hujan deras

Tamu Agung

Posted on: 18 Agustus, 2007

Sumber: www.myrmnews.com

RUMAH KACA
ranah sastra merdeka
Sabtu, 18 Agustus 2007, 21:35:49 WIB

Oleh: Hujan

“Tamu Agung itu sudah datang?” tanya Saiman dengan suara berat. Karto diam dan menggelengkan kepala. Mata lelaki tua itu sudah kuyu, lelah digiring waktu. Saiman bangkit dari dipan, berdiri menyongsong Karto yang duduk di depan pintu.

“Biar aku susul saja dia,” kata Saiman. Digulungnya sarung yang menjuntai diantara betisnya. Disambarnya sepasang sepatu lars yang tergantung di dinding gubug tempat mereka tinggal.

“Man, mau ke mana kau?” teriak Karto bergegas bangkit menahan Saiman.
“Menyusul,” sahut Saiman yang siap melangkah keluar dari pintu,”
“Kalau kau pergi, siapa temanku di sini?” tanya Karto.
“Kau sendiri saja di sini,”
“Bagaimana kalau kau tak kembali juga? Sama seperti teman-teman kita yang lain, yang telah lebih dulu menyusul Tamu Agung?”
“Aku pasti kembali, To,” sambung Saiman. “secepatnya, agar kita tak lagi lama menunggu,”
“Man, Kopral Saiman, kembali kau!” perintah Karto. Saiman melengos, sambil bergegas meninggalkan gubug mereka yang ada di tengah hutan, jauh dari perkampungan.

“Kalau kau tetap pergi, pergilah. Hati-hati, jangan sampai bertemu dengan bakero-bakero itu.” susul Karto ke depan pintu. Samar-samar dilihatnya Saiman berjalan membelah hutan, kemudian menghilang.

Hutan berubah menjadi huma, huma berubah menjadi kampung, kampung berubah menjadi pasar, pasar berubah menjadi kota, pohon ditebang, bangunan beton berkembang.

Saiman terus berjalan, meninggalkan hutan, meninggalkan Karto sendirian, menjaga markas yang telah didirikan pada masa kemerdekaan.

Dengan langkah yang berat, tubuh yang tak lagi sehat serta pendengaran yang tak akurat, Saiman berhasil menerabas pinggir hutan, bertemu satu-dua penduduk kampung. Saiman terus merayap, bergerilya, masuk keluar desa, seperti ketika di masa mudanya, dengan gagah dia menenteng senjata menjaga garis depan pertahanan.

“Mau kemana Pak Tua?” sapaku. Saiman terus melangkah, tak hirau teguranku. Lelaki renta bersepatu laras itu terus saja melaju, menyeret kakinya yang tinggal dibalut kulit, membawa badannya yang sudah menekuk limabelas derajat.

“Hei, Pak Tua, jangan lewat situ, itu tanah pemerintah!” aku memperingatkan dia. Saiman terus melangkah. Dia menyuruk, tiarap, mengendap-endap. Kuhentikan sepeda motorku, kusangga dan kuparkir di bawah pohon sawit. Dengan segera kukejar lelaki asing yang tak pernah kulihat itu.

Saiman terus berjalan, derap langkahnya semakin kencang, setengah berlari dibawanya tubuh ringkihnya. Lelaki itu bergerilya di antara deru waktu yang melaju seperti peluru. Berputar-putar di tengah masa yang berkisar. Saiman tersesat di tengah perkebunan kelapa sawit milik pemerintah.

Siang semakin garang. Rumput tak lagi basah oleh embun. Saiman berhenti sebentar. Dia seperti tengah mengingat-ingat sesuatu.

“Pak Tua, mau apa?” kataku setengah tersengal menyusulnya. Lelaki tua itu memang berjalan seperti rusa hutan.
“Berubah,” bisiknya. Dilemparnya pandangan matanya ke seluruh perkebunan.
“Apanya yang berubah, Pak Tua?” tanyaku.
“Semua,” akhirnya dia menoleh padaku.
“Ayo, pergi dari sini, ini tanah pemerintah,” kataku lagi berupaya menghalaunya jauh dari kebun sawit. Saiman masih berdiri, sambil terus meracau sendiri.
“Ayo,” paksaku sambil menggamit tangannya.
“Sabar Bung,” ujarnya sambil melepaskan pegangan tanganku. Tanganku terlepas, oleh kekuatan tenaga orang tua yang berada di depanku ini.
“Saya hendak pergi, menjemput revolusi,” sambungnya. Sambil balik kanan dan mulai mencari jalan keluar lagi.

Entahlah, seingatku, aku memang tak pernah bersua dengan orang ini. Pasalnya hampir semua orang di kampung dekat perkebunan ini aku kenal dengan ramah. Tapi aku nyaris kehilangan kesabaran. Aku memang pendatang di sini, tapi itu bukan berarti semua orang kampung bisa berbuat sesuka hati pada pekerjaanku.

Ku susul dia, sambil terus memperingatkan, “Pak Tua, berhenti. Saya penjaga di sini,” ulangku sambil meraih pundaknya. Dia mengelak dan membuat gerakan balasan sambil mengacungkan tinjunya padaku.

“Bung, kalau kau mengganggu jalanku lagi, kuhabisi kau,” ancamnya dengan suara bergetar. Aku surut ke belakang. Orang tua ini benar-benar membuat kesabaranku habis.

“Pak Tua, mau ke mana? Di sana cuma kebun kelapa sawit. Tak ada apa-apa,” kataku.
Saiman mematung, sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh perkebunan yang rimbun.
“Aku mau pergi menjemput Tamu Agung,” jawabnya. Suaranya yang tua masih terdengar jelas.
“Tamu Agung? Tamu Agung siapa?” tanyaku mendekat. Saiman terus mengedarkan padangannya.
“Aku masih mengingat, serasa-serasanya di sekitar sini ada jalan rahasia menuju desa,” kata dia sambil memukulkan tangannya ke dahi sendiri. “Oh, aku lupa,”

“Sini Pak Tua. Katakanlah padaku tentang sesuatu,” kataku sambil menarik dia. Saiman manut saja, ketika kubawa dia menjauhi perkebunan.

“Saya diperintahkan untuk menunggu oleh Sersan Hasan,” kata Saiman di tengah jalan. Aku mendengarkan dia mulai bercerita. Langkahnya yang tadi cepat dan penuh semangat, sekarang berubah menjadi berat dan lambat. Nafasnya tersengal ketika dia kembali meneruskan ceritanya.

“Waktu itu aku masih muda, kami semua masih muda, tujuh orang semuanya.” ujarnya patah-patah. Tiba-tiba dia berhenti. “Apa Bung tak mendengar kabar tentang kedatangan Tamu Agung?” tanya dia. Aku menggeleng.

Tamu Agung lagi. Agaknya aku sudah bosan dengan Tamu Agung kakek pikun ini. Tetapi, bisa jadi dia adalah orang penduduk setempat. Aku tak mau berurusan dengan penduduk desa sini. Aku ini cuma pendatang, perantau di pulau orang.

“Entahlah, mungkin aku sudah terlalu tua untuk mengingat jalan keluar,” Saiman masih berbicara sendiri. “berubah sudah semua” ujarnya sambil jalan menjauhiku. Tertatih dia langkahi rumput-rumput liar dan menjauhi perkebunan.

“Antarkan saya keluar dari hutan ini, saya mau menjemput Tamu Agung,” pintanya.
“Maaf Pak Tua, saya sedang bertugas, saya tak bisa mengantar Bapak,” jawabku menahan kesal.
“Bung bertugas, saya pun bertugas. Semua orang bertugas, begitu pula Tamu Agung.”
“Begini Pak, Bapak berjalan saja lewat jalan situ” kataku sambil menunjukkan sebuah jalan menuju jalan besar. “sampai di ujung pohon kapuk, Bapak belok kiri, nanti bertemu jalan besar di sana. Tanya saja sama yang lalu-lalang, mungkin di antara mereka ada yang tahu dimana Tamu Agung,” kataku mencoba sabar.

“Benarkah?”dia memastikan. Aku mengangguk.
“Benarkah mereka tahu di mana Rengas Dengklok?”
“Rengas Dengklok?” ulangku.
“Rengas Dengklok,” ulangnya dengan mata berbinar.
“Tempat itu jauh Pak,”
“Iya, jauh, tapi saya mau ke sana,”
“Ke sana? Buat apa?”
“Memastikan, kalau dia masih di sana.”
“Dia? Dia siapa?” tanyaku.
“Api revolusi,” ujarnya.
“Api revolusi ya?” kataku menahan tawa. Lelaki tua itu mengangguk. “Di Rengas Dengklok?”

“Begitu kata Sjahrir.” Kata Saiman mengangguk.
“Memangnya sudah pasti api revolusi ada di sana?” tanyaku mempermainkan dia.
“Entahlah, katanya begitu. Aku sendiri tidak begitu paham. Yang aku pahami adalah perintah dari Sersan Hassan untuk menunggu Tamu Agung di sini.” ujarnya seperti mengingat sesuatu.

“Siapa Tamu Agung itu Pak?” tanyaku.
“Bung tidak kenal?”balasnya.
“benar Pak,” sambungku.
“Benar-benar tak mengenalnya?” ulangnya. Aku menggeleng. “siapa kau?” sambung dia.
“Lha? Bapak yang siapa?” tanyaku membalas. Kami berhenti. Diam dan saling menatap.

“Aku serdadu yang mendapat kehormatan memberikan tempat istirahat untuk Tamu Agung.” jawabnya.
“Sudah Pak, berhenti meracaunya, sekarang Bapak pergi saja,” kataku hilang sabar.
“Siapa yang meracau?”
“Bapak,” tudingku serius.

Sinar mentari menembus selimut dedaunan kelapa sawit.
“Aku tak meracau Bung.” kata dia sambil mengambil jarak.
“Ya, sudah. Kalau begitu, silakan pergi meninggalkan tanah pemerintah ini.” kataku mengusirnya.
“Apa? Kau usir saya? Pemerintah? Pemerintah siapa?” tanya dia emosi. Aku mundur ke belakang.
“Yang aku pahami, Jepang sudah kalah. Jadi pemerintah siapa? Kerajaan Belanda?”

“Sudahlah Pak Tua, berhenti bercanda.” kataku sambil menggiringnya keluar dari perkebunan.
“Sontoloyo, habis sudah kesabaranku anak muda. Jangan kau lihat tampangku. Semangatku masih muda. Sekali ringkus, kau pasti binasa.” geram dia. Aku berhenti. Entah bagaimana memberikan pengertian untuk kakek tua ini.

“Pemerintah kita,” kataku ngeri.
“Pemerintah kita?” tanya dia lagi.
“Iya, pemerintah Indonesia.” Saiman diam. Matanya menerawang.
“Sudah ada?” tanya dia lagi sambil menggamit tanganku. Aku diam, dan mengamininya lewat mata. “tak ada kabar untuk garis depan. Bung, tahu, kapan itu?”

Aku tak habis pikir dengan dialog yang kulakukan dengan kakek tua ini. Tapi rasanya kami tengah berbicara melintasi ruang dan waktu yang amat panjang. Melebihi lembaran-lembaran halaman buku sejarah yang pernah terbaca olehku.

“Enampuluh dua tahun Pak Tua. Semuanya jelas berubah.” kataku. Saiman menggaruk kepala.
“Enampuluh dua tahun? Itu waktu yang lama. Dan selama itu tak ada yang mengabarkan kepada kami? Tak ada yang menjelaskan, hingga satu-persatu teman kami pergi, karena lelah sendiri menanti?” dia menggelengkan kepala. Matanya yang sayu kelabu, mulai berkaca-kaca.

“Rengas Dengklok sudah tak seperti dulu Pak Tua. Sekali anda ke sana, pasti menghilang selamanya.” kataku mengingatkan. Dia menarik nafas. Diam-diam kudengar rintihannya.

“Tak ada yang mengabarkan kepada kami kalau ternyata sudah merdeka. Enampuluh dua tahun! Sungguh angka ajaib yang saat ini terhitung olehku, setelah sekian lama aku tak menghitung berapa waktu yang sudah aku habiskan untuk bertempur dan menunggu.” dia menyeka matanya. Aku diam saja.

“Dan Tamu Agung?” tanya dia. “bagaimana Tamu Agung?”
“Siapa dia? Aku tak mengenalnya.” tanyaku. Dia terisak.
“bagaimana Saudara tak mengenal dia, seharusnya dia lebih lekat diingat dalam kisaran masa enampuluh dua tahun. Dia, si Bung dari Blitar,” katanya dengan nada kasar. Aku terpana. Mencoba menebak maksud Saiman tentang si Tamu Agung.

“Dia sudah lama mati Pak Tua,” kataku tak berhasil mengerti maksud Saiman.
“Apa? Tamu itu sudah mati? Tanpa pernah singgah dan melihat kami?” tanya dia pada diri sendiri. “Aku tak percaya,”
“Dia sudah mati Pak Tua.” Kataku sekali lagi. Saiman menundukkan wajahnya.
“Sekarang semua orang pergi tak kembali, tersesat dan mati diam-diam,” bisiknya.
“Aku tak paham Anak Muda. Sungguh-sungguh tak paham.” kata dia sambil melangkah menjauhiku.

“Eh, Pak Tua, kau mau kemana?”

Saiman berjalan terus menjauhi tanah perkebunan yang kujaga sejak malam tadi. Semakin lama semakin jauh. Hingga akhirnya dia menghilang di tengah-tengah hutan liar yang sebentar lagi akan menjadi tanah milik perkebunan swasta.

***

(Menjelang senja)

“Karto, Karto,” suara Saiman terdengar dari kejauhan. Dibukanya daun pintu gubuk kecil yang selama ini menjadi tempat tinggal tujuh serdadu.
“Karto, aku sudah pulang. Kau dimana Bung?” suara Saiman terus terdengar memasuki ruangan. Tak terdengar suara Karto membalas panggilan Saiman. Dengan letih Saiman merebahkan diri di atas dipan bambu.

“Kita tak perlu lagi menunggu Karto,” kata Saiman kesepian. Dia memang belum menemukan surat yang dititipkan Karto untuknya.

“Merdeka Bung, Aku akan menjemput Api Revolusi, dan membawa Tamu Agung kemari” tulis Karto.

Palmerah, 18 Agustus 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: