hujan deras

Berapa Harga Sejengkal Tanah?

Posted on: 17 November, 2007

Satu lagi cerpen saya dimuat RUMAH KACA
ranah sastra Rakyat Merdeka Online

Rabu, 14 November 2007, 08:33:25 WIB

LANGIT teja. Dengan letih Saiman bersiap merapihkan cangkul dan aritnya. “Sudahlah, cukup sudah rayuanmu Mat,” ujar Saiman sambil mendudukkan pantatnya di atas sawung bambu reot.
“Aku tidak sedang merayumu. Siapa pula yang sudi merayumu kawan? Aku cuma memberikan pandangan lain soal desa kita,” balas Rahmat.

Angin yang semilir bertiup dari lembah kaki bukit Halimun, menerpa wajah kuyu Saiman. Suara kodok dan jangkrik mulai menggema di persawahan.

“Kalau kau punya pandangan seperti itu, ya sudah. Aku tetap tak akan mengikuti pandanganmu.” seru Saiman sambil membersihkan aritnya. Rahmat menghela nafas panjang. Baginya, diantara sekian banyak warga desa, hanya temannya inilah yang sulit diyakinkan.

“Petani pasti mati. Dan itu sudah digariskan. Tak ada yang bakal bertahan. Termasuk desa kita.” sambung Rahmat sambil menyalakan sebatang rokok.
“Entahlah, mungkin betul dengan apa yang kau bilang. Tapi aku tetap tak mau menjual tanahku. Aku petani, dilahirkan sebagai petani. Mati pun harus sebagai petani,” ujar Saiman.

Rahmat melempar pandang ke arah mobil mewahnya yang parkir di pinggir jalan sana.
“Man, duapuluh tahun yang lalu, desa ini begitu asri. Kau ingat?

Saiman mengangguk, sambil terus memandangi aritnya.

“Tapi itu duapuluh tahun yang lalu. Aku pun bangga menjadi petani. Aku juga yakin, mulai dari gembel hingga presiden semuanya makan padi yang telah kita tanam. Tapi itu duapuluh tahun yang lalu,” ujar Rahmat. Saiman masih diam, menunggu Rahmat mengeluarkan jurusnya yang paling maut. “sekarang ceritanya sudah lain, petani sepertimu pun tidak memakan padi yang kau tanam sendiri. Buat apa kau bertani sejak pukul enam pagi, kalau kau tak makan buah keringatmu sendiri?”

“Tentulah, selagi masih ada orang-orang sepertimu, hal itu bisa saja terjadi,” balas Saiman menahan marah. Rahmat diam. Saiman juga diam. Perlahan ingatan lelaki paruh baya itu mengambang pada saat-saat bersama Rahmat, dua puluh tahun yang lalu.

“Kita sudah tak bertemu lagi agaknya Mat. Kau terlalu pintar sekarang. Sampai-sampai aku tak bisa menerjemahkan mimpimu tentang masa depan desa ini di kepalaku.”
“Rupanya kau belum mengerti juga kawanku. Coba kau ingat nasib Wak Kandang. Begitu bodohnya dia menjaga tanahnya. Dia pikir, dia sudah menjadi petani yang baik. Padahal, awalnya kerbaunya yang dijual, tapi lama-lama sepetak demi sepetak tanahnya tergadai. Sekarang apapun tak ada yang bisa dibanggakannya.”

Ingatan Saiman mengembang pada Wak Kandang. Hampir tigapuluh tahun yang lalu dia pernah menjadi buruh tani di tanah Wak Kandang. Ketika itu, Saiman muda giat sekali bekerja, makan sekali sehari. Apapun dilakukan Saiman demi sejengkal tanah suatu hari kelak. Sementara orang tua Rahmat lebih mau menjual tanah demi sekolah anaknya ke Jakarta.

“Wak Kandang orang baik, hanya dia kurang menghitung.” ujar Saiman
“Betul itu. Dia orang baik. Suka menolong petani yang lain. Bila ada bibit padinya yang lebih, dia tak sungkan untuk membaginya. Tapi dia terlalu baik. Sehingga sampai mati pun dia tak memiliki apa-apa.”
“Begitulah seharusnya petani. Susah sama ditanggung, senang sama dirasa” balas Saiman. Rahmat mencibir. “Petani sekarang beda dengan petani yang dulu.”
“Petani sekarang lebih mau menjual padinya dan memakan kutu padi,” sambung Saiman.
“Itu memang pasti terjadi. Itulah yang sedang aku pikirkan.” balas Rahmat sambil memandang tajam ke arah Saiman. Langit makin hitam.
“Suatu hari kelak, mau tak mau desa ini akan bergerak. Kampung menjadi desa, desa menjadi kota. Petani menjadi buruh.” ujar Rahmat. Saiman menyeringai.

“Bagaimana kehidupanmu setelah desa ini benar-benar berubah?” tanya Rahmat. Saiman menggeleng. “Semoga aku sudah mati saat itu.” jawab Saiman.
“Dan anak serta cucumu?”
“Aku tak tahu. Semoga saja tanahku bisa berkembang dan bertambah semeter lagi,” harap Saiman.

Rahmat menahan tawa. “Man, untuk bertani, rasa-rasanya tidak mungkin tanahmu bertambah semeter. Kau tak memandang bahwa warga telah beranak pinak dan berkembang? Bagaimana dengan pendatang yang membuka hutan dan berhuma? Mendirikan bangunan baru dan menciptakan teknologi baru? Bagaimana dengan anak-anak kita yang sekarang merantau? Suatu hari kelak mereka pulang ke sini dan mendirikan rumah pula. Tidak bisa tidak, tanahmu ini juga akan terjual. Dan sampai saat itu, apa yang akan kau olah? Tanah? Mengubah lumpur menjadi keperluan dapur? Mustahil Saiman. Mustahil” ujar Rahmat sambil duduk di sebelah Saiman.

“Setelah semuanya berubah, kita tak lagi makan beras. Itu yang harus kau mengerti. Apa guna bertanam, jika berasnya tak pernah kau nikmati? Apa guna setiap pagi kau mandi lumpur sementara warga tak lagi makan nasi?”
“Kau jangan main-main Rahmat, tak kau ingat, negara ini tak ada apa-apanya jika tak ada orang seperti aku?”
“Tapi kau tak ingat negara juga rugi karena ada orang seperti kau?” sergah Rahmat memotong Saiman.
“Apa Maksudmu?”
“Tak kau tahu, bagaimana pemerintah terus berupaya membantu pengadaan bibit hingga pestisida yang kau butuhkan?” Saiman menggeleng. Angin semakin santer menusuk kulitnya.
“Untukmu, pemerintah telah berupaya menyisihkan anggaran negara agar harga kebutuhanmu bisa murah. Aku percaya pada keuletanmu Saiman. Tapi petani lain? Berapa keuntungan dari hasil yang ditanam? Sungguh bukan harga yang sesuai. Sampai sekarang, negara masih tetap membeli beras dari luar negeri. Kau tak tahu ‘kan? Wajar saja, harimu kau habiskan untuk tanahmu ini,” ujar Rahmat sambil menyodorkan kotak rokoknya.

Udara semakin lembab. Meski tak selembab udara duapuluh tahun yang lalu. “Apa yang harus aku lakukan Mat? Aku sudah tua, bodoh pula.” ujar Saiman sambil mengambil sebatang rokok yang disodorkan Rahmat.

“Iya, kita berdua sudah tua Saiman. Aku dan kau sudah melewati masa-masa itu.” kata Rahmat sambil menyorongkan pemantik api kepada Saiman. “Sekarang, sebagai temanmu, aku hanya menyarankan dan aku ingin kau menikmati hari tuamu.”
“Bagaimana bisa? aku tak punya anak yang rajin dan mau merawat tanah yang telah susah payah kubeli. Agaknya mereka lebih suka menjadi buruh di pabrik sohun.” ujar Saiman. Ditariknya nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkan asap tembakau. Di langit bulan menjuntai mengganti matahari.
“Itulah. Maka dari itu, sekarang kau alih profesi saja. Kau bisa menjual tanahmu dan menggantikannya dengan mobil boks misalnya. Dengan begitu, kau tak perlu susah payah bermandi lumpur. Dengan mobil itu kau bisa membawa barang dari kota ke desa. Kau tetap bisa hidup.”

“Apa yang kubawa dari kota?” tanya Saiman.
“Apa saja, demi kemajuan desa ini.”
“Kenapa bukan kau saja?”
“Aku? Tidak mungkin, aku tak mungkin membeli sebuah mobil boks lagi. Sekarang aku menabung agar bisa membeli pabrik sohun tempat anakmu bekerja,”
“Hah? Membeli pabrik?”
“Kalau kau mau, setelah kau menjual tanahmu, kau bisa bekerja padaku nanti.” Kata Rahmat meyakinkan.
“Bekerja padamu?”tanya Saiman. Rahmat mengangguk.

Saiman mulai mempertimbangkan usulan Rahmat. Dia sadar betul dengan kebiasaan Rahmat yang sejak muda suka membual. Tapi kali ini dia merasakan bahwa ada yang benar di balik kata-kata Rahmat. Sejak Rahmat pulang dari Jakarta lima tahun yang lalu dan mendirikan rumah produksi, memang banyak pemuda desa yang dijadikan pekerja.

“Tapi aku tetap tak akan menjual tanahku. Meski kau tak lagi makan beras dari padi yang kami tanam, tapi aku percaya, di sana, masih ada yang mau makan berasku,” ujar Saiman sambil bangkit dari sawung.
“Rupanya kau masih percaya dengan dongeng petani adalah tiang negara. Baiklah, aku mau lihat sejauh mana ketabahanmu menjadi petani. Semoga kau bukan Wak Kandang yang baru.” sambar Rahmat ikut bangkit.

“Mat, kau boleh lihat, sejengkal pun, tanahku tak akan berkurang. Malahan akan bertambah dan bertambah terus.” ketus Saiman.
“Iya, tentu aku akan lihat, bagaimana nasib tanahmu. Aku akan lihat seberapa produktifnya kau di usia senja, aku akan melihat apa yang akan dimakan warga desa ini lima tahun lagi. Semoga aku panjang umur untuk melihat semua itu, Man,” jawab Rahmat.
“Kau kacang yang lupa kulitnya,”
“Aku tak lupa, aku tak pernah lupa dengan masa-masa itu. tapi aku berniat merubahnya Man.”
“Kau tak merubahnya, kau merusaknya. Kau merusak desa kita. Apa yang telah kau buat? Kau pikir kau telah berjasa dengan memberikan lapangan kerja bagi pemuda sini? Tak kau lihat efek sampingnya pada mereka? Dengan bualanmu, sesungguhnya mereka telah tumbuh menjadi pemimpi. Mereka harus menjual tanahnya dan menjadi pekerja di pabrikmu. Kau lah yang tak pernah memberikan sumbangan apapun kepada desa kita. Kau terlalu sibuk dengan isi bualanmu.”

“Aku tak membual. Itu kenyataan. Mereka masih muda. Mereka lah yang akan merasakan masa depan. Kita sudah selesai Man. Sudah tamat. Kita tinggal masuk ke dalam tanah. Dikubur. Hanya soal waktu saja. Kita sama-sama menunggu. Tapi mereka, mereka punya kesempatan untuk menjadi manusia baru, manusia yang modern, manusia yang bisa pergi ke mana pun tanpa harus menunggu pinjaman sepeda butut milik Wak Kandang.”

Saiman diam. Kenangan masa lalu kembali. Dia kembali merasakan sakitnya hidup bersama Rahmat, ketika harus berjalan kaki lima jam untuk keluar dari desa di bawah kaki bukit Halimun.

“Tapi aku tetap saja tak suka caramu yang mendukung penggusuran pasar tradisional. Kau tak pernah berpikir, bagaimana nasib orang yang menggantungkan nasibnya di pasar itu selepas digusur? Kau mengijinkan agar semua kebutuhan tani dikurangi dan mulai bertanam dengan cara yang aneh. Cara yang kau bilang sebagai petani modern? Bah, setahuku, kotoran kerbau lebih baik daripada tumpahan solar.” kata Saiman sambil membuang puntung rokoknya ke pematang.

“Orang seperti kau memang tak mudah memahami maksud dari perbuatanku. Tapi tak apalah. Kau punya keyakinan dan aku juga punya jalan sendiri untuk memajukan desa ini.” ujar Rahmat.
“Petani lebih dibutuhkan di sini daripada pemimpi sepertimu,” sambung Saiman sambil menyambar peralatannya dan beranjak pergi meninggalkan Rahmat.
“Kaulah yang pemimpi Man. Kau pikir orang sepertimu akan bertahan di desa ini? Kau pasti akan datang padaku suatu hari nanti. Aku berani bertaruh!” teriak Rahmat kepada Saiman yang telah hilang ditelan malam.

****
Di rumahnya, Saiman tak bisa pulas. Sementara subuh hampir mampir di desa kami yang perlahan tak perawan lagi. Dengan langkah tergopoh Saiman bangkit dari ranjangnya dan siap berwudhu. Di depan pintu kamar, kata-kata Rahmat masih terngiang. “Petani adalah beban negara. Petani adalah beban negara.” Itulah kalimat Rahmat yang Saiman mengerti.

Tiba-tiba saja seluruh lembaran hidupnya membentang di depan pandangan Saiman. Dia melihat dirinya yang terjatuh saat menggiring kerbau Wak Kandang. Dia melihat mahasiswa-mahasiswa yang pulang ke desa dengan senyum kemenangan. Dia melihat tanahnya yang subur bertambah sepetak lagi, dia melihat anak-anaknya yang memilih menjadi buruh pabrik daripada petani. Dia melihat desanya berkembang. Dia melihat semua petani menjual tanahnya. Dia melihat semua warga tak lagi makan beras tapi makan roti yang diimport dari luar negeri. Dia melihat bangunan-bangunan baru berdiri di atas lantakan persawahan. Dia melihat tanahnya digarap orang asing. Dia melihat Rahmat membeli pabrik sohun. Dia melihat…rabu.

Azan subuh mengumandang dari surau yang tak jauh dari rumah Saiman. Sekarang Saiman tak melihat apa-apa lagi.

****
Pukul enam pagi rumah Saiman sudah didatangi warga. Tenda biru berdiri, kursi-kursi sudah tertata rapi. Di salah satu kursi duduk Rahmat. Berkemeja putih, celana jeans serta peci hitam bertengger di kepalanya. Di sebelahnya duduk Bondan, anak tertua Saiman. Dengan mata sembab ditundukkannya wajahnya ke bawah.

Tak lama suara ringtone handphone milik Rahmat berbunyi. Bondan tersentak. Dengan cepat Rahmat merogoh saku kemejanya dan membalas suara orang di seberang sana. “Bilang pada penggali, pokoknya Almarhum harus dapat tempat yang mudah dikunjungi keluarga. Jangan terlalu ke tangah, jang terlalu dekat dengan gerbang masuk.” ujar Rahmat. Bondan yang duduk di samping, mendengarkan Rahmat dengan seksama. Namun tidak demikian dengan Saiman. (Hujan, djenar_saja@ yahoo.com)

Sukabumi, 10 November 2007

1 Response to "Berapa Harga Sejengkal Tanah?"

pmerataan pembangunan nasional…..itukah yg sbenarnya ingin “mreka” sukseskan???
ah, aku tak mngerti dengan politik…aku hanya mrasa ada sesuatu -entah..apalah itu- ktika “bogor lakesite” itu bgitu dibanggakan…..tak taukah “mreka” atau memang tak mau tau???? aarrrghhhhh slalu saja sperti sbelumnya…aku tak mampu berbuat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: