hujan deras

Coretan Umang

Posted on: 12 Juni, 2007

Senin, 11 Juni 2007, 04:08:28 WIB

Oleh: Hujan

Umang masih sangat muda, ketika keluarganya memutuskan untuk meninggalkan pesisir pantai, karena sudah merasa tak kuat oleh perasaan haru(1) terhadap lingkungan yang selama ini mereka tempati.

Padahal daerah itu sudah diwarisinya dari kakeknya, seorang lelaki tua yang selalu mendongengkan sebuah cerita padanya setiap kali dia akan beranjak tidur. Sejak itu pula Umang dan keluarganya pergi ke hutan dan meninggalkan kerang-kerang yang mereka miliki di pantai.

Waktu berjalan, para pendatang telah mengenal tulisan. Sehingga mereka mulai menulis kisah-kisah mereka pada prasasti dan batu-batu. Mereka menciptakan alat berburu. Dan lebih canggih lagi, para pendatang itu mulai memperkenalkan sebuah sistem kekerabatan yang mereka sebut sebagai hirarki kekuasaan adat.

Umang masih mencorat-coret tanah dengan ranting pohon cemara. Dia sudah besar sekarang. Tangannya yang kekar sedang membentuk sebuah citra di atas tanah yang lembab. Di tak jauh dari gambar, terhampar buah-buahan yang baru saja dipetiknya.

Umang sangat serius dengan coretannya. Dia menggambar cicak yang besar dengan jari jemari yang juga besar. Biasanya Umang akan mencorat-coret apa saja bila pekerjaannya mengumpulkan buah sudah selesai. Dia suka menggambar lipan, kalajengking, katak, dan paling dia suka adalah cicak.

Perlahan rintik hujan jatuh, satu persatu membasahi daun, menetes ke ranting, lalu jatuh ke kepala Umang, ke tubuh yang telanjang dan hanya ditutupi daki dan lumpur. Perlahan pula tanah dan lumpur itu luntur. Hujan yang jatuh semakin deras. Umang melindungi gambar cicaknya. Air yang turun mulai menggenang. Umang menangis, gambar cicaknya mulai mengabur. Padahal itu adalah cicak yang paling sempurna yang pernah digambarnya. Umang melompat memanjat pohon meninggalkan cicaknya yang sudah tenggelam.

***
Puluhan tahun sebelum Umang lahir dan mendiami daerah pesisir pantai, sebuah bahtera yang luar biasa besarnya pernah merapat dan menepi. Dari dalamnya turun belasan lelaki perempuan. Mereka akan pergi mencari makanan buat bekal seluruh penumpang bahtera selama dalam perjalanan. Sebelum meninggalkan bahtera, mereka sudah mengeluarkan erbilawan(2) kepada nahkoda, bahwa mereka akan kembali sebelum matahari tergelincir di ufuk barat.

Berhari-hari berada di dalam bahtera membuat para musafir yang turun ke darat itu lupa. “Di sini banyak makanan, dan kita boleh memakan binatang!” kata salah seorang dari mereka. Tubuhnya besar, dan wajahnya penuh cambang. Tangannya yang kekar menyeret ranting pohon yang penuh dengan buah-buahan ranum.

Rombongan musafir itu semakin jauh dari pantai. Mereka sangat gembira dengan tempat baru itu.

“Aku lebih suka tinggal di sini, lebih luas dari bahtera,” sambung seseorang lagi. Badannya sedikit bungkuk dan berpunuk.

Di tempat yang sama, seorang wanita tengah mengelus dan mempermainkan organ genitalnya. Sementara seorang lelaki yang lain tengah berdiri di depan wanita itu. Matanya menatap tajam pada sosok yang tengah menikmati diri sendiri. Akhirnya, sesaat kemudian keduanya sudah berguling-gulingan.

“Tapi kita sudah erbilawan pada Pak Nahkoda,” teriak seorang lelaki yang termuda dalam rombongan itu.

“Tidak perduli, toh kita tak mungkin kembali ke rumah kita, karena semuanya sudah hancur oleh bah dan badai!” jawab lelaki bungkuk dan berpunuk.

Sepasang lelaki perempuan berguling-guling di dekat mereka, saling menindih, bergantian mengerang. Nafas mereka kencang dan menderu di udara.

“Pokoknya kita harus kembali sekarang. Lihat matahari sudah merambat ke arah barat,” tunjuk lelaki muda.

Lelaki bungkuk dan berpunuk berdiri menghadap barat. Di tangannya masih tergenggam buah-buahan.”Kau saja yang pulang,” bisiknya pada lelaki muda. Seluruh musafir mulai berkumpul. Sepasang lelaki perempuan yang saling menindih juga bangkit. Nafas mereka masih sesak. “Kau saja yang kembali lebih dahulu, untuk menyampaikan berita, bahwa kami akan segera kembali, setelah seluruh makanan terkumpulkan,” sambung si lelaki.

“Iya, begitu saja,” seru para musafir serentak.

Lelaki muda itu segera membalikkan badan dan berlari meninggalkan kawanan musafir di tengah hutan.

***
Hari mulai gelap. Hujan pun mereda. Dengan segera Umang turun dari pohon. Di dekatinya gambar cicak yang tadi dibuatnya. Sudah larut oleh air. Dipungutnya buah-bahan yang telah dikumpulkan, kemudian dia beranjak pulang.

Umang tiba di tempat tinggalnya. Sebuah gua yang dalam. Terletak di bawah kaki bukit, bibir gua dilindungi dengan tanaman paku-pakuan. Di sanalah dia dan kerabat keluarganya menghabiskan waktu ketika hari mulai malam.

Umang kemudian menyerahkan buah-buahan yang telah dikumpulkannya kepada perempuan tua. Tertua dalam kelompok yang menghuni gua itu. Perempuan itulah yang akan membagi rata setiap makanan yang dikumpulkan kepada semua penghuni gua.

Hari menjelang malam. Perlahan sinar yang menembus masuk ke dalam gua mulai redup. Umang teringat pada nasib coretan cicaknya yang luntur oleh hujan.

Setelah menerima bagiannya, Umang pergi ke sebuah sudut di gua itu. Dan merapatkan telinganya ke dinding gua. Dipungutnya kerikil yang ada di dasar gua. Dia mulai mencorat-coret dinding gua. Dia mencorat terus sampai terbentuk sebuah citra, seekor cicak. Umang menggambar seekor cicak. Binatang yang tak pernah dilihatnya setiap kali hari menjadi malam dan gelap.

Seekor cicak kembali digambar. Ini adalah gambar cicak yang kesekian. Umang memang lebih suka mencoret motif cicak, dari pada lipan, kalajengking dan katak. Entah apa yang membuat Umang lebih banyak mencorat-coret dinding gua dengan motif cicak.

Umang memperhatikan coretan yang baru dibuatnya itu dengan seksama. Diamat-amatinya berkali-kali. Dibandingkannya dengan coretan cicak lain yang pernah dibuatnya. Ini yang paling sempurna, bahkan dari yang dicoretnya siang tadi. Umang puas. Sekarang dia mulai berpikir, “bagaimana seandainya binatang ini mengeluarkan suara?”

Hari menjadi malam. Umang gelisah sekarang. Pandangannya gelap dan tak bisa melihat apa-apa. Telinganya juga tak dapat mendengar suara. Seluruh penghuni gua dicekam oleh rasa yang sama. Umang sedih tak bisa menatap cicak yang barus selesai digambarnya. Sekarang dia mulai mengarang dan mereka-reka suara cicak. Hingga dia tertidur. Dan di dalam tidurnya Umang bermimpi. Kakekknya yang sudah mati muncul di sisinya dan kembali menceritakan sebuah dongeng padanya.

***
“Alkisah dengan terengah-engah musafir muda kembali ke pantai,” kakek Umang mulai bercerita. “namun sayang, ketika itu hari sudah gelap. Di tempat mereka melakukan erbilawan bahtera itu sudah tiada lagi.”

“Lalu apa yang terjadi Kek?” tanya Umang dalam mimpinya.

“Dia meraung, raungannya menyayat dan menakutkan. Musafir muda itu berteriak menyebut nama nahkoda bahtera berulang kali. Namun bahtera yang luar biasa besar itu tak pernah lagi menepi,”

“Bagaimana dengan musafir yang lain Kek?”

“Mereka tiba di sana, di pantai tempat mereka mengeluarkan erbilawan. Namun ketika mereka tiba, mereka tak menemukan siapapun. Bahkan musafir muda,”

“Kemana Musafir muda Kek? Dan bagaimana nasib musafir yang lain?” sambung Umang.

“Tidak ada yang tahu kemana Dia. Sedang musafir yang lain akhirnya menetap di tepi pantai. Tempat mereka mengeluarkan erbilawan. Mereka percaya, bahwa suatu hari kelak bahtera akan kembali dan menjemput mereka.” tutup si Kakek.

“Kapan waktunya bahtera itu datang Kek?” Tanya Umang lagi. Sang Kakek tak menjawabnya. Orang tua itu hilang seiring dengan semburat sinar mentari yang menembus masuk ke dalam gua. Umang tersentak. Di dinding dilihatnya cicak yang digambarnya malam tadi.

Paginya Umang tak keluar gua. Dia hanya berdiri memandangi coret-coretannya. Dipungutnya kerikil. Dia mulai mencoret dinding lagi. Cicak, dan cicak lagi. Umang terus menggambar cicak. Sambil membayangkan suara binatang itu.

Tiba-tiba dicoretan yang kesekian dia terhenti. Tangannya tak lagi mencoret cicak. Umang mencoret sesuatu yang tak pernah dicoret sebelumnya. Sebuah guratan yang terilhami oleh kisah kakeknya.

Umang mulai membentuk sesuatu yang terlihat seperti buritan bahtera. Terus ke lambung, dan berhenti di haluan. Sebuah motif kidu-kidu berombak(3). Membentang dari sisi bawah lambung bahtera sepanjang haluan sampai buritan. Dia memejamkan mata, dengan susah payah diingatnya wajah kakeknya tengah bercerita. Umang mulai mencoret lagi. Wajah sang kakek digambarnya lebih besar sehingga menutupi bagian depan haluan.

Umang menarik nafas. Kemudian dicoretnya semua wajah penghuni gua. Perempuan tua yang membagi makanan, ayah, ibu, adik, kakak, sepupu, paman dan bibi. Semua digambarnya tengah duduk manis di atas bahtera. Tak lupa Umang menggambar lipan kalajengking, katak dan cicak di dalam bahtera.

Sepanjang hari Umang mencorat-coret dinding gua. Menjelang malam bahtera itu telah sempurna. Dilihatnya berkali-kali. Hingga akhirnya malam dan dia tak bisa melihat coretan bahteranya lagi. Hatinya sangat puas, sampai akhirnya dia jatuh ke dalam tidur yang pulas.

Di dalam tidur Umang bermimpi kembali. Dilihatnya bahtera yang digambarnya benar-benar berlayar dengan anggun di tengah samudera luas. Di dalam mimpinya itu dia juga melihat sang kakek berdiri di haluan. Sementara kerabatnya yang lain berdiri di anjungan dan melambaikan tangan. Umang juga melihat lipan, kalajengking, katak dan cicak ada di sana. Tetapi Umang tidak melihat dirinya di dalam bahtera. “Aku lupa menggambar wajahku di dalam bahtera,” desis Umang.

Bahtera itu semakin menjauh. Perempuan tua melambaikan tangannya kepada Umang, “nanti kami akan singgah lagi,” teriaknya.

Umang masih tertidur. Sangat pulas. Dia bermimpi, tengah menunggu bahtera untuk menjemputnya. Umang benar-benar kesepian. Kali ini dia merasakan tidurnya begitu panjang. Begitu panjang.

Berastagi, 6 Nop- Binjai, 17 Nop 2005

Catatan:

1. Menurut Brahmana Putro, dalam Bukunya Sejarah Karo, Karo berasal dari kata Haru yang artinya cemas dan kuatir dengan kedatangan pendatang.
2. Erbilawan: Perjanjian (Karo)
3. Kidu-kidu berombaj: Motif bergelombang yang menjadi kepercayaan orang Karo untuk menangkal racun dan mengusir sial.

1 Response to "Coretan Umang"

Ada sejarah umang yg lebih detail lagi???
aku butuh buta penelitian…

atw punya buku ttng sejarah KARO???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: