hujan deras

Si Sinis Itu Telah Pergi

Posted on: 17 April, 2007

Hidup adalah seperiuk taik!
Demikianlah makian yang diberikan Kurt Vonnegut, penulis ekstrim dari Amerika Serikat yang wafat pada 12 April lalu, ketika memandang hidup. Bahkan menjelang ajalnya, lelaki yang jenius ini masih tetap memandang sinis dunia dan aparat yang berada di dalamnya.

Kurt juga dikenal sebagai seorang yang anti rasisme. Melalui novel klasiknya, Slaughterhouse-Five dan Cat’s Cradle, pria yang wafat pada usia 84 tahun ini dikenal publik. Bukan saja Amerika, tetapi juga dunia. Dendam dan kecewa pada sejarah yang ditorehkan Allied Force ketika membombardir Kota Dresden, Jerman pada 1945 menjadi tonggak sejarah kepenulisannya. Kejadian menyedihkan itu langsung dirasakannya dan menjadi latar belakang dari penulisan novel mahakaryanya, Slaughterhouse-Five.

Novel itu diterbitkan pada tahun 1969, bertepatan dengan perang yang masih berkecamuk antara Vietkong dan Vietnam Selatan. Tak heran, novel yang banyak mengisahkan tentang kekejaman perang dan mampu mewakili gejolak kemanusiaan menentang rasisme serta ketidakadilan sosial itu dilarang terbit. Padahal novel tersebut sempat menjadi best seller. Barangkali kenyataan bahwa novelnya itu menjadi best seller, maka pengambil keputusan yang gila perang melarang keluarnya novel tersebut.

Selama hidupnya orang yang terkenal dengan ungkapan “So it goes” ini telah menghasilkan 14 karya dalam bentuk novel, drama, esai, dan cerita pendek. Kebanyakan karyanya adalah protes-protes sosial terhadap kekejaman perang. Esai biografinya yang terbit di tahun 2005 adalah karya terakhirnya yang juga menjadi buku best seller.

Mungkin karena cara berpikirnya yang kelewat bebas melampaui batas nalar, akhirnya menjadikan kehidupan Kurt menjadi tidak stabil. Muram memandang dunia membuat dirinya hanyut dalam fantasi dan ketergantungan terhadap alkohol. Bahkan lebih ekstrim, pria kelahiran Indianapolis ini pernah berusaha bunuh diri dengan cara menenggak sebotol pil tidur.

Agaknya bagi dia hidup itu benar-benar seperiuk kotoran. Rasa muak dan jijik memang membuat dia selalu tidak betah untuk hidup di dunia nyata. Beruntunglah, karena akhirnya dia dapat meninggal juga. “So he really goes” sekarang.

Aforisme Kurt Vonegut dalam Gempa Waktu
Dilarang mengobel-kobel kelaminmu. Karena kita akan membaca sesuatu yang lucu tapi menyakitkan. Sesuatu yang menyakitkan, tetapi kebenaran. Sesuatu kebenaran, tetapi kelucuan. Sesuatu kelucuan yang mengantar kita kembali ke sepuluh tahun lalu, lima tahun lalu, berlompat-lompat di antara waktu yang pernah kita singgahi, tanpa diperbolehkan menyentuh dan membenahi sesuatu yang pernah kita perbuat. Ah…

“Timequake” sekumpulan kisah tak berarti ini mungkin akan membuat kepala kita beputar, teraduk, pecah, bahkan isinya benar-benar muncrat di atas lantakan halaman-halaman yang memang disediakan si penulis.

Tapi bisa jadi, ini cuma kata-kata berlebihan dari saya, sebab untuk menikmati “Timequake” pembaca hanya memerlukan rasa humor yang tinggi. Yah, sebab Kurt Vonnegut senang sekali menyindir pembaca dengan sindirian yang kelewat pedas. Hingga efek sampingnya membuat pembaca frustrasi dan ikut-ikutan muak terhadap diri sendiri.

Buku terbitan Kepustakaan Gramedia (KPG) 2001 yang dialih bahasakan dengan “Gempa Waktu” ini berkisah tentang waktu yang diputar ulang sepuluh tahun. Yang kejamnya, Kurt menggambarkan orang-orang yang kembali ke masa sepuluh tahun itu berada dalam kendali otomatis dan tidak dapat berkehendak bebas. Orang-orang tersebut mungkin saja akan menjadi orang dengan segala keputusan yang salah, menikahi orang yang salah, berada di dalam penjara, kembali mengalami kecelakaan, tanpa bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki hidup sepuluh tahun itu.

Kurt Vonnegut sendiri lah yang akan membawa pembaca tersesat di masa-masa itu. Dia membenamkan pembaca dengan kritik-kritik tajam tentang alasan pembaca mengambil sebuah keputusan. Setelah pembaca dipaksa untuk jujur dengan alasan-alasan tersebut, kemudian Kurt meninggalkan pembaca dalam kondisi kenyataannya di sepuluh tahun lalu. Lantas? Pembaca harus berjuang sendiri untuk keluar dari kenangan-kenangan yang menyakitkan itu. Waw! Sadis ya si Kurt?

Tidak juga, sebab dalam “Gempa Waktu” dia selalu meng-kambinghitam-kan Kilgore Trout. Hah? Siapa orang ini? Yang jelas, Trout dan Kurt itu ya satu orang. Hanya saja, Kurt tak berani berspekulasi atas teori-teori nakal yang dibangunnya sendiri sehingga acap kali dia menyebutkan “ini bukan pendapat saya, ini pendapat Trout.” Bah!

Dalam novelnya ini, Kurt menggambarkan Trout sebagai representasi dirinya. Dengan menggambarkan Trout sebagai penulis tua yang karya-karyanya tidak lagi dibaca orang, Trout dihadirkan begitu gamblang.

Meski ditulis dengan bab yang pendek-pendek, namun bukan berarti buku setebal 256 halaman ini akan mudah dipahami. Sebab butuh kesiapan mental untuk selalu siap-siap diajak berputar-putar oleh Kurt.

Terakhir, buku ini tetaplah diperuntukkan bagi mereka yang memiliki sense of humor yang tinggi. Bagi mereka yang tidak memiliki rasa itu, disarankan untuk menjauhi buku ini dan jangan sesekali menyentuh apalagi membuka lembaran-lembaran halamannya. Kalau tetap nekat, tanggung sendiri akibatnya.

1 Response to "Si Sinis Itu Telah Pergi"

sepakat. kurt emang jagoan!

salam,
MK
http://kopdang.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: