hujan deras

Mengenang Anak Semua Bangsa

Posted on: 9 Mei, 2007

Artikel ini juga dapat dibaca di Media Kapasmerah

…Satu kali dalam hidup, orang harus menentukan sikap. Kalau tidak, dia tidak akan menjadi apa-apa… (Pramoedya Ananta Toer)

”Kita kehilangan seorang penulis sejarah terbesar dalam sejarah Indonesia,” demikian kata aktivis Lembaga Kebudayaan nasional (LKN), Sitor Situmorang pada hari kematian si ”Anak Semua Bangsa”, Pramoedya Ananta Toer setahun lalu.

Maka Indonesia kehilangan seorang anak yang dibanggakan oleh semua bangsa. Seorang pencipta yang mampu menghadirkan kembali masa-masa indah atau juga kekelaman sejarah dengan begitu teliti. Sehingga tak ada kekosongan dalam rekonstruksi dalam jalinan penggambaran yang dilakukannya..

Yang mengenal arus balik Pram, tentulah mengenal tokoh-tokoh kuat yang dilahirkannya. Mulai dari Midah si Manis Bergigi Emas sampai Nyai Ontosoroh. Atau Minke, lelaki keturunan ningrat yang hidup dalam pelarian. Semua tokoh itu hadir dari masa silam. Kemudian merangsek ke toko-toko buku untuk terpajang di ingatan anak muda hari ini.

Pram dilahirkan di Blora pada tahun 1925. Aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) ini pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya. Ketika api revolusi terpantik, Pram sempat menjadi anggota militer dan akhirnya ditempatkan di Jakarta. Namun pada saat Belanda masuk ke Indonesia untuk yang kedua kalinya di tahun 1948, Pram ditangkap dan dipenjara. Di dalam penjara, Pram tetap menulis. Karakter kepenulisannya mulai terbentuk, hingga pada akhirnya PKI dengan Lekra-nya jatuh hati kepada Pram dan merekrutnya sebagai salah seorang agen kebudayaannya.

Sebuah karyanya yang memotret kehidupan orang tionghoa di Indonesia yang berjudul Hoakiau telah membuat pemerintahan Soekarno berang. Kritik yang dilayangkan Pram tentang situasi masa itu akhirnya membuat dirinya harus kembali merasakan dingin lantai penjara. Namun perjuangan Pram tidak padam. Dengan tulisannya, dia semakin membentangkan sayap perjuangannya.

Selepas dari kurungan, Pram semakin tajam. Sederetan masterpieces lahir dari besutan tangannya yang dingin. Diantara karya monumentalnya tersebut, adalah Dia yang Menyerah, Cerita dari Jakarta, Calon Arang, Sekali Peristiwa di Banten Selatan, dan banyak lagi.

Dalam tulisannya Pram mencoba menguraikan pokok pemikirannya kepada pembaca. Sikapnya yang anti terhadap gerakan neokolonialisme kerap disisipkannya secara tersirat dalam karya sastranya.

Silang-sengkarut dalam menentukan budaya asli diperlihatkannya ketika mengakui bahwa hasil jajahan negara nekolim atas negara berkembang secara kultural adalah demokrasi parlementer dan hak asasi manusia yang menjamin setiap individu untuk tumbuh menjadi kuat. Bagi Pram kedua produk ini adalah sumber dari legalitas penjajahan yang dilakukan negara barat terhadap negara dunia ketiga. Sehingga apabila sebuah negara berkembang berupaya mengembalikan budaya asli sering tidak mengindahkan sumber sosial dan historis.

 Demikianlah Pram mengambil sikap yang tak tanggung-tanggung dalam melihat tradisi dan budaya asing yang datang. 

Maka ketika tragedi kemanusiaan meletus pada 1 Oktober 1965, Pram yang aktif di Lekra kemudian menjadi salah satu orang yang paling diburu. Tanpa proses peradilan, Pram kemudian dijebloskan ke penjara oleh pemerintahan Soeharto.

Selama kurun waktu 14 tahun, Pulau Buru dan Nusakambangan pernah menjadi tempat singgahnya.
Dalam pembuangan itu, Pram tidak diperbolehkan menulis, apalagi bertemu dengan orang-orang yang berpengaruh. Namun siapa boleh menyangka, kalau penahanannya itu justeru melahirkan serangkaian karya yang sangat monumental: Kuartet Pulau Buru. Dan di pulau yang dihuni orang buangan itulah, sejarah Minke dimulai.

Setelah 14 tahun mendekam dalam pengasingan, akhirnya pada tanggal 21 Desember 1979 Pram mendapatkan juga surat pembebasan secara hukum. Namun, dalam masa itu, beliau masih tetap dikenakan status tahanan rumah hingga tahun 1992.

Penekan VS Penekan

Apa jadinya bila Lekra yang dianggap pernah menekan kelompok kebudayaan lain (Manifesto Kebudayaan) akhirnya berganti ditekan? Apakah itu bukan berarti kelompok yang menekan Lekra tersebut adalah neo-Lekra? Lantas bagaimana bisa ini dijawab oleh pelaku-pelaku prahara budaya yang ternyata telah menjadi penekan baru?

Tahun 1995 Pram mendapatkan penghargaan Raymon Magsasay. Namun ternyata ada yang tidaksenang dengan pemberian penghargaan itu. Sebanyak 26 sastrawan Indonesia kemudian memprotes penganugerahan gelar tersebut. Sebab menurut menurut mereka Pram adalah penabuh gendang ketika Lekra menjadi kelompok penekan. Taufik Ismail adalah pemrakarsa protes kepada panitia Raymon Magsasay. Menurut Taufik protesnya tidak bermaksud untuk menekan panitia penyelenggara untuk mencabut pengharagaan yang sudah diberikan, tetapi hanya sekedar mengingatkan kepada dunia bahwa Pram adalah penulis yang memiliki reputasi gelap.

Tak mau ketinggalan, sasterawan yang juga tokoh pers, Mochtar Lubis malah lebih ekstrim. Beliau sempat mengancam akan mengembalikan hadiah yang diberikan Raymon Magsasay yang diterimanya pada tahun 1958 jika Pram tetap dianugerahkan hadiah yang sama.
Dalam opininya, para penandatangan petisi 26 ini merasa sebagai korban dari keadaan pra-1965. Dan mereka menuntut pertanggungan jawab Pram, untuk mengakui dan meminta maaf akan segala peran Pram pada era Demokrasi Terpimpin.

Pada masa Soeharto berkuasa, Pram yang setiap tahun dinominasikan sebagai penerima Nobel dalam kesusasteraan terus dikeroyok dan diserang oleh kelompok-kelompok yang menjadi lawannya pada pra-1965.

Punggawa tradisi asli dan penjaga halaman sejarah ini kini telah tiada. Setelah sakit tiga hari, pada 30 April 2006, Pram kemudian pergi untuk selama-lamanya. Dia menutup halaman terakhir riwayat hidupnya setelah sebelumnya sempat menelurkan karya yang terakhir: Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005).

Ribuan orang mengantarkannya ke pembaringan terakhir di Karet Bivak, yang juga tempat pembaringan terakhir penyari besar Indonesia yag mati muda, Chairil Anwar. Dengan diiringi lagu Internasionale yang sudah di-Indonesiakan, Pram dibaringkan sendirian di dalam liang. Seperti yang dituliskannya dalam closing kisah Bukan Pasar Malam.

Pram tidak pernah dendam pada siapa pun. Bahkan kepada tentara yang telah membakar karyanya, merampas rumahnya dan membuatnya cacat pendengaran.

“Mejadi Lekra bukan berarti dosa” katanya ketika diwawancarai majalah Playboy versi Indonesia.

2 Tanggapan to "Mengenang Anak Semua Bangsa"

ya…….. not too bad,i like thanks to tueh n teguh santosa,hope more aktif,thanks

ya……..very good i like,thanks tuek n teguh santosa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: