hujan deras

Kebangkitan Syiah

Posted on: 2 Agustus, 2007

Oleh : Azyumardi Azra

(REPUBLIKA
Kamis, 02 Agustus 2007)

Kekerasan terus berlanjut di Irak; baik antara kekuatan perlawanan pendudukan terhadap pasukan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya, maupun di antara kelompok-kelompok masyarakat Irak sendiri. Dan yang paling mencolok tentu saja adalah kekerasan di antara kaum Suni dan Syiah. Kekerasan yang tidak jelas kapan berakhir itu telah mencabik-cabik kawasan yang pernah menjadi salah satu pusat peradaban tertua umat manusia dan juga pusat kemajuan peradaban Islam pada abad pertengahan.

Di tengah konflik itu ada kalangan dan bahkan sarjana yang melihat terjadinya kebangkitan Syiah, dalam konteks ini di Irak. Inilah yang menjadi tajuk buku Seyyed Vali Reza Nasr, The Shi’a Revival: How Conflict within Islam Will Shape the Future (New York: WW Norton, 2006). Edisi Indonesia buku ini yang diterbitkan Diwan segera beredar awal Agustus 2007, sehingga para pembaca di Tanah Air dapat menikmatinya.

Apa sesungguhnya ‘kebangkitan Syiah’ itu? Jelas, kebangkitan itu kini terkait dengan Irak pasca-Saddam Hussein dijatuhkan pasukan AS dan sekutu-sekutunya. Tumbangnya kekuasaan Saddam Hussein yang dipandang merepresentasikan kaum Suni dalam perspektif ini adalah ‘kebangkitan Syiah’ setelah berpuluh tahun berada di bawah kekuasaan Suni yang merupakan kelompok minoritas di Irak.

Jika argumen tentang ‘kebangkitan Syiah’ di Irak pasca-Saddam Hussein bisa diterima, hemat saya, dalam konteks Dunia Syi’ah, ini merupakan ‘kebangkitan kedua Syiah’. Kebangkitan pertama terjadi dengan keberhasilan Revolusi Islam Iran pimpinan Ayatullah Ruhullah Khomeini pada 1979. Tetapi, berbeda dengan ‘kebangkitan kedua Syiah’ di Irak yang terjadi dalam konteks persaingan kekuasaan dengan kaum Suni, sebaliknya ‘kebangkitan pertama Syiah’ terjadi dalam pergumulan di antara kaum Syiah sendiri, dalam hal ini antara Ayatullah Khomeini versus penguasa Iran Syiah, Syah Reza Pahlevi, yang didukung AS.

Terlepas dari perbedaan semacam ini, satu hal menarik adalah kebangkitan itu berkaitan dengan faktor Amerika. Dalam konteks Iran, AS yang mati-matian membela Syah Reza Pahlevi gagal menghentikan keberhasilan Revolusi Ayatullah Khomeini. Berikutan dengan ‘kebangkitan pertama Syiah’ tersebut, upaya untuk penyebaran Syiah secara global ke negara-negara Muslim lainnya –termasuk Indonesia– berlangsung dengan intens. Walaupun hasilnya dalam pengamatan saya tidaklah sebesar yang diharapkan kalangan Syiah sendiri, yang berusaha memanfaatkan momentum keberhasilan Revolusi Ayatullah Khomeini untuk penyebaran Syiah di luar wilayah-wilayah yang selama ini merupakan kawasan mayoritas Suni.

Kebangkitan kedua Syiah di Irak sekarang ini, menurut argumen Nasr, pertama, berkaitan dengan tumbangnya kekuasaan Suni yang dipegang Presiden Saddam Hussein. Bahkan, Seyyed Vali Nasr mengklaim, tumbangnya Saddam Hussein menghasilkan terbentuknya apa yang dia sebut sebagai ‘negara Syiah Arab’ pertama. Sebagai penduduk mayoritas Irak, kaum Syiah sejak pemilu pertama pada 2005 telah mendominasi lanskap politik Irak. Pemilu yang berlangsung hanyalah mengonfirmasikan dominasi Syiah dalam politik Irak sekarang.

Lebih jauh, tumbangnya Saddam Hussein juga memungkinkan terjadinya ‘kebangkitan’ kultural dan keagamaan Syiah dalam bentuk meningkatnya dinamika pusat-pusat kebudayaan dan keagamaan Syiah di berbagai tempat di Irak. Dalam masa pasca-Saddam, ratusan ribu jamaah Syiah memadati tempat-tempat yang dipandang suci di Najaf, Karbela, dan lain-lain. Berkumpulnya orang-orang Syiah dalam jumlah besar seperti itu memungkinkan terjadi penguatan hubungan transnasional di antara mereka, tidak hanya dalam bidang keagamaan, tapi juga dalam bidang ekonomi, perdagangan, dan kebudayaan. Inilah yang dipandang Vali Nasr –putra Seyyed Hussein Nasr, ahli tentang Islam dan sains– sebagai penguatan transnasionalisme Syiah; tidak hanya di Irak dan Iran, tetapi juga kaum Syiah di tempat-tempat lain seperti Pakistan dan Lebanon; transnasionalisme itu memungkinkan akselerasi penyebaran Syiah.

Kebangkitan Syiah menurut saya sah-sah saja; dan bahkan mungkin dapat memberikan kontribusi positif bagi penguatan kaum Muslimin dan peradaban Islam. Masalahnya kemudian adalah bahwa Vali Nasr lebih menawarkan perspektif yang tidak begitu rekonsiliatif terhadap kaum Suni. Ia melihat tokoh-tokoh Syiah yang kini berkuasa di Irak dan juga di Iran termasuk Presiden Mahmoud Ahmadinejad sebagai orang-orang yang sadar betul tentang pemilahan Syiah-Suni dan sekaligus sangat bersemangat membela ajaran dan nilai pokok Syiah. Pada saat yang sama mereka bukan hanya anti-Wahabi, tapi juga anti-Suni.

Perspektif seperti ini hemat saya tidak menolong bagi terciptanya hubungan lebih baik dan harmonis di antara kedua sayap Islam; Suni dan Syiah. Kebangkitan Syiah seyogianya bukan untuk membangkitkan luka-luka lama di antara kedua kelompok umat Muslimin; tetapi justru untuk memperkuat saling pemahaman dan respek. Dengan begitu, kebangkitan Syiah dapat bermanfaat positif bagi kemaslahatan umat Islam secara keseluruhan, bukan kian memperpecah umat.
__._,_.___

11 Tanggapan to "Kebangkitan Syiah"

Ass.

Saya membeli buku ini karena membaca tulisan Bapak Azumardi Azra yang
menjelaskan buku ini. Melihat judulnya ” Kebangkitan Syiah” saya
membuka website “info syiah” untuk tahu apa ada keterangan tentang
buku ini. Ternyata serangan yang bertubi tubi ada di web site info
syiah dan beberapa tulisan mendescreditkan Prof Azra dan juga Vali Nasr.
Saya jadi heran mengapa sebuah buku yang ditulis oleh anak seorang
yang terkenal dalam jajaran scholar dan pemikir islam Prof Husein
Nasr, yang buku2nya banyak diterbitkan oleh Mizan,dan penulisnya
sendiri juga seorang Doctor/Phd yang juga cukup prominent dikalangan
umat islam di Amerika dan juga didunia dan juga seorang yang
bermadzhab syiah, kok mendapat serangan yang demikian hebat.
Setelah membaca bukunya maka kira2 saya bisa menyimpulkan sbb:
1. Buku ini menceritakan apa yang dilakukan oleh Ayatulloh Khomeini di
Iran, s erta hubungannya dengan Iraq dan sadam husein serta bagaimana
Syah Iran yang waktu itu bisa menghabisi Khomeini tetapi tidak mau.
Ini oleh Saddam Husein disebutkan sebagai kesalahan yang paling besar
untuk memintakan izin dari Syah Iran.
2. Buku ini menunjukkan dengan jelas bahwa ternyata Syiah didunia
tidak Monolitik, seperti yang kita sangka. Perseteruan antar pemimpin2
Syiah terlukiskan dengan jelas disini.Antara Ayatulloh Khoi dengan
Khomeini, Juga Haeri dengan Khomeini yang semuanya menunjukkan sisi
sisi kelabu dari khomeini.
3. Kebangkitan Syiah yang dimulai di Iraq dimana pendekatannya adalah
pendekatan damai dan bukan pendekatan export revolusi ( yang selalu
dilakukan oleh khomeini atau syiah Iran) mulai mendapatkan tempat
dikalangan syiah dunia, sehingga Hasan Fadhlallah tidak mau lagi
disebutkan bahwa dia ikut khomeini walaupun dia orang yang dibina oleh
khomeini.

Mungkin karena hal hal ini maka info syiah Indonesia yang didominasi
oleh syiah Iran atau syiah yang berkiblat kepada ajaran Khomeni,
merasa khawatir atau risidengan diterbitkannya buku ini.

Saya pribadi ingin mengucapkan salut yang setinggi tingginya kepada
Diwan Publishing yang menerbitkan buku ini, untuk memperkaya wawasan
kita semua dan membuka pintu untuk melihat gambaran syiah yang damai
tanpa melakukan export revolusi yang hasilnya adalah pertempuran
antara sesama umat islam dan mengalirkan darah umat islam di Pakistan,
India dan Iraq. Semoga bentrokan bentrokan kecil antara pengikut sunni
dan syiah di Indonesia dengan terbitnya buku ini akan menurun dan
berkurang dengan lebih terbukanya wawasan kedua sekte besar islam ini.

Untuk keterangan yang lebih rinci bisa dilihat di :
http://indobsp.com/bsp
http://www.diwanpublish.com
http://kebangkitansyiah.wordpress.com/

mas nyelekit, kalau anda baca buku itu, bukankah dalam buku itu dikatakan bahwa konflik di Irak adalah konflik suni syiah . pada hal dalam faktanya sebelum USA datang kesana..tdk ada konflik seperti itu. kalaupun ada itu hanya riak kecil.

Kesimpulan vali nasr yg memindahkan tanggung jawab konflik horisontal ini dari mereka USA. menjadi konflik mahzab adalah kesimpulan yg “bermuatan” untuk cuci tangan.

perseteruan yg anda maksud itu bukanlah perseteruan yg anda “inginkan”, perseteruan itu lebih pada ketidaksamaan pendapat mereka ttg satu hal. misalnya konsep waliyatul faqih dalam sistem kenegaraan. dan ini sah sah saja mas.
dalam islam pendapat ulama berbeda dalam hal yg cabang itu tdk masalah.

apalagi kalo anda membandingkan antara Imam khomeini dgn ulama syiah syah iran…sangat jauh bedanya….he…he…

Nampaknya anda tdk mengerti ttg konsep marja’ dalam syiah sehingga anda berfikir semua syiah itu satu kiblatnya…Huakakakkk….belajar dulu mas.
Ayatullah ali sistani itu marja’ di Irak…..dan dia masih WN Iran…..dan dia berhak mengeluarkan fatwa yg berbeda dengan marja’ yg lain seperti Imam khomeini mas….
jadi sampeyan itu misleading di semua hal……
belajar lagih deh…..

btw,….buku itu dibuat oleh siapa mas….dan siapa penyokong lembaga itu….coba lihat…
bukankah vali nashr sudah nampak misi utamanya….utk membersihkan dosa2 tuannya USA di Irak.sekaligus menciptakan konflik suni syiah….seperti yg diharapkan usa agar bisa mengambil minyak irak…

konflik sunni syiah? nonsense, ajaran khomeini sendiri bilang kalau ” la syarqiyah la gharbiyah, jumhuriyah islamiyah” tak timur tak barat, tapi persatuan islam. . imam khomeini adalah salah seorang yang sangat mengagungkan persatuan dunia islam. persatuan sunni syiah, untuk menanggulangi kebejatan dan kemunafikan barat. prinsipku, aku setuju dengan perkataan kang jalal “dahulukan akhlaq di atas fikih “, karena kalau islam terpecah belah, yang rugi adalah umat islam sendiri, karena akan mudah dipecah belah oleh kekuatan asing yang ga suka islaM JAYA di muka bumi ini. memang jalan persatuan sangat penuh kerikil tajam. kabarnya imam khomeini sendiri sering mendengungkan jargon tadi. ia beropini bahwa harus ada nasionalisasi makkah madinah, dalam arti tak boleh dimonopoli oleh arab saudi, tetapi milik umat islam. bahkan banyak tempat suci kaum syiah di irak seperti karbala, dll ia tak berniat untuk merebutnya dari tangan irak ( saddam husein).bukankah itu pertanda beliau sangat memperhatikan persatuan sunni syiah?

Sangat membosankan melihat anda yang begitu hobi melakukan sakralisasi atas segala sesuatu.

apa yg diungkapkan eagle adalah benar bahwa pihak usa ingin cuci tangan akibat perang yg mrk timbulkan,padahal percekcokan antara syiah – sunni hanya bagian kecil yg biasa tejadi.USA IS THE REAL TERORIS.

Aku belum baca itu buku. Tapi boleh dong ikut nimbrung. Walaupun tentu melenceng dari pokok bahasan buku.
Biang kerok kekacauan di dunia itu Yahudi. Sejarah dan kitab suci mengatakan begitu.
Sekarang, lobi siapa yang paling kuat di Amerika? Semua sudah mafhum bahwa politik Amerika dikendalikan oleh Yahudi. Kepentingan Amerika adalah kepentingan Yahudi.
Artinya siapapun yang melawan Amerika intinya melawan Yahudi.
Banyak perjuangan Islam atau yang mengatasnamakan Islam- melawan Amerika (Yahudi) baik dari kalangan sunni maupun syiah. Katakanlah Osamah bin Laden mewakili Sunni (walaupun ada indikasi sebenarnya hanya sandiwara saja) dan Khomaini dari kalangan Syiah.
Tapi perlawanan yang konsisten dan telah membuahkan hasil hanyalah Iran buah karya Revolusi Imam Khomeini.
Amerika and the gang miris juga melihat Iran yang walaupun diembargo ekonomi selama lebih dari dua puluh tahun bukannya terpuruk malah makin kuat. Kuat secara Ekonomi, sosial, politik juga pengetahuan.
Nah, Amerika dan konco-konconya ingin memadamkan pengaruh Revolusi Khomeini yang sampai sekarang masih terus menyebar ke seluruh dunia.
Bagaimana caranya? Dengan menciptakan imej negatif tentang Khomeini. Sekali lagi aku belum baca buku itu tulisan ini hanya pandanganku tentang politik Amerika.

ass…
uang perlu kita cermati sekarang adalah persatuan umat itu sendiri..apakah itu sunni atau syiah adalah berakar dari sumber yang satu. mengapa harus diperbatkan terlalu jauh…yang perlu diperhatikan adalah the real teroris USA dab YAHUDI dan antek2 ya. mereka tidakan pernah puas selama islam masih berakar dan menggema di bumi Allah ini.jadi apapun konspirasi yang mereka lancarkan tidak lain tidak bukan adalah meruntuhkan nilai2 islam itu sendiri baik dari sisi manapun juga….

Pada Agama Islam, Tuhannya Alloh, Nabi dan Rosulnya Muhammad, Kitab nya Alquran, salah kah ini? Syiah Dan Sunni adakah di jaman Nabi dan Rosul Muhammad sebutannya ? Apakah Islam mempersulit umatnya ? apapun buku itu, mudah 2 han jadi menambah wawasan buat kita, jadi tafakur buat kita, selamat bertaqwa buat suni dan syiah, kita lihat nanti di akhirat ok. jangan bermusuhan hadapi tuh kaum yahudi bersama2

Persatuan Syiah dan Sunni dapat terwujud bila Ulama Sunni khususnya Wahabi mau menulis perbedaan kedua mazhab secara jujur, khususnya saat menulis tentang Syiah tanpa harus memfitnah dan memalsukan data (contoh: coba baca bagaimana Ulama Sunni yang bernama Said Hawwa memalsukan tulisan Imam Khumaini). Sudah saatnya juga bagi Syiah untuk menjelaskan model pemikiran mazhabnya ketengah ummat dan harap Sunni mau berlapang dada menerima perbedaan tanpa intimidasi dan kekerasan.

adanya perpecahan islam itu karena penyusup yahudi pada zaman Usman…yaitu saba yg kemudian memprovokasi membenci khalifah Usman dengan mendirikan syiah utk menghancurkan islam…orang yahudi itu pandai dan sangat licik syiah dan suni ciptaaan yahudi…seperti halnya komunis itu juga ciptaan karl marx yahudi….
kita kalo memperturutkan emosi kita kalah kita kembali ke ajaran Muhammad bukan ali, yg mndptkan wahyu Al Qur an bkn ali…jadi mohon kembali ke akal sehat yg suci ke ajaran islam sebenarnya

pengen tau Byak tentang SYIAH karena Waktu di Bandung Sering baca-baca buku ttentang Syiah…..
Q jadi bingung saat membandingkan antara syiah n sunni….yang mana yang Bener….?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: