hujan deras

keluhkesahkesau

Posted on: 26 Februari, 2007

Saya tengah terheran-heran. Bagaimana bisa, dalam sekejap bangsa ini kehilangan keramahtamahannya? Kemana semua orang yang murah senyum itu sembunyi?

Kemana semua orang yang suka bekerjasama itu lari? Apakah sekarang semuanya jadi tak berarti? Apakah api reformasi telah membakarnya, hingga negeri kita menjadi sepi begini?

Betul, saya masih terheran-heran. Bagaimana mungkin seorang pencopet dengan kejam dihabisi beramai-ramai. Dihajar, dibakar! Astaghfirullah! Benarkah ini wujud kekecewaan selama puluhan tahun? Apakah perbuatan mereka itu lebih baik daripada si pencopet?

Apakah ini dendam yang selama ini terpasung? Apakah? Apakah? Apakah?

Kemana pula perginya keadilan yang bersosial itu? Kemana juga hambusnya persatuan itu? Benarkah multi partai telah melenyapkannya dari bumi Indonesia? Tak percaya! Saya tak percaya.

Namun begitu saya terheran-heran. Sehingga akhirnya melahirkan kekaguman yang luar biasa. Kagum terhadap keadaan Indonesia di jaman dahulu kala (jaman Orba maksudnya).

Tunggu, saya bukan orang picik dan kerdil dengan memimpikan masa-masa itu. Saya cuma mau terkagum saja dengan berita di TV di jaman itu.

Asli! Benar-benar asli! Saya kagum sekagum-kagumnya!

Sebab saya tak pernah kena mengenal dengan acara seperti buser, tkp, sergap, investigasi, dan acara lainnya tentang kriminal itu. Saya hanya kenal jenis acara seperti ABRI masuk desa, ABRI manunggal, Kelompencapir, siaran pedesaan. Dan kalaupun ada berita tentang kriminal, tentulah bukan dari negara kita.

Tak pernah ada berita kelaparan dari dalam negeri. Tak ada berita banjir dari Jakarta, tak ada berita longsor, tsunami, air mengamuk…. Tak ada!

Dari kotak jendela dunia itulah, saya bersapa pada penderitaan negara lain. Dari kotak kecil, yang ketika itu tak ada pesaing, saya bisa melihat, hebatnya negeri ini, ramah dan holopis kuntul baris! Sehingga negara gemah ripah, loh jinawi, tata tentrem karta raharjo, betul-betul ada! Dan saya kemudian berkata…. “Inilah jamrud khatulistiwa”,  dimana tak ada hutan yang terbakar karena praktek illegal logging. Tak ada limbah yang mencemari Danau Toba atau Buyat!, apalagi banjir lumpur, yang berpeluang menenggelamkan sebuah pulau!

Walah dalah, ini diluar dugaan saya. Sehingga saya terheran-heran dan bingung dengan perputaran begini cepatnya.

Sekarang saya berpikir, mungkin ada baiknya melakukan kebohongan publik. Hah! Demi kebaikan! Demi hajat hidup orang banyak! Inilah yang dijadikan pembenaran penguasa ketika itu. Apa bedanya Soekarno dan Soeharto? Tentu saja banyak. Tapi persamaannya? Keduanya melakukan pembohongan publik. Soekarno menggunakan radio untuk menenangkan perut rakyat yang lapar. Soeharto lebih parah, dia menggunakan TV untuk menunjukkan, betapa palsunya dia.

Dan hari ini? Ntahlah! Ada banyak sekali televise. Juga radio, juga koran, juga… apa saja yang menjadi alat media massa. 

Dan pemimpinnya? Ya, ampun…. Semakin banyak! Semakin banyak media kampanyenya, semakin banyak penguasa palsu yang berlindung di balik media. (atau jangan-jangan, kedua kompartemen itu sudah sekongkol untuk melanjutkan cita-cita jahat mereka?). Ntahlah, yang jelas saya tak mau heran dengan realita seperti itu.

Tapi saya masih heran. Serta kagum. Hebat betul yang telah melakukan semua ini!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: