hujan deras

Berguru dengan Nonton Film Gestapu=Ditipu

Posted on: 29 September, 2007

Pada waktu duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar, saya pergi ke bioskop H di Kota M. Kurang lebih tahun 1994 peristiwa itu berlangsung. Dengan uang senilai Rp 250 yang diwajibkan pihak sekolah, saya pun akhirnya berangkat juga ke bioskop bersama teman-teman lainnya. Sebab ketika itu memang ada kewajiban dari sekolah inpres negera untuk menonton film-film perjuangan. Dengan dalih menambah sifat kebangsaan dan bela bangsa.

Saya ingat betul masa itu. Ketika pada akhirnya saya dan teman-teman saya dengan bimbingan guru wali kelas memasuki bioskop. Penghianatan G-30/S-PKI. Demikian judul film yang akan tayang pada siang itu. Sebenarnya film itu  bisa dinikmati dengan gratis di rumah. Pasalnya, film ‘perjuangan’ itu memang diputar di TVRI setiap tanggal 30 September malam. Sebelumnya saya memang tak pernah menonton film itu, sebab larangan dari orang tua waktu itu, serta saya memang tak mau ambil pusing dengan film genre seperti itu. Maka begitu ada kesempatan untuk menonton bersama dengan teman-teman kelas, dengan bimbingan guru wali, saya bisa juga menonton film itu.

Betul film itu ditonton oleh bocah seusia saya kala itu. Kelas tiga SD. Tak tahu apa-apa soal PKI, parahnya lagi, seusia itu saya tak tahu menahu soal keadaan yang sebenarnya di tahun 1965.

Anehnya, meski di tahun 1994 sudah ada lembaga sensor, kok film yang mengumbar kekerasan itu malah diwajibkan untuk ditonton. Tapi saya tak bertanya waktu itu. Sebab seingat saya lagi, selepas nonton film itu saya jadi selalu menunggu film itu diputar di TVRI. Setiap akhir bulan September film itu pasti tayang.

Awalnya meski dilarang orang tua untuk menonton film itu, bahkan saya ingat pernah sekali waktu, pada tanggal 30 Septmber ketika film itu diputar lagi, tv di rumah saya sengaja dimatikan. Tak hilang akal, saya pergi ke rumah tetanga untuk menonton kekejaman yang dilakukan pasukan Cakrabirawa itu.

Pelan-pelan, yah, pelan-pelan film itu sudah merusak jiwa saya. Saya jadi selalu takut dengan kata ‘PKI’. Saya selalu ngeri ketika orang menyebut-sebut ‘BTI’ atau ‘Gerwani’, ‘DN Aidit’, “Kolonel Untung’ dan beberapa tokoh PKI. Atau yang paling parah, saya jadi merinding setiap kali tanggal 30 September mampir dalam hidup saya. Tapi sebaliknya, saya jadi mengidolakan beberapa tokoh yang menjadi korban di film itu.

Saya jadi senang dengan dialog tokoh anak kecil dan neneknya yang setiap malam menggelandang di kota Jakarta. Saya benar-benar merindukan film itu, untuk saya tonton lagi di tahun depan, terlebih saya sangat menantikan adegan pembantaian, penyiksaaan serta penumpasan.

Perang, aksien, dan itu tayangan yang paling digemari oleh saya yang ketika itu beranjak remaja. Terlepas, bahwa ternyata ada pesan yang disisipkan di film itu: BENCI PKI SEJAK USIA DINI!

Terakhir, saya bisa menikmati film besutan Arifin C Noer itu di tahun 1997. Tahun ketika ekonomi di keluarga saya sudah carut marut. Kabarnya ini semua ada hubungannya dengan kegagalan pemerintah Soeharto mengendalikan kontrol publik yakni media. Betul, kabar itu langsung saya rasakan sejak di Indonesia memiliki lebih dari satu stasiun televisi. Stasiun televisi di luar TVRI sibuk menayangkan harga dolar yang membanting rupiah. Minyak tanah yang naik. Demo mahasiswa di Jakarta yang tak henti-hentinya. Semakin gencar media menghajar penguasa Orba itu, semakin dahsyat pula guncangan ekonomi yang dirasakan keluarga saya.

Ujung-ujungnya di bulan Mei 1998, Soeharto jatuh juga. Lagi-lagi, kabarnya, mahasiswa yang menjatuhkan Soeharto. Begitulah, bulan Mei berlalu, hingga bulan September. Namun agaknya ada yang ikut berubah paska-kejatuhan Soeharto. Di  bulan September 1998 saya jadi tak bisa menikmati film kegemaran saya. Ada yang hilang di balik perubahan. Itu betul. Dan sampai saat ini film itu tak berani lagi memunculkan batang hidungnya di tengah 220 juta rakyat Indonesia.

Harus Ada yang Bertanggung Jawab
Pada masa kekuasaan kelompok Bolshevik di Soviet, sekelompok seniman, cendekiawan muda serta media menjadi alat yang riil untuk memojokkan dan menelanjangi kebejatan Istana Romanov. Demikian pula ketika Hitler dan partai Nazinya berkuasa di Jerman, seluruh media dan orang-orang yang bertentangan dengan kebijakan pemerintah ketika itu habis dimusnahkan.

Setelah itu, Bolshevik dan Hitler sama-sama memulai manipulasi sejarah dengan cara membentuk opini rakyatnya lewat sejumlah doktrinasi negara yang lebih kuat daripada dogma agama. Luar Biasa! Dan modus itu diterapkan juga di setiap masa, di setiap tempat.

“Demi kelangsungan peradaban” demikianlah alasan yang kerap dilontarkan penghianat-penghianat peradaban.
Dan Soeharto juga memakai cara ini untuk meneror sekelompok masyarakat agar takut padanya, melebihi takut pada sang Maha Penguasa.

Media, entah apapun bentuknya, serta doktrinasi-doktrinasi dalam bentuk apa juga adalah senjata ampuh untuk melanggengkan kekuasaan. Dengan tipu daya mereka menawarkan sebuah keadaan yang ilusif. Sebuah tatanan masyarakat yang dapat dipantau lewat sebuah remot kontrol.
Masyarakat dipaksa untuk seragam, agar mudah untuk mengetahui pembangkang. Demikianlah, sejarah berulang kembali. Tapi tak ada satu pun yang mau menyadari, atau jangan-jangan semua menyadari hanya saja membiarkan keadaan tetap seperti apa yang telah terjadi.

Paska-tahun 1998, warga Indonesia berubah. Tak lagi sopan dan ramah. Tak lagi penyabar dan welas asih. Entah kemana semua semangat holopis kuntul baris itu kabur. Tiba-tiba saja kita menjadi warga yang pobia, curiga dan agresif tentunya.

Apakah ada yang salah dari penerapan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila yang sejak kurun 32 tahun dipaksakan sebagai kurikulum? Mengapa paska-tahun 1998 kita tiba-tiba menjadi sekelompok orang yang brutal dan anarkis? Terlalu parah kah penindasan yang dilakukan negara selama ini? Sehingga kita perlu melampiaskannya kepada tetangga kita?

1 Response to "Berguru dengan Nonton Film Gestapu=Ditipu"

kata buku yang pernah saya baca dan sekarang lupa judul bukunya, bahwa para jenderal yang mati pada saat kejadian 30 S adalah para petinggi AD yang diperintahkan melakukan investigasi terhadap petinggi yang ada di jajaran Kodam Diponegoro, yang mana hasil dari investigasi tersebut mengakibatkan diberhentikannya Panglima Kodam Diponegoro dari jabatannya. Nah apakah ada hubungan antara hasil investigasi dengan kematian para petinggi AD tersebut, kiranya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: