hujan deras

Satu Tahun Lapindo, Satu Tahun Murid-Murid SD Itu Sekolah Lesehan

Posted on: 29 Mei, 2007

Baca di: myrmnews
Selasa, 29 Mei 2007, 08:58:06 WIB

Sidoarjo, Rakyat Merdeka. Lokasi SDN Renokenongo II hanya sekitar 1,2 kilometer dari pusat semburan lumpur. Sekolah yang punya enam kelas itu sempat tenggelam akibat genangan lumpur. Itu terjadi pada Agustus 2006.

Saat itu, sekolah sempat diliburkan dua minggu. Selain karena genangan lumpur, itu sekaligus untuk memberikan kesempatan kepada murid-murid di sekolah tersebut, yang sebagian besar orang tuanya menjadi korban lumpur Lapindo, untuk mengungsi.

Ketika lumpur menggenangi enam kelas di SD tersebut, bangku-bangku pun diungsikan ke tempat lain. Salah satunya ke SDN Kesambi, Porong, yang berjarak sekitar 3,5 kilometer dari SDN Renokenongo II. Selain itu, ada sebagian bangku lagi yang diungsikan ke SDN Plumbon, Porong, yang berjarak 2 kilometer dari SDN Renokenongo II.

Masalah muncul ketika SDN Renokenongo II sudah tak lagi digenangi air. Saat itu, sekolah kesulitan mengambil lagi bangku-bangkunya yang telah diungsikan. “Karena kami tak sanggup membiayai ongkos kendaraan untuk mengambil kursi-kursi itu,” kata Plh Kepala Sekolah SDN Renokenongo II Mustofa.

Sekolah hanya sanggup mengusahakan biaya untuk mengambil bangku-bangku kelas 4-6. “Uang itu kami ambil dari kas sekolah,” kata pria 46 tahun itu.

Karena tak punya duit lagi, sekolah akhirnya tak bisa mengambil lagi sebagian kursi-kursinya yang diungsikan. Akibatnya, kelas 1, 2, dan 3 dibiarkan kosong melompong, tanpa kehadiran kursi dan bangku. Dan itu terjadi hingga kemarin.

“Kami sudah minta kepada Lapindo untuk membantu. Tapi, sampai sekarang belum ada responsnya. Kami pasrah…,” katanya.

Bisa jadi karena tak kunjung ada bantuan tersebut, sang kepala sekolah, Ansori, terbebani pikirannya. Akhirnya dia meninggal 40 hari lalu. “Beliau jadi sakit-sakitan setelah kondisi sekolah ini semakin memprihatinkan,” kata Nur Saadah, salah seorang guru di SDN Renokenongo II. Ansori, kata dia, meninggal pada usia 52 tahun.

Meski tanpa meja dan bangku, murid-murid dan guru yang mengajar tak kehilangan semangat. Mereka tetap menjalankan aktivitas belajar-mengajar. Seperti yang kemarin disaksikan Jawa Pos.

Pagi itu, sekitar pukul 08.30, Jawa Pos menyaksikan murid-murid kelas 1 SDN Renokenongo II belajar sambil lesehan. Satu kelas di ruangan itu diisi sekitar 25 murid.

Untuk menulis, mereka menggunakan bangku kecil yang dibuat sekenanya. Ada yang satu bangku dipakai satu orang, karena ukurannya kecil. Ada juga yang satu bangku dipakai tiga orang, karena ukurannya lebih besar. Pagi itu mereka diajari bahasa Inggris.

Sang ibu guru, Sulastutik, terlihat begitu telaten dan sabar mengajari murid-muridnya yang kebanyakan tak konsentrasi belajar. Mereka ngomong sendiri, bahkan ada yang bermain sendiri. “Hayo Andik… Jangan bercanda terus. Cepat selesaikan soalnya,” hardik sang Ibu Guru.

Bu Tutik, demikian dia disapa murid-muridnya, mengajar sambil menggendong anaknya yang baru berumur 1,5 tahun. Wanita berumur 35 tahun yang juga korban Lapindo itu terpaksa mengajak anaknya ke sekolah karena di rumah tidak ada yang menjaga.

Untuk berangkat ke sekolah, sebagian besar murid SD yang menjadi korban lumpur dan terpaksa mengungsi itu disediakan fasilitas antarjemput berupa truk. Mereka dijemput PP (pulang-pergi) dari kompleks Pasar Porong Baru (lokasi pengungsian) menuju SDN Renokenongo II.

Pukul 6 pagi kendaraan antarjemput itu mulai berangkat dari lokasi pengungsian. “Saya jam lima sudah harus mandi,” kata Agus Erianto, salah seorang siswa kelas I SDN Renokenongo II.

Itu pun, kata dia, harus antre terlebih dulu. “Saya sering tak sekolah karena terlambat antarjemput,” ungkap anak bungsu dari lima bersaudara itu.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo M.G. Hadi Sutjipto ketika dikonfirmasi seputar nasib murid-murid di SDN Renokenongo II mengatakan, pihaknya sebenarnya tak ingin hal itu terjadi. “Namun, saya tak bisa berbuat banyak, karena ada beberapa batasan penggunaan dana pemerintah,” ujarnya.

Dia mengatakan, hingga saat ini Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) masih melarang penggunaan dana pemerintah untuk merelokasi sekolah-sekolah korban lumpur. jpnn

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: