hujan deras

Gelanggang Kita

Posted on: 18 November, 2007

;kepada Ch. Anwar

Bung, gelanggang sudah terbentang di depan kita
Sudah merapat cemara yang kau bilang telah menderai jauh.

Bung, aku mau bertanya padamu seperti yang kau pernah tanyakan pada Bung Karno.
Aku, butuh tanganmu untuk dikepalkan menjadi tinju.
Sekarang, gelanggang begitu dekat dan jendela benar-benar menyerahkanya pada dunia.

Bung kita tidak perlu bercerai, tak perlu menunggu kicau murai menderai. Tak perlu menyeru dan di udara mati beku.
Kau dan aku satu hantu
Ajal yang akan selalu mengingatkan, dan kita mati berpalingan

Gelanggang terbakar gemuruh kemudaanmu
Semua terperangah, sehingga ini ruang tempat kalian berperang benar-benar menyala dalam dada. Binasa-membinasa

Aku tidak berkaca dalam gelanggangmu. Karena aku tak pernah mau pergi ke pesta. Bagiku, wajah siapa pun yang muncul dalam gelanggangmu, adalah wajah-wajah pengembara asing yang sama sekali asing. Dan justru itu aku tahu, kau tak mau berbagi bahkan dengan cermin!

Gelanggangmu, telah mengurungku, mengurung kemudaanku. Bung…
Biar ku sampaikan kata-katamu yang sempat terputus waktu,
“ aku tidak hilang, aku tidak remuk, aku tidak menanti, aku meringkih dalam sunyi, aku terbang, aku binatang jalang, aku terpanggang tinggal rangka,aku sepi,
datar-lebar tidak bertepi. Aku hidup seribu tahun lagi”

(Hujan, Pd.kp. 8 Juli 04)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: