hujan deras

Suatu Pagi

Posted on: 19 November, 2007

suatu pagi

aku melihat bangkai manusia
kata emak itu bangkai kucing

enam pagi baunya nyengat sekali terbawa angin dan lelehan embun
air kali yang busuk, menambah bau busuk

bangkai itu begitu manis, dari posenya mengatakan itu
“stt, diam! aku sedang terlelap bermimpi”

menjelang siang, baunya sudah terbawa buruh-buruh pabrik, abang-abang ojek, pedagang-pedagang kakilima yang mangkal tak jauh dari onggokan benda aneh itu

tengah malam aku masih penasaran pada benda besar yang beraroma busuk itu

“mak, itu seperti mayat manusia!” kataku
“bukan, itu mayat anjing”

hari menjelang tiga pagi.
“Rahman, pemuda berbadan tegap yang kita kenal sebagai dayah* mati di tembak kemarin pagi”

esok harinya
benda bau itu masih tersangkut di kayu yang merentang di atas kali di belakang rumah kami

“mak itu bangkai manusia”
tapi emak bilang, “bukan, itu bangkai Rahman”

–AK, 6 Agust 04

*aneuk dayah : santri (Aceh)

1 Response to "Suatu Pagi"

“Ketika Semua Nyata”

Ribuan tapak memenuhi kota,
debu beradu di bawah terik kesiangan…
Arak-arakan wajah kelaparan
terlukis jelas di lelangitan,
hingga peluh mengadu riuh
bersama sesuap nasi di pinggir senja…

Hampir malam, satu per satu
wajahnya sembunyi di tirai kelelahan,
membentuk surga kecil dari mereka
yang meminta-minta…

Dwi Rastafara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,087 hits
%d blogger menyukai ini: