hujan deras

Pulang

Posted on: 20 November, 2007

:refleksi pada sebuah pintu lain menuju rumah

Ternyata tidak gampang untuk menemukan jalan pulang. Apalagi hujan yang turun semakin lebat saja. Sehingga jalanan yang biasa ku tapaki dengan kaki telanjang, terasa berkelit, licin dan suram.
Padahal, kompas dan peta yang ada di tanganku telah menunjukkan pada arah yang sebenarnya.

Tapi semakin terasa ambigu, ketika akhirnya ku tanyakan padamu. Tentang arah menuju kampung halamanku
Tempat kelahiran, tempat aku berlari dengan telanjang
“Jalan ini bukan jalan menuju ke alamat yang kau tuju. Maaf, sebaiknya tuan ambil jalan alternatif saja. Banjir telah membuat jalan ini macet, sesak oleh orang-orang seperti tuan, orang-orang yang mengaku punya kampung halaman” katamu, sambil menutup pintu gerbang, pembatas ingatan dan igauan.

Aku berdiri di luar, ragu. Rasanya ingin kuterobos saja penghalang yang ada di depanku. Sebelum nantinya kau mengusir ingatan dan igauan yang ada di kepalaku

“Maaf atas kekurang ajaran saya. Semoga dapat dimengerti
sudah dua tahun pikiran saya gamang, dan selalu teringat untuk pulang. Ibu, bapak, dan saudara sudah memberi isyarat dalam mimpi, bahwa saya harus pulang juga malam ini” dan kau ku bekap, ku sekap rapi di lain sisi sebuah mimpi.
“Percayalah, kau akan tersesat, hujan yang turun terlalu lebat. Kau tak akan bisa melihat kecuali antrean sekumpulan orang gila, yang ngotot dan tetap percaya  pada apa yang ada di otaknya.
: rumah, keluarga…

“Ah… persetan. Bukan urusan kau!. Aku sudah terlalu sering tertipu orang-orang seperti kau. Sudah sering pula aku mendengar nasihat seperti itu tahu. Sejauh ini aku Cuma berputar-putar, bingung. Tak percaya pada naluri sendiri. Tak juga sampai ke tujuanku.

“Kau menyesal, pasti menyesal…” kutukmu
B I A R I N !!!

Lantas antrian manusia di tengah derasnya huajn semakin bertambah panjang.
Sesak… panas
Hujan semakin lebat, semakin licin, semakin suram.

Aku mengeluh, di tengah antrean orang-orang yang juga ingin pulang
Aku tak kuat. Aku kedinginan. Antrean ini tidak bergerak sedikit pun! Malah semakin panjang saja.

Aku teriak.. AKHHH!!!

“Beruntung kau” katamu.

Aku bermimpi malam tadi. Ibu, bapak, saudara-saudaraku berdiri di halaman rumah.
Aku berlari menyongsong mereka dengan telanjang, tanpa tas, kopor dan buah tangan

Nun di sebuah gerbang pembatas ingatan dan igauan
“Kasihan kau” katamu
Aku menangis. Kompas dan peta telah ku hancurkan semuanya.
Sekarang aku tak memerlukanya.
Sekarang aku tak memerlukan jalan ini
Sekarang aku tak memerlukan rumahku lagi

Aku berteriak sepanjang jalan, sepanjang malam

“Sttt… berisik” bisikmu
“Tidurlah lagi, nanti bila kau sudah sampai di depan pintu gerbang, akan ku bangunkan” katamu, sambil membelai pipiku.

Tapi, tentu saja, setelah gerbang pembatas ini kita lalui

Dan mimpi terus menayangkan padaku,
Tentang jalan yang becek, antrean yang panjang, ibu, bapak, saudara, kampung halaman, gerbang, gerbang dan G E R B A N G…….
Mimpi terus saja berputar, berulang-ulang…kembali
Sampai pada akhirnya, aku lelah bermimpi.

(Hujan, PdKp 1 Syawal 1424)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: