hujan deras

Bercermin dari Laptop Thukul

Posted on: 4 April, 2007

 Sekarang siapa yang paling benar? Pemirsa yang ada di depan televisi atau yang ada di studio. Siapa yang paling ndeso? Siapa yang paling kathro? Yang pasti bukan kita. Karena kita tengah menertawakan orang lain.

“Nah, masuk tv. Seneng ngga? Ndeso!” itulah kalimat yang keluar dari mulut Thukul “Rheinaldi” Arwana. Seharusnya siapapun yang mendengar celetukan itu layak marah. Apalagi penekanan pada kata terakhir; Ndeso! yang memiliki makna konotatif.

Tapi bagaimana mungkin ndeso, yang telah disepakati oleh masyarakat luas sebagai sebuah kata bermakna negatif, kemudian tiba-tiba saja menjadi begitu lucu?

Demikianlah fenomena Thukul. Dunia sedang dibolak-balik oleh guyonannya. Sadarkah pemirsa?

Bagi penikmat acara Thukul, kelakuan dan kelakarnya memang menggemaskan. Resep jitu untuk membuat orang terpingkal memang dikemas Thukul dan timnya dengan rapi. Mulai dari penentuan tema, sampai bintang pengisi acara.

Yang paling heboh adalah ketika penonton di studio dipaksa untuk berinteraktif menjadi seperti Thukul. Kita yang menyaksikannya lewat kotak segi empat bernama televisi juga ikut menertawakan penonton yang terlihat konyol. Dan, meledaklah tawa kita.

Thukul bukan seorang satiris. Dia benar-benar seorang komedian. Tetapi ke-ndeso-annya dalam acara Empat Mata seolah sedang mengisahkan kepada pemirsa, bahwa menjadi orang jujur hari ini berat sekali.

Menjadi berat karena lingkungan hari ini ternyata hanya menerima kepalsuan. Sehingga menjadi jujur justeru dianggap sebagai hal tabu. Sikap lugu hanya dimiliki orang berjiwa babu, atau paling tidak bisa mengundang hal lucu seperti si Thukul.

Tak ada sambutan hangat untuk kejujuran hari ini. Bagi lingkungan, jujur berarti perbuatan naif. Menjadi jujur berarti melanggar dosa besar; yaitu ditertawakan.

Kembali ke laptop! Itu adalah senjata pamungkas yang dilakukan Thukul setiap kali terdesak oleh serangan yang dilakukan bintang tamu, maupun penonton. Dan lagi-lagi kita yang menyaksikannya tertawa!

Silent please! Tanpa sadar kita tengah diajak mencandai diri sendiri. Thukul telah sukses membuat kita telihat ndeso di depan televisi.

Sifat yang senang melihat kekurangan orang lain, telah membuat pemirsa Thukul tertawa terpingkal-pingkal. Bahasa inggris yang kacau, serta penempatan istilah yang tak teratur membuat kita yakin bahwa Thukul itu memang ndeso, kadang-kadang juga kathro.

Dari dalam laptopnya itu, Thukul sedang mengajak kita untuk memasuki sebuah ruang. Dimana dari dalam ruang itu kita dipaksa menelanjangi diri sendiri, lantas bercermin kepada semua orang yang melakukan hal yang sama dengan kita.

Sekarang siapa yang paling benar? Pemirsa yang ada di depan televisi atau yang ada di studio. Siapa yang paling ndeso? Siapa yang paling kathro? Yang pasti bukan kita. Karena kita tengah menertawakan orang lain.

Sedikit yang sadar dengan idiom-idiom Thukul yang menunjukkan ketidaktahuannya terhadap suatu masalah. Lantas bila begitu, dengan kejam kita mengatakan, “Thukul ndeso, Thukul kathro. Gue yang paling top, modern, canggih dan mutakhir!”

Gimana? Puas? Puas? Puas? Sekarang mata Thukul bertanya dengan mata melotot. Tak ada yang takut. Sampai pada akhirnya Thukul mengeluarkan ancaman, “Tak sobek-sobek mulutmu.” Hahaha.

2 Tanggapan to "Bercermin dari Laptop Thukul"

Kemunculan Thukul memang fenomenal. Kekurangajarannya yang menyerempet
porno baik fisik maupun kata-kata terhadap para bintang tamu dalam 4M disemprit KPI.
Kita harapkan Thukul dan timnya, mengerti bahwa banyak hal negatif dari penampilannya yang dapat merusak pendidikan anak dalam berperilaku etis dan sopan santun.
Semoga masyarakat tidak membiarkan setiap tayangan tv yang bernilai destruktif. Terima kasih.

Sarono Putro Sasmito
Pemimpin Redaksi Suara Pendidikan Kabupaten Ogan Ilir Sumsel. ISSN 1978-3191
Redpel Tabloid Desa. Website: http://www.tabloid-desa.com
Pemred Jurnal Legislasi
HP 08153801762

penampilan ki thukul dalam acara empat mata sungguh spektakuler.dan bukan hanya sebatas lelucon tp lebih pada cerminan situasi dan keadaan indonesia pada saat ini.kenapa KPI jadi sewot?akan lebih bijak apabila kpi ngurusi badan sensor film yang kredibilitasnya di tukar gemerincing kepengan rupiah atau malah sekongkol.jadicenteng kapitalism

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: