hujan deras

Folklore: Palu Balang.

Posted on: 9 April, 2007

 Ada beberapa orang bersaudara dari marga Ginting berjalan mencari tempat untuk perkampungan mereka. Asalnya dari kampung Pengambatan di kecamatan Munte Kabupaten Karo.

Beberapa lama berjalan sampailah orang bersaudara tadi ke sebuah tempat yang menurut pendapat mereka sangat cocok untuk dijadikan kampung. Kebetulan di sana mereka bertemu dengan Kacaribu yang bertempat tinggal tak jauh dari tempat tersebut.

Kepada Kacaribu orang-orang bermarga Ginting tadi menanyakan pendapatnya kalau tempat tersebut dijadikan perkampungan. Kacaribu menyatakan setuju hanya diinginkannya agar kampung yang akan dibangun jangan terlalu dekat dengan kampungnya.

Oleh Kacaribu kemudian ditunjukkanlah sebuah tempat yang terletak diatas bukit dekat hutan untuk dibangun menjadi perkampungan oleh marga Ginting. Maka mulailah mereka bekerja menebangi hutan dan membersihkan tempat itu. Sesudah itu didirikanlah rumah tempat mereka tinggal. Lama kelamaan bertambah ramailah tempat itu sehingga berubah menjadi kampung yang kemudian dinamakan kampung Kutambaru.

Untuk kehidupan sehari-hari keluargan Ginting tadi membuka tanah dan memelihara ternak kerbau. Hasil dari ladangnya cukup untuk mereka makan. Sementara ternak yang mereka pelihara berkembang biak. Akibatnya tenanglah perasaan keluarga Ginting mendiami kampung itu.

Tetapi ketenangan hidup mereka kemudian mendapat gangguan. Datangnya gangguan dari pencuri yang sering datang pada malam hari untuk mencuri ternak mereka. Walaupun ternak itu dikandangkan dalam tempat yang mereka rasa aman bahkan di pintu-pintu masuk mereka pasang perangkap, namun pencuri tetap saja merajalera.

Namun pada suatu kali perangkap mereka berhasil dan pencuri yang memasuki kandang terperosok kedalam lubang sehingga mati ketika itu juga.

Keesokan harinya Seorang keluarga Ginting datang ke kandang itu untuk mengeluarkan ternaknya tetapi walau bagaimanapun diusahakannya kerbau itu tidak mau keluar. Heranlah dia mengapa kerbaunya tidak mau dibawa keluar padahal biasanya pekerjaan itu dengan mudah dilakukannya.

Setelah diperiksanya kesana kemari di dalam kandang itu didapatinyalah bahwa lubang perangkapnya telah berisi orang yang sudah menjadi mayat. Kemudian mayat itu dikuburkannya dekat kandang kerbau tadi.

Beberapa lama setelah itu keluarga Ginting kejadian yang ganjil. Pada waktu tertentu mereka mendengar suara seperti orang bercakap-cakap dan seperti orang bersiul dari arah kuburan pencuri tadi. Berapa pun diusahakannya namun tidak dapat ditangkapnya apa maksud dan arti siulan dan cakap yang mereka dengar. Karena itu disimpulkannya bahwa yang terkubur bukanlah orang yang sembarangan saja.

Untuk itu mereka ingin melakukan pemujaan terhadap kuburan tersebut. Dengan pemujaan itu mereka harapkan akan datang perlindungan dari arwah dalam kuburan. Di atas kuburan dibangunlah sebuah patung manusia dan diberinya nama Palu Balang.

Untuk lebih menimbulkan suasana keramat di sekeliling patung mereka tanam lima macam tumbuh-tumbuhan ( Sangke Sampilet ). Berkat patung yang mereka perbuat selamatlah keluarga Ginting dari gangguan pencuri dan musuh-musuh lainnya.
Pada suatu kali datang pula seorang laki-laki bernama Tagor ke kampung itu. Kedatangannya membawa usul agar diadakannya upacara untuk meresmikan kampung Kutambaru. Maksud peresmian itu ialah supaya penetap-penetap di tempat itu dapat hidup lebih aman dan tenteram.

Keluarga Ginting menyetujui usul itu, hanya ditanyakannya kepada Tagor tentang cara-cara melakukan kenduri tadi, mengingat pihak yang akan mengerjakan pekerjaan seperti itu menurut adat belum ada (Anak Beru ) . Tagor menunjukkan jalan bahwa untuk mendapatkan tenaga yang seperti itu dapat saja melakukan pengangkatan yaitu diambil dari orang marga Kacinambun.

Karena Kacinambun adalah orang asal di tempat itu, dan demikian kampung ini akan menjadi kuat. Sepakatlah mereka untuk menetapkan orang bermarga Kacinambun menjadi anak baru orang bermarga Ginting dan marga Ginting sendiri mengakui anak bermarga Tagor. Sesudah itu diresmikanlah tempat itu menjadi kampung Kutambaru yang berarti kampung baru sampai sekarang ini.
Dan karena mereka melakukan kesepakatan di tepi sungai, maka daerah itu pula mereka namai dengan sungai Lau Senina yang berarti sungai bersaudara. Sejak itu ramailah kampung Kutambaru dan penduduknya hidup tenteram dan berkecukupan.

Tetapi tenteram itu tidak lama berlangsung. Yang mengganggu ketenteraman mereka ialah kembalinya pencuri merajalela memasuki kampung dan membawa pergi ternak-ternak mereka. Penduduk menimpakan kesalahan pada patung Palu Balang yang mereka anggap sudah tidak mampu lagi melindungi kampung dari gangguan-gangguan oleh karena itu beramai-ramai mendatangi patung tersebut dan memukulinya dengan kayu untuk melepaskan rasa marah.

Akibat pukulan-pukulanitu rusak hidung Palu Balang. Tetapi pembalasan perbuatannya dirasakan oleh penduduk kampung. Tak lama setelah mereka merusak patung tadi turunlah hujan lebat sehingga air sungai meluap dan banjir melanda kampung Kutambaru

Tetapi bencana alam itu rupanya membawa keuntungan pula kepada penduduk kampung. Kebanyakan ternak-ternak mereka yang dibawa oleh pencuri beberapa hari sebelumnya belum sempat disebrangkan. Pencuri-pencuri itu melarikan diri ke tempat yang paling aman, sedangkan kerbau curiannya dibiarkan berkeliaran di tepi sungai.

Sesudah banjir reda barulah penduduk keluar mengumpulkan harta-harta yang masih bisa diselamatkan. Dengan tidak mereka sangka-sangka terlihatlah ternak-ternak mereka berkumpul ditepi sungai yang sebelumnya mereka sangka sudah hilang dibawa pencuri. Ternak itu dibawa kembali kekampung dengan selamat.

Sejak itu sadarlah mereka akan kesalahan mereka terhadap patung Palu Balang, yang akibatnya salah sangka, telah merusak patung itu. Dengan kesadaran itu mereka kembali menghormati dan memujinya seperti semula.

Sampai sekarang Palu Balang masih tetap disembah oleh orang-orang bermarga Ginting, bahkan juga oleh masyarakat kutambaru pada umunya.

3 Tanggapan to "Folklore: Palu Balang."

Terima kaih atas tulisan ini. Sedikit banyak bisa meguak keberadaan keluarga Ginting Rumah Gugugung di Desa Kutambaru. Kira-kira siapa ya penulis cerita ini?

Bang, saya mendengar kisah ini dari almarhum nenek saya ketika di kampung dulu… susah payah saya merekonstruksi ulang dongeng yang dibacakan nenekku dulu. sebab itu sudah belasan tahun lalu. dan dengan modal ingatan dan sedikit-sedikit bertanya kembali pada orang di kampung, maka palu balang ini bisa saya ceritakan kembali.

mejuah-juah man kita anak kutambaru, khususnya Rumah Gugung. Menurut saya bukan palubalang, tapi Pulubalang. saya tidak bisa menduga siapa MM Ginting, dan hujan deras itu, emaka kupetandaken aku brayan munthe bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: