hujan deras

Masjid Lal Kembali Bergolak

Posted on: 28 Juli, 2007

DUA pekan setelah insiden berdarah yang menewaskan sedikitnya 80 orang, Masjid Merah (Masjid Lal) kembali bergejolak. Ratusan santri yang menimba ilmu agama di madsarah masjid pro-Taliban itu nekat ‘’merebut’’ kembali dan menduduki rumah ibadah tersebut kemarin. Begitu berhasil menguasai masjid tadi, mereka menuntut pemerintah mengembalikan ulama radikal Maulana Abdul Aziz ke masjid yang terletak di pusat kota Islamabad itu.

Insiden bermula dari penolakan jamaah Masjid Lal terhadap ulama Maulana Ashfaq Ahmed yang ditunjuk pemerintah Pakistan menjadi imam salat Jumat. Mereka menginginkan Aziz, yang kini berada di tahanan pemerintah, dikembalikan ke masjid.
Akhirnya, ibadah Jumat dipimpin ulama dari madrasah tersebut. Sambil menyerukan tuntutan mereka, para santri itu juga meneriakkan slogan-slogan anti Presiden Pakistan Jenderal Pervez Musharraf. ”Musharraf anjing! Lebih rendah dari anjing! Dia harus mundur!” seru mereka.

Demi mencegah meluasnya kekacauan, pemerintah pun kembali mengerahkan sejumlah besar pasukan ke kawasan tersebut. Untuk kali kedua dalam tahun ini, masjid itu kembali dikepung ratusan polisi dan pasukan keamanan pemerintah. Bersenjatakan gas air mata, polisi berupaya membubarkan massa yang mulai bertindak anarkis.

Di tengah ketegangan itu, tiba-tiba terdengar ledakan hebat dari sekitar masjid. Menurut Amir Mehmood, salah seorang saksi, ledakan itu berasal dari Hotel Muzaffar yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari masjid. ”Seorang pria meledakkan bom yang terpasang pada tubuhnya, saat melintas di antara barisan polisi Punjab yang sedang berjaga,” tegas salah seorang petugas keamanan yang tidak mau menyebutkan identitasnya.

Begitu kuatnya ledakan yang diarahkan pada petugas keamanan itu, sejumlah kios di pasar dekat hotel itu juga ikut hancur berantakan. ”Setelah ledakan itu, saya melihat genangan darah dan serpihan tubuh manusia berseragam polisi Punjab di lokasi ledakan,” paparnya.
Sedikitnya seorang polisi tewas dan 16 yang lain terluka akibat ledakan itu. Namun, media lokal melaporkan bahwa jumlah korban tewas mencapai 10 orang.

Seiring berjalannya penyelidikan polisi terhadap ledakan tersebut, ketegangan di Masjid Lal terus memuncak. Sebagian besar santri radikal itu melempari kendaraan lapis baja dan polisi yang berjaga di luar masjid.

Imbauan polisi agar mereka membubarkan diri pun tidak dihiraukan. Terpaksa, polisi menembakkan gas air mata. Bukannya bubar, mereka malah masuk kembali ke dalam masjid dan bergabung dengan rekan mereka yang lain.

Beberapa saat sebelumnya, para santri itu memanjat atap masjid dan mengecatnya dengan warna merah. Mereka juga mengecat ulang dinding Masjid Lal dengan warna merah.
Pasca krisis Masjid Lal dua pekan lalu, pemerintah sempat mengecat masjid tersebut dengan warna kuning pucat. Sebagai wujud protes atas penghapusan warna merah di masjid itu, para santri menuliskan ”Masjid Lal (masjid merah)” dalam bahasa Urdu di kubah masjid.

Setelah mengecat ulang masjid tersebut, para santri juga mengibarkan bendera hitam bergambar dua pedang yang bersilangan. Bendera tersebut merupakan lambang jihad.
Untuk memompa semangat jihad mereka, para santri itu meneriakkan yel-yel pro-Abdul Rashid Ghazi, ulama radikal yang tewas dalam penyerbuan militer di Masjid Lal. ”Ghazi, darah Anda akan menggiring kami pada revolusi,” teriak mereka. (ap/afp/rtr/hep)

Tolak Bantuan Militer AS
Sementara itu, peringatan Amerika Serikat (AS) mengenai kebangkitan Al Qaidah di Pakistan mengundang amarah Musharraf. Tersinggung dengan peringatan tersebut, pemimpin 63 tahun itu pun dengan tegas langsung menolak usul AS untuk menyerang sarang-sarang militan di Pakistan.

Menurut dia, hanya pasukan Pakistan yang berhak melancarkan operasi militer di negeri Asia Selatan tersebut. ”Di dalam wilayah Pakistan, hanya pasukan Pakistan saja yang boleh beroperasi. Dan, mereka sudah sangat cakap melaksanakan tugas-tugasnya,” papar Musharraf sesaat sebelum meninggalkan Pakistan untuk berkunjung ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).

Lebih lanjut, sekutu Presiden AS George W. Bush itu menegaskan bahwa Pakistan berperang melawan ekstremisme dan terorisme bukan untuk menyenangkan bangsa lain. Musharraf juga menepis tudingan AS bahwa Al Qaidah telah berhasil menyusun kembali kekuatannya di Pakistan.

Jaringan teror versi AS itu disebut-sebut sudah menguasai perbatasan Pakistan-Afghanistan. ”Sebagian kecil anggota Al Qaidah yang lari ke kawasan ini sudah langsung kami buru dan kami tumpas,” tandasnya. Karena itu, dia yakin, perbatasan Pakistan yang dihuni etnis-etnis pribumi bersih dari unsur Al Qaidah. AFP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: