hujan deras

Folklore: Tengku Lau Bahun.

Posted on: 2 Maret, 2007

Ada seorang tengku yang berasal dari tanah Aceh. Di negeri  asalnya dia lebih dikenal dengan sebutan Tengku Syech, tetapi di tanah Karo ia di panggil Tengku Lau Baun. Tengku ini kaya dengan ilmu , ahli pula obat mengobat, menguasai ilmu kedatuan, dan untuk meninggikan martabat roh dan batinnya seringsering dilakukannya tapa bersunyi-sunyi di tempat sepi.

Menurut kisahnya, Tengku Lau Bahun sampai ke tanah karo setelah melakukan pengembaraan yang panjang dari kampung asalnya. Kampung demi kampung dikunjunginya. Dusun demi dusun didatanginya. Dan salah satu sifatnya yang patut diteladani ialah bahwa setiap orang yang dijumpainya dipandangnya sama, tidak ada yang dilebihkannya dan tidak ada pula yang direndahkannya. Manusia itu sama-sama ciptaan tuhan, dan karena itu tidak ada yang tinggi dan tidak ada yang rendah.

Selama dalam pengembaraannya diajarkannya ilmunya kepada raja-raja, datu-datu dan penghulu-penghulu ditanah karo, sehingga bertambah lama bertambah banyak orang yang mendapat pengajaran dari Tengku itu. Satu hal yang menarik mengenai caranya menyebarkan ilmunya ialah sukarela tanpa paksa.

”Jika ilmuku dianggap baik terima, dan jika tidak, jangan dipakai”, demikian katanya selalu. Mengajarkan ilmu diibaratkannya seperti berdagang barang- barang tanpa modal.

“Laku tak laku daganganku itu tak ada kerugianku”,begitu dia berpendapat. Mengenai kebahagiaan hidup, Tengku itu mengajarkan agar berpegang pada peribahasa dimana langit dijunjung disana bumi dipijak. Dengan demikian dimana kita tinggal disanalah dicari famili, sahabat dan handai tolan.  

Dan jika kita pandai membawakan diri, akan diperoleh kegembiraan, ketenangan dan kebahagiaan hidup. Karena dengan orang-orang itu kita akan saling menggembirakan, saling mengasihi dan saling membantu dalam kesulitan.      

 Kepada para petani diajarkannya penggunaan tepung tawar, untuk pemberantas hama tanaman. Ditunjukkannya pula supaya jangan menyebut nama-nama binatang yang merusak tanaman seperti tikus, belalang dan sebagainya. “Sebutkan si pinter ukum untuk semua perusak tanaman itu”,katanya.

 Ada pun penawar (anti) ulat tanaman ialah daun si malam-malam, buah padi, air sawah tempat hama merusak, jeruk purut dan jeruk empat jenis yang untuk semuanya itu dinamakan Lau Penguras.

Kemudian satukan dengan  batang  padi atau jagung yang dirusak, lalu bacakan doa: “Hai yang empunya perajurit, yang empunya suruhan, inilah si pinter ukum telah merusak tanamanku. Hukumlah dia”. Bersamaan dengan itu pencangkan bendera putih ditempat keempat sudut sawah ladangmu, juga ditempat persemaian khidmat, mudah-mudahan perusak tanaman akan berhenti merusak. Begitulah Tengku Lau Bahun mengajarkan kepada mereka para petani dan peladang.

Dibanyak tempat ia diterima orang dengan baik, namun di kampung Sukanalu, Tanah Urung Si Enam Kuta dia ditolak. Masyarakat disana mencurigainya sebagai seorang yang bermaksud tak baik. Malah dia dituduh sebagai alat kerajaan Aceh untuk menjajah tanah Karo.

  Tuduhan itu kemudian dibantahnya dengan tegas dan jelas. Karena tidak berhasil dengan tuduhan mulut, maka mereka yang tidak suka itu meningkatkan usaha mereka melawan Tengku.

 Kali ini dalam bentuk pengeroyokan beramai-ramai Namun itupun tak berhasil, karena selain mempunyai ilmu pengetahuan biasa, orang dari tanah Aceh itu mempunyai ilmu bela diri dan ilmu kebal.Tetapi akhirnya dia terbunuh dalam sebuah pengeroyokan dari belakang yang tidak diketahuinya.

 Orang-orang yang tadinya sudah menyerah bersekongkol dan menyerang Tengku pada bagian tubuh yang tidak kebal, sehingga rubuhlah dia ketanah. Oleh para pengikutnya yang setia yang datang dari  berbagai tempat ditanah karo, mayatnya dikuburkan dikampung lingga yang berbatasan dengan kampung Surbakti, Lingga julu dan kampung Gajah.

Kuburan itu terletak di tepi sungai Lau Bahun. Sejak itulah nama semula Tengku Syech lebih dikenal dengan sebutan Tengku Lau Bahun, mengikut nama sungai yang tak jauh dari kuburannya.

Sesudah dia meninggal kuburannya dijadikan tempat pemujaan meminta perlindungan dari perusak tanaman dan bila musim kering menyerang para petani.

Melalui mimpi datu-datu datanglah Tengku dan berkata bahwa dia tetap akan menjaga dan memelihara siapa-siapa yang percaya kepadanya. Ditanam oranglah galuh Tengku Lau Bahun, dilepaskan kambing putih, dan ayam putih.

Pada waktu musim menanam padi dipujalah galuh tadi, dan kambing putih dipotong untuk dimakan bersama-sama. Pada waktu musim kemarau makam Tengku Lau Bahun dimandikan, dibersihkan, dipuja dengan upacara gendang karo.Pengunjung-pengunjung yang berdatangan ke makam itu membawa persembahan, memancangkan bendera putih sebagai tanda bahwa mereka tetap mengenang dan menghormati Tengku itu karena kejujuran dan kebenarannya.

 

Dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,087 hits
%d blogger menyukai ini: