliran. Bahkan aku bicara dengan pendiri daripada gerakan agama yang bernama Kiai Haji Dahlan. Bukan saja bicara sebentar, tidak. Wong mereka itu logger di rumahnya Tjokroaminoto. Itu rupanya sudah jamak, kebiasaan. Lumrah.

Dulu itu kalau pemimpin pergerakan datang di suatu tempat, ya logger- nya di tempat seseorang pemimpin gerakan lain, meskipun bukan dari partainya.

Nah, rumah Pak Tjokro itu seperti hotel, Saudara-saudara, sering kedatangan pemimpin-pemimpin itu. Dan aku sebagai orang yang indekos di situ, waduh, sebentar bicara dengan Pak Haji Agus Salim, sebentar bicara dengan Pak Soerjopranoto. Kamu barangkali sudah tidak tahu lagi Pak Soerjopranoto itu. Soerjopranoto itu adalah dulu pemimpin kaum buruh pabrik gula. Tanah Jawa dulu banyak sekali pabrik gula. Oleh karena memang imperialisme Belanda di tanah Jawa itu terutama sekali mengambil hasil banyak dari gula, pabrik gula. Pemimpin daripada kaum buruh pabrik-pabrik gula ini adalah Soerjopranoto. PFB morat-marit, sebetulnya namanya PFB ini ialah Personeel Fabriek Bond. Kalau bahasa Belanda yang betul mustinya ya Bond van Fabriek
Personeel begitu. PFB, Personeel Fabriek Bond. PFB. Malahan kaum buruh gula ini pernah mengadakan mogok besar. Mogok untuk mendapatkan gaji lebih tinggi, jam kerja kurang. Dan Pak Soerjopranoto dinobatkan oleh kongres daripada PFB ini menjadi,
pakai bahasa Belanda lagi Staking Koning, Raja Pemogokan. Hebat itu, hebatnya perjuangan, Saudara-saudara, pada waktu itu menentang imperialisme. Mogok! Seluruh kaum buruh pabrik-pabrik gula mogok. Disusul oleh Semaoen, komunis. Dulunya yaitu Sarekat Islam.

Kemudian Sarekat Islam dengan kepalanya bernama PKI, Partai Komunis Indonesia. Semaoen, dia pun sering datang di rumahnya Pak Tjokro. Saya pun sering bicara dengan Semaoen. Sebagaimana, saya tanya, sebagaimana orang muda lo, banyak maguru, aguru itu bahasa Kawi Sansekerta, maguru, berguru, belajar menjadi murid daripada Pak
Tjokro. Maguru kepada Semaoen. Bagaimana, bagaimana, bagaimana? Dia kasih pengajaran.

Demikian pula aku maguru kepada Tjipto Mangoenkoesoemo, yang namanya kita agungkan sampai sekarang. Misalnya, barangkali ada mahasiswa sekolah dokter, tahu rumah sakit yang di sini kita namakan Rumah Sakit Tjipto Mangoenkoesoemo. Aku maguru kepada Douwes Dekker, Setiabudi. Aku maguru kepada Soeryaningrat, yang kemudian ganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Maguru. Dengan perkataan yang sering kukatakan, aku ini nglésot di bawah kakinya Ki Hadjar, di bawah kakinya Tjokroaminoto, di bawah kakinya Tjipto, di bawah kakinya Douwes Dekker, di bawah kakinya Semaoen, di bawah kakinya Soerjopranoto, di bawah kakinya Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiah. Jadi aku dapat, dari semua pikiran dan aliran, aku dapat bahan. Nah, ini semua menjadi satu simfoni bagiku, Saudara-saudara. Aku tidak hanya maguru kepada viool, aku tidak hanya maguru kepada piano, aku tidak hanya maguru kepada gitar, aku tidak hanya maguru kepada saksofon, aku tidak hanya maguru kepada tromp, yaitu tambur, tidak. Aku maguru dari masing-masing itu dan aku maguru kepada simfoni daripada ini semua.

Karena itu kalau aku sekarang ini berjumpa dengan pemimpin-pemimpin yang sekarang oo, oo, oo. Ada lo, pemimpin-pemimpin yang petita-petiti. Hh, aku ini dulu maguru kepada waduh pemimpin-pemimpin Indonesia dari golongan Islam, maupun golongan nasionalis, maupun dari golongan komunis. Bahkan aku maguru juga daripada pemimpin-pemimpin Belanda yang dulu ada di sini, pemimpin sosialis.

Ini semua menjadi bahan bagiku.

Nah, oleh karena itulah maka sesudah aku menjadi anggota daripada Trikoro Dharmo, aku meluaskan gerakan pemudaku menjadi Jong Java. Lebih jelas lagi Jong Java daripada Trikoro Dharmo. Sebab, Trikoro Dharmo itu dulu maksudnya ya studie tok. Kalau Jong Java sudah tegas dengan cita-cita, lebih tinggi daripada Trikoro Dharmo.

Tidak lama di Jong Java saya jelaskan dan saya lebarkan lagi menjadi Jong Indonesia. Indonesia Muda. Bukan sendiri, bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin, dedengkot-dedengkot yang lain. Indonesia Muda tahun 1923, Saudara-saudara, 1923 lo, lima tahun sebelum Sumpah Pemuda. Lima tahun sebelum ada sumpah yang berbunyi: satu tanah air, satu bahasa, satu bangsa. Dedengkot itu bernama Soekarno, dedengkot
tua yang bernama Soediono, dedengkot tua yang bernama Mohammad Hatta, dedengkot tua yang bernama Soebardjo, dedengkot tua yang bernama Adam Malik, dan lain-lain sebagainya. Dedengkot tua-dedengkot tua ini telah mengumandangkan ide persatuan Indonesia.

Dan aku mengumandangkan itu. Aku, Saudara-saudara, karena itu tadi aku dapat bahan dari macam-macam aliran. Bahanku bukan hanya nasionalisme, bukan hanya agama yang aku dapat dari Pak Tjokro, dari Pak Dahlan. Bahanku juga dari marxisme, yang aku dapat dari Semaoen, yang aku dapat daripada pemimpin-pemimpin Belanda sebagai Hartoh,
Sneevliet. Pak Leimena kenal sama Sneevliet itu? Sneevliet itu elek-elek dia menulis satu buku tebal tentang Indonesia lo, Saudara-saudara. Kalau engkau masih suka, betul-betul suka membaca, mbok cari buku Sneevliet itu bibliotek museum. Sneevliet menulis buku
perjuangan rakyat Indonesia, dan bagaimana seharusnya kita menghancur-leburkan imperialisme di Indonesia ini. Sneevliet itu orang Belanda. Barangkali Pak Leimena punya itu buku?

Lo, pinjamkan.

Aku punya buku sudah diserobot orang lain. Sneevliet. Aku dapat juga daripada guru sekolahku yang bernama Hertog. Belanda, tapi dia adalah sosialis, memberi tahu kepadaku sosialisme itu apa. Karena aku dapat banyak, banyak, banyak bahan, karena aku mendapat simfoni itu tadi lantas aku juga sebagai mahasiswa, wah, aku lantas gemar
sekali belajar, gemar membaca. Sampai, boleh dikatakan, aku kadang-kadang meninggalkan pelajaran-pelajaran di sekolah untuk, waktunya aku pakai untuk, membaca buku-buku politik, yang tidak diajarkan di sekolah kepada saya.

Aku membaca sejarah dunia, aku membaca sejarah bangsa-bangsa, aku membaca kitab-kitab tentang gerakan kaum buruh, aku membaca tentang gerakan Islam. Sampai-sampai aku tahun yang lalu, tahun yang lalu, jadi 1965 ini, aku perintahkan untuk menyalin misalnya kitabnya Lothrop Stoddard, Lothrop Stoddrad, The New World of Islam. Sekarang sedang diterjemahkan. Tempo hari sudah sampai tercetak.

Jadi, aku ini gemar membaca, oleh karena aku anggap perlu untuk mengisi otakku, mengisi pikiranku, mengisi semangatku selebar-lebar mungkin. Jendela terbuka, ide-ide itu masuk di dalam ingatanku, pikiranku itu.

Ini aku ajarkan kepadamu. Jangan kamu itu ya mahasiswa, mahasiswa, mahasiswa, mahasiswa, tetapi cuma diam, tidak. Apalagi, nah ini, engkau ini berjuang di atas front dua macam, destructie, constructie, menjebol, membina. Dalam hal pembina ini, tidak bisa
kita membina tanpa orang yang tahu, tidak bisa kita membina tanpa apa yang kukatakan, kader. Dengan gampangnya saja, sosialisme, Saudara-saudara, yang harus kita bina itu. Sosialisme itu, aku katakan berulang-ulang, tidak seperti air embun jatuh pada waktu
malam, tes. Tidak. Sosialisme harus dibina, didirikan, diperjuangkan, dengan segala keuletan. Dan di dalam pembangunan pembinaan sosialisme itu, saya tidak cukup hanya dengan semangat. Bahkan sumber semangat sebetulnya haruslah pikiran. Sumber semangat adalah pengetahuan. Orang yang kurang pengetahuan, semangatnya ya
semangat yang sekedar he put. mati lagi. Oo kobar-kobar. put. mati lagi. Tetapi semangat yang timbul daripada pengetahuan yang betul-betul lantas paku di otak. Semangat yang demikian itu tidak bisa mati, Saudara-saudara. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: