hujan deras

Ketika SBY Dikuliahi…

Posted on: 8 Agustus, 2007

Pemenang Nobel Kuliahi Kabinet SBY
Rabu, 08 Agustus 2007, 07:22:44 WIB

Jakarta, Rakyat Merdeka. Istana kedatangan tamu istime­wa: Mohammad Yunus, pemenang Nobel Per­da­maian 2006 asal Bangladesh. Kehadiran pe­milik Bank Grameen ke Indonesia ini khusus atas undangan Presiden Susilo Bambang Yu­dhoyono.

Bertempat di Istana Negara, kemarin, Yunus diberi kehormatan untuk menguliahi Presiden SBY, Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan hampir seluruh menteri anggota Kabinet Indonesia Bersatu (KIB). Tema kuliahnya, “We Can Put Poverty Into Museum”. Selama kira-kira 45 menit Yunus bercerita tentang ba­gaimana dia membesarkan Gra­meen, bank yang di Bangladesh dikenal sebagai bank-nya orang miskin.

Seusai memberi kuliahnya, kemu­dian digelar sesi tanya-jawab untuk para menteri yang ingin tahu lebih lanjut mengenai resep sukses Yunus meng­angkat derajat warga miskin Bangla­desh. Namun sayang, sebelum sempat mendengarkan apa-apa, oleh Biro Pers Istana Kepresidenan, wartawan sudah digiring keluar ruangan.

Setelah kuliah selesai, kepada war­tawan Yunus mengaku terkejut sekali­gus merasa terhormat diminta menje­laskan pengalamannya membasmi kemiskinan di depan Presiden SBY dan kabinetnya. Dia pun memberi empat masukan kepada SBY agar Indonesia segera terbebas dari jeratan kemiskinan.

Pertama, perluasan sistem kredit keuangan secara menyeluruh, mem­beri rasa kepemilikan kepada orang miskin supaya mereka bisa mengontrol nasibnya sendiri, dan meningkatkan kreativitas setiap individu. “Terakhir, mem­persiapkan generasi muda sehing­ga mereka tidak mengulangi kesalahan yang sama, dan dapat memulai babak baru, melihat dunia dengan cara baru.”

Bila ini dijalankan secara konsisten, Yunus yakin pada 2015 angka orang miskin di Indonesia tinggak separuh. Logikanya, imbuh Yunus, 15 tahun be­rikutnya atau tepatnya tahun 2030 ang­ka kemiskinan sudah nol. “Setelah itu kemiskinan hanya bisa dilihat di mu­seum, bukan lagi di masyarakat karena sudah hilang.”

Mengomentari saran Yunus ini, Men­ko Perekonomian Boediono menilai bu­kan hal baru. Indonesia, kata Boe­dio­no, sudah memiliki program-pro­gram penanggulangan kemiskinan. Meski begitu ia mengaku masih ada yang bisa dipelajari dari Yunus. Yaitu bagaimana menjangkau lebih intensif orang miskin.

Selain memberi kuliah di Istana, selama enam hari kunjungannya Yunus juga melakukan berbagai kegiatan lain. Diantaranya adalah bertemu Gu­bernur Bank Indonesia, ceramah di Uni­versitas Padjadjaran Bandung, ber­temu Menteri Pertanian, dan me­laku­kan workshop di Puncak, Bogor, Jawa Barat, sebelum bertolak kembali ke Bangladesh. rm

1 Response to "Ketika SBY Dikuliahi…"

penting belajar dari negeri miskin jadi tau bagaimana membuat negara jadi maju. bukan belajar dari negara kaya sehingga kita hanya belajar bagaimana dibuat miskin oleh negara kaya. dasar bodoh semua pemimpin ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: