hujan deras

Setelah Panglima Datangi Profesor Teungku [1]

Posted on: 26 Desember, 2007

Sumber: Majalah Acehkini Edisi II, Oktober 2007

Reporter : Yuswardi, Tuahta Arief (Jakarta)

SELASA, 21 Agustus silam. Penjara Cipinang, Jakarta, kedatangan tamu istimewa: mantan Panglima GAM Muzakkir Manaf. Bersama dua stafnya, Muzakkir datang membesuk Ismuhadi, terpidana pengeboman gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang dijatuhi hukuman seumur hidup.

“Dia (Muzakir) mendapat kabar saya tewas dalam insiden antara penghuni Lapas awal Agustus lalu. Dia menerima 250-an SMS yang mengatakan saya tewas. Makanya dia datang menjenguk saya,” kata Ismuhadi.

Tak banyak yang tahu pertemuan yang berlangsung tiga jam itu. Sesekali mereka tertawa bersama. Kata Ismuhadi, pembicaraan tak jauh seputar kondisi Aceh terkini dan upaya pengurangan masa penahanannya.

Ismuhadi Jafar ditangkap polisi terkait peledakan gedung BEJ pada 13 September 2000 yang mengakibatkan 15 orang tewas dan puluhan luka-luka. Polisi mengungkap empat orang tersangka. Irwan Ilyas, Ibrahim Abdul Manap, Ismuhadi, dan Nuryadin. Pemilik bengkel mobil Krueng Baro di Ciganjur ini dituduh terlibat merancang aksi peledakan dengan bom mobil itu.

Peristiwa tujuh tahun lalu itu sempat mengguncang Jakarta. Para pelakunya dikaitkan dengan keterlibatan para aktivis GAM dan isu terorisme. Akhirnya, Pengadilan Negeri setempat menjatuhkan vonis seumur hidup kepada Ismuhadi. Ia kini menghabiskan masa hidupnya di LP Cipinang Kelas I Jakarta. Ia dijerat pasal 1 Undang Undang Darurat No. 1 tahun 1951 dan pasal 106,107,108 KUHP tentang perbuatan makar. “Harusnya setelah pemeriksaan saksi dan terdakwa sebelum divonis, terdakwa diperiksa oleh hakim, tapi kata hakim waktu itu, dia tak punya waktu untuk memeriksa” kata Ismuhadi.

Saat disambangi acehkini, Ismuhadi mengenakan kaos putih dan celana jeans. Pria asal Matang Glumpang Dua itu tetap berusaha ceria. Sepanjang koridor menuju ruangan, orang-orang menyapa ramah sembari menjabat tangannya. Orang-orang penjara memanggilnya Profesor Teungku.

Kedatangan Muzakir Manaf tentu tak sekedar membesuk. Bagi Ismuhadi, kehadiran mantan panglima GAM itu sangat berarti. “Selama ini saya berjuang sendiri untuk mengusahakan pengurangan masa tahanan. Saya seperti orang yang meraba-raba di ruangan gelap,” paparnya.

Sebenarnya, dua pekan sebelum Muzakir tiba, Ismuhadi juga kedatangan tamu penting. Kamis, 9 Agustus, malam baru saja turun ketika Malik Mahmud, pria yang di kalangan GAM dikenal sebagai Perdana Meuntroe datang ke Cipinang. Malik didampingi Yahya Muaz. Dari perwakilan pemerintah, ikut datang Hamid Awaludin.

Kepada Hamid, Ismuhadi sempat bertanya soal hukumannya. Dia mengingatkan soal Keputusan Presiden No. 22/2005 tentang amnesti serta Keppres 174/1999 soal pengurangan masa tahanan apabila penghuni memiliki catatan berkelakuan baik selama lima tahun. “Namun Hamid menjawab hukuman seumur hidup itu sudah final,” ujar Ismuhadi.

Perjuangan Ismuhadi meminta keringanan hukuman memang tak berakhir di meja pengadilan. Ia sempat mengajukan kasasi hingga ke Mahkamah Agung. Keluarga Ismuhadi berharap Mahkamah dapat meringankan hukumannya dari hukuman seumur hidup. Namun semua itu kandas. Ia tetap harus mendekam di Cipinang.

Ismuhadi tak patah arang. Penjara juga tak mematikan kreativitasnya. Hanya saja, konflik sesama penghuni penjara kerab mencemaskan. Salah satunya tawuran antar penghuni Lapas pada 31 Juli lalu. Setelah peristiwa berdarah yang merenggut korban itu, narapidana asal Sumatera jadi was-was. Saat kejadian itu, Ismuhadi tidak di kamarnya di Blok 2 D Nomor 9. Ia sedang di LP Narkoba menanti jadwal perpindahannya ke Lapas di Aceh. “Sejak tanggal 15 Juli saya sudah ditransit ke LP Narkoba, tapi hingga 30 Juli malam belum dipindahkan,” ujarnya.

Tawuran itu terjadi persis di belakang blok tahanan politik yang juga dihuni Eurico Gutteres, pejuang prointegrasi Timor Timur.

Meski divonis seumur hidup, hati Ismuhadi sempat berbunga. Pasalnya, ia akan diboyong ke Aceh. Tapi, meski sudah direncanakan sejak Mei lalu, rencana itu belum terwujud. Meski begitu, semangatnya tetap tumbuh.

“Ya, walau belum dipindahkan juga tak mengapa, sekarang saya mengurus lobster di sini, dan pernah ikut pameran di kalangan napi. Saya mendapat juara pertama dari kepala seksi bina narkotika beberapa waktu lalu,” ujar Ismuhadi. Di penjara, ia juga menanam pohon dan berkebun. “Penderitaan yang saya rasakan di sini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan penderitaan rakyat di Aceh,” ujarnya.

Di LP Cipinang, terdapat kurang lebih 243 napi asal Aceh. Dua di antaranya adalah narapidana politik. Selama di Lapas, Teungku Ismuhadi pernah bertemu dengan Syaiful Nurdin (terdakwa pengebom Kedutaan Besar Malaysia), serta tahanan politik lain Ustad Abu Bakar Baasyir.

Sebenarnya, penjara Cipinang sudah kebanjiran tahanan. Selayaknya, LP ini menampung 1.800 narapidana, namun kenyataannya, hingga hari ini ada 4.000 orang yang ditahan di sana. Karena kelebihan muatan itulah, sanitasi jadi tak terperhatikan dan penghuni rentan mengidap penyakit seperti gatal-gatal. “Karena itu, saya pernah mengajak penghuni lain untuk menggalang bantuan obat-obatan yang didapat dari luar Lapas.” kisahnya. Untuk usahanya itu Teungku Ismuhadi mendapat penghargaan dari Lapas.

Selama ini, kata dia, setiap narapidana mendapat jatah uang makan tiga kali sehari. Uang senilai Rp 3.600 tersebut kemudian dia kumpulkan untuk dikirimkan ke keluarganya. Ismuhadi sendiri makan dari sayur-sayuran yang ditanamnya sendiri. “Ada tanah di Lapas ini yang dipercayakan kepada saya. Saya mengolahnya, kemudian saya menanaminya dengan sayuran. Sebagian untuk makan sendiri, sebagian untuk dijual,” kata pria yang mendirikan Persatuan Napi Indonesia bersama Rahardi Ramelan dan Roy Marten ini.

Di sel yang berukuran 4,5 x 15 meter, Teungku Ismuhadi tinggal bersama enam orang penghuni lain. Dia tidur di atas kasur batu beralas karpet. Ketika tsunami 2004 lalu, Teungku Ismuhadi hanya bisa menangis setiap kali melihat tayangan berita di tivi.

“Saya bersama dengan penghuni lain asal Aceh hanya bisa mengirimkan lewat doa bersama. Lalu saya berinisiatif untuk mengumpulkan bantuan dari penghuni LP. Ada yang memberikan uang, ada yang memberikan pakaian bekas. Lalu bantuan itu disalurkan lewat stasiun Metro TV dan Lativi,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. [bersambung]

1 Response to "Setelah Panglima Datangi Profesor Teungku [1]"

Allah Akbar …
Allah Akbar …
Allah Akbar …
Allah Akbar …
Allah Akbar ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: