hujan deras

PIDATO SOEKARNO: LAHIRNYA PANCA SILA (3)

Posted on: 7 Desember, 2007

Saudara-saudara, soalnya adalah demikian:  k i t a  i n i  b e r a n i  m e r d e k a  a t a u  t i d a k??  Inilah, saudara-saudara sekalian, Paduka tuan ketua yang mulia, ukuran saya yang terlebih dulu saya kemukakan sebelum saya bicarakan hal-hal yang mengenai dasarnya satu negara yang merdeka. Saya mendengar uraian P.T. Soetardjo beberapa hari yang lalu, tatkala menjawab apakah yang dinamakan merdeka, beliau mengatakan: kalau tiap-tiap orang di dalam hatinya telah merdeka,  itulah kemerdekaan. Saudara-saudara, jika  t i a p – t i a p  orang Indonesia yang 70 milyun ini lebih dulu harus merdeka di dalam hatinya, sebelum kita dapat mencapai political independence, saya ulangi lagi, sampai lebur kiamat kita belum dapat Indonesia merdeka!  (Tepuk tangan riuh).

 D i  d a l a m  Indonesia merdeka itulah kita  m e m e r d e k a k a n rakyat kita!! D i  d a l a m  Indonesia Merdeka itulah kita   m e m e r d e k a k a n hatinya bangsa kita!  D i  d a l a m  Saudi Arabia Merdeka, Ibn Saud  m e m e r d e k a k a n  rakyat Arabia satu persatu.  D i  d a l a m  Soviet-Rusia Merdeka Stalin  m e m e r d e k a k a n  hati bangsa Soviet-Rusia satu persatu.

 

Saudara-saudara! Sebagai juga salah seorang pembicara berkata: kita bangsa Indonesia tidak sehat badan, banyak penyakit malaria, banyak dysenterie, banyak penyakit hongerudeem, banyak ini banyak itu. „Sehatkan dulu bangsa kita, baru kemudian merdeka“.  Saya berkata, kalau inipun harus diselesaikan lebih dulu, 20 tahun lagi kita belum merdeka.  D i d a l a m  Indonesia Merdeka itulah kita menyehatkan rakyat kita, walaupun misalnya tidak dengan kinine, tetapi kita kerahkan segenap masyarakat kita untuk menghilangkan penyakit malaria dengan menanam ketepeng kerbau.  D i  d a l a m Indonesia Merdeka kita melatih pemuda kita agar supaya menjadi kuat, d i d a l a m Indonesia Merdeka kita menyehatkan rakyat sebaik-baiknya. Inilah maksud saya dengan perkataan „jembatan“. Di seberang jembatan, j e m b a t a n  e m a s, inilah, baru kita l e l u a s a menyusun masyarakat Indonesia merdeka yang gagah, kuat, sehat, kekal dan abadi.  Tuan-tuan sekalian!  Kita sekarang menghadapi satu saat yang maha penting. Tidakkah kita mengetahui, sebagaimana telah diutarakan oleh berpuluh-puluh pembicara, bahwa sebenarnya internationalrecht, hukum internasional, menggampangkan pekerjaan kita?

Untuk menyusun, mengadakan, mengakui satu negara yang merdeka, tidak diadakan syarat yang neko-neko, yang menjelimet, tidak!. Syaratnya sekedar bumi, rakyat, pemerintah yang teguh! Ini sudah cukup untuk internationalrecht. Cukup, saudara-saudara. Asal ada buminya, ada rakyatnya, ada pemerintahnya, kemudian diakui oleh salah satu negara yang lain, yang merdeka, inilah yang sudah bernama: merdeka. Tidak peduli rakyat dapat baca atau tidak, tidak peduli rakyat hebat ekonominya atau tidak, tidak peduli rakyat bodoh atau pintar, asal menurut hukum internasional mempunyai syarat-syarat suatu negara merdeka, yaitu ada rakyatnya, ada buminya dan ada pemerintahnya,  – sudahlah ia merdeka.

Janganlah kita gentar, zwaarwichtig, lantas mau menyelesaikan lebih dulu 1001 soal yang bukan-bukan! Sekali lagi saya bertanya: Mau merdeka apa tidak? Mau merdeka atau tidak?   (Jawab hadlirin:  Mau!)  Saudara-saudara! Sesudah saya bicarakan tentang hal „merdeka“,maka sekarang saya bicarakan tentang hal d a s a r.  Paduka tuan Ketua yang mulia! Saya mengerti apakah yang paduka tuan Ketua kehendaki! Paduka tuan Ketua minta  d a s a r , minta

p h i l o s o p h i s c h e  g r o n d s l a g ,  atau,  jikalau kita boleh memakai perkataan yang muluk-muluk, Paduka tuan Ketua yang mulia meminta suatu „Weltanschauung“, diatas mana kita mendirikan negara Indonesia itu.

 

Kita melihat dalam dunia ini, bahwa banyak negeri-negeri yang merdeka, dan banyak diantara negeri-negeri yang merdeka itu berdiri di atas suatu „Weltanschauung“. Hitler mendirikan Jermania di atas

„national-sozialistische Weltanschauung“,    filsafat nasional sosialisme telah menjadi dasar negara Jermania yang didirikan oleh Adolf Hitler itu. Lenin mendirikan negara Soviet diatas satu „Weltanschauung“, yaitu Marxistische, Historisch- materialistische Weltanschaung. Nippon mendirikan negara negara dai Nippon di atas satu „Weltanschauung“, yaitu yang dinamakan

„Tennoo Koodoo Seishin“. Diatas „Tennoo Koodoo Seishin“ inilah negara dai Nippon didirikan. Saudi Arabia, Ibn Saud, mendirikan negara Arabia di atas satu „Weltanschauung“, bahkan diatas satu dasar agama, yaitu Islam. Demikian itulah yang diminta oleh paduka tuan Ketua yang mulia: Apakah „Weltanschauung“ kita, jikalau kita hendak mendirikan Indonesia yang merdeka?

 

Tuan-tuan sekalian, „Weltanschauung“ ini sudah lama harus kita bulatkan di dalam hati kita dan di dalam pikiran kita, sebelum Indonesia Merdeka datang. Idealis-idealis di seluruh dunia bekerja mati-matian untuk mengadakan bermacam-macam „Weltanschauung“, bekerja mati-matian untuk me“realiteitkan „Weltanschauung“ mereka itu. Maka oleh karena itu, sebenarnya tidak benar perkataan anggota yang terhormat Abikusno, bila beliau berkata, bahwa banyak sekali negara-negara merdeka didirikan dengan isi seadanya saja, menurut keadaan, Tidak! Sebab misalnya, walaupun menurut perkataan John Reed: „Soviet-Rusia didirikan didalam 10 hari oleh Lenin c.s.“, – John Reed, di dalam kitabnya: „Ten days that shook the world“, „sepuluh hari yang menggoncangkan dunia“ -, walaupun Lenin mendirikan Soviet-Rusia di dalam 10 hari, tetapi „Weltanschauung“nya, dan di dalam 10 hari itu hanya sekedar direbut kekuasaan, dan ditempatkan negara baru itu diatas „Weltanschauung yang sudah ada. Dari 1895 „Weltanschauung“ itu telah disusun. Bahkan dalam revolutie 1905,Weltanschauung itu „dicobakan“, di „generale-repetitie-kan“.

Lenin di dalam revolusi tahun 1905 telah mengerjakan apa yang dikatakan oleh beliau sendiri „generale-repetitie“ dari pada revolusi tahun 1917. Sudah lama sebelum 1917, „Weltanschaung“ itu disedia-sediakan, bahkan diikhtiar-ikhtiarkan. Kemudian, hanya dalam 10 hari, sebagai dikatakan oleh John Reed, hanya dalam 10 hari itulah didirikan negara baru, direbut kekuasaan, ditaruhkan kekuasaan itu di atas „Weltanschauung“ yang telah berpuluh-puluh tahun umurnya itu. Tidakkah  pula Hitler demikian?

Di dalam tahun 1933 Hitler menaiki singgasana kekuasaan, mendirikan negara Jermania di atas National-sozialistische Weltanschauung.  Tetapi kapankah Hitler mulai menyediakan dia punya „Weltanschauung“ itu? Bukan di dalam tahun 1933, tetapi di dalam tahun 1921 dan 1922  beliau telah bekerja, kemudian mengikhtiarkan pula,  agar supaya Naziisme ini, „Weltanschauung

ini,  dapat menjelma dengan dia punya „Munchener Putsch“, tetapi gagal. Di dalam 1933 barulah datang saatnya yang beliau dapat merebut kekuasaan, dan negara diletakkan oleh beliau di atas dasar „Weltanschauung“ yang telah dipropagandakan berpuluh-puluh tahun itu.

Maka demikian pula, jika kita hendak mendirikan negara Indonesia Merdeka, Paduka tuan ketua, timbullah pertanyaan: Apakah „Weltanschauung“ kita, untuk mendirikan negara Indonesia Merdeka diatasnya? Apakah nasional-sosialisme? Apakah historisch-materialisme? Apakah San Min Chu I, sebagai dikatakan doktor Sun Yat Sen?

Di dalam  tahun 1912 Sun Yat Sen mendirikan negara Tiongkok merdeka,  tetapi „Weltanschauung“nya telah dalam tahun 1885, kalau saya tidak salah, dipikirkan, dirancangkan. Di dalam buku „The three people“s principles“ San Min Chu I,  – Mintsu, Minchuan, Min Sheng,    nasionalisme, demokrasi, sosialisme,-  telah digambarkan oleh doktor Sun Yat Sen Weltanschauung itu, tetapi baru dalam tahun 1912 beliau mendirikan negara baru diatas „Weltanschauung“ San Min Chu I itu, yang  telah disediakan terdahulu berpuluh-puluh tahun.

Kita hendak mendirikan negara Indonesia merdeka di atas „Weltanschauung apa? Nasional-sosialisme-kah, Marxisme-kah, San Min Chu I-kah, atau „Weltanschauung’ apakah?

Saudara-saudara sekalian, kita telah bersidang tiga hari lamanya, banyak pikiran telah dikemukakan,  – macam-macam – , tetapi alangkah benarnya perkataan dr Soekiman, perkataan Ki Bagoes Hadikoesoemo, bahwa kita harus mencari persetujuan, mencari persetujuan faham. Kita bersama-sama mencari p e r s a t u a n  p h i l o s o p h i s c h e   g r o n d s l a g , mencari satu „Weltanschauung“ yang  k i t a  s e m u a  setuju. Saya katakan lagi  s e t u j u ! Yang saudara Yamin setujui, yang Ki Bagoes setujui, yang Ki

Hajar setujui, yang sdr. Sanoesi setujui, yang sdr. Abikoesno setujui, yang sdr. Lim Koen Hian setujui, pendeknya kita semua mencari satu modus. Tuan Yamin, ini bukan compromis, tetapi kita bersama-sama mencari satu hal yang kita  b e r s a m a – s a m a  setujui. Apakah itu? Pertama-tama, saudara-saudara, saya bertanya: Apakah kita hendak mendirikan Indonesia merdeka untuk sesuatu orang, untuk sesuatu golongan? Mendirikan negara Indonesia merdeka yang namanya saja Indonesia Merdeka, tetapi sebenarnya hanya untuk mengagungkan satu orang, untuk memberi kekuasaan kepada satu golongan yang kaya, untuk memberi kekuasaan pada satu golongan bangsawan?

Apakah maksud kita begitu? Sudah tentu tidak! Baik saudara-saudara yang bernama kaum kebangsaan yang disini, maupun saudara-saudara yang dinamakan kaum Islam, semuanya telah mufakat, bahwa bukan yang demikian itulah kita punya tujuan. Kita hendak mendirikan suatu negara „semua buat semua“. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya,     tetapi „semua buat semua“. Inilah salah satu dasar pikiran yang nanti akan saya kupas lagi. Maka, yang selalu mendengung di dalam saya punya jiwa, bukan saja di dalam beberapa hari di dalam sidang Dokurutu Zyunbi Tyoosakai ini, akan tetapi sejak tahun 1918, 25 tahun yang lebih, ialah: Dasar pertama, yang baik dijadikan dasar buat negara Indonesia, ialah dasar  k e b a n g s a a n. (Habis)

3 Tanggapan to "PIDATO SOEKARNO: LAHIRNYA PANCA SILA (3)"

soekarno pda mulanya muncul sebagi salah satu pionir kemerdekaan indonesi, tapi sangat irono nasibna kertka ia mulai “menyimpang” dengan itu ia menghabiskan mas terakhir hidupnya di dalam penjara, tidak boleh bergerak ,,, siapa yang salah ,,

perlakuan yang tidak sesuisa bagi founding father,,/

soekarno adlah manusia kerdil yang menggerogoti masa2 besar,,

tp jasa soekarno tidak bisa terlpakan .

beginilah kalau memimpin denagn melupakan batsan keimanan,, osekarno soeharto,, kesalah kalian akan dibalas denagan balasan yang setimpal di di akjiat kelak..

pengadilan dunia mudah untuk llolos..tp pengadilam di hari pembalasan tak satupun anusi lolos

jadi terinspirasi nieh, punya videonya g????

kalau ada yang punya kirimin ke saya yah!!!!!p l e a c e

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: