hujan deras

Reaktualisasi Makna Jihad di Era Global

Posted on: 24 Februari, 2007

 http://www.rakyatmerdeka.co.id/islam/

 Kamis, 11 Januari 2007, 19:53:04

JIHAD menjadi kosakata populer di Indonesia pascatragedi WTC 2001 silam. Namun konotasi negatif masih berhembus sama; sebuah kekerasan fisik, pembantaian, pembunuhan dan teror. Kasus Maluku, Poso, dan Afghanistan adalah beberapa contoh paling riil dari pemaknaan jihad dengan konotasi negatif seperti itu.

“Ketika ia disebut orang, maka yang segera muncul dalam kesadaran pikiran publik adalah bentuk-bentuk kekerasan fisik, sweeping, perang. Meski telah masuk dalam kosakata Indonesia, tetapi ia masih memiliki makna dalam bahasa Arab dengan segala nuansa kebudayaannya,” ujar pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid Arjawinangun Cirebon, KH Husein Muhammad.

Menurut Husein, Al-Quran menyebut kata jihad dalam sejumlah ayat. Kurang lebih 41 ayat yang tersebar dalam Mushaf Al-Quran. Secara bahasa (etimologi) ia berasal dari kata juhd atau jahd. Artinya adalah kesungguhan, kemampuan maksimal, dan usaha yang sangat melelahkan. Dari kata ini juga terbentuk kosa-kata ijtihad.

“Tetapi yang terakhir ini lebih mengarah pada upaya dan aktivitas intelektual yang serius dan melelahkan. Dalam terminologi sufisme juga dikenal istilah “mujahadah”, sebuah usaha spiritual yang intens, bahkan mungkin sampai pada tingkat ekstase. Orang yang berjuang di jalan Allah dengan sungguh-sungguh disebut mujahid atau mujahidin untuk orang banyak,” jelasnya.

Dalam terminologi Islam, kata Husein, jihad diartikan sebagai perjuangan dengan mengerahkan seluruh potensi dan kemampuan manusia untuk sebuah tujuan. Pada umumnya tujuan jihad adalah kebenaran, kebaikan, kemuliaan, dan kedamaian. “Menurut Fakhr al-Din al-Razi, jihad diarahkan untuk menolong agama Allah, tetapi bisa juga diartikan sebagai perjuangan memerangi musuh (Tafsir al Kabir, V/39),” tegasnya.

Pada sejumlah ayat yang lain, kata Husein, jihad mengandung makna yang sangat luas, meliputi perjuangan dalam seluruh aspek kehidupan. Jihad adalah pergulatan hidup itu sendiri dan tidak semata-mata perang dengan pedang atau mengangkat senjata terhadap orang-orang kafir atau musuh.

Lebih jauh Husein menyatakan, transformasi makna jihad seperti ini juga dilatarbelakangi oleh sebuah kenyataan bahwa adalah kemustahilan bagi kaum muslimin dewasa ini untuk merealisasikan tujuan-tujuan ideal mereka; mendirikan negara Islam universal. “Jihad dengan pengertian perang, meskipun masih tetap diakui, akan tetapi ia bersifat kondisional, dan dalam rangka mempertahankan diri serta bukan an sich dalam kerangka agama,” tegasnya.

Tokoh Muslim asal India, Sayyed Ahmad Khan, menawarkan penafsiran jihad jenis ini. Dalam pemahamannya terhadap ayat-ayat Al-Quran, ia menyampaikan pandangannya bahwa jihad adalah wajib bagi kaum. “Kafir atau musyrik dalam pengertian ini, bukan lagi berarti orang yang tidak beragama Islam dan penyembah berhala atau manusia, melainkan pelaku-pelaku penindasan, penganiayaan dan perusakan terhadap manusia, alam dan nilai-nilai kemanusiaan universal,” ujarnya.

Berangkat dari sini, Sayyed tidak lagi mengarahkan jihad terhadap penganut agama non Islam, tetapi terhadap para pelaku penindasan, kezaliman dan kekerasan. Prinsip kebebasan berkeyakinan yang dinyatakan secara tegas oleh Al-Quran jelas menafikan penyerangan terhadap orang-orang beragama atau berkeyakinan siapapun dia, Yahudi, Nasrani atau lainnya. “Sejarah Nabi SAW di Madinah juga menjadi bukti paling nyata atas prinsip ini,” tegasnya.

Dosen Fakultas Syariah IAIN-Sumatra Utara dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Ishlahiyah Binjai, HM Jamil, menyatakan, kata jihad mesti dipahami secara konprehensif dan dalam. Tidak boleh ada upaya-upaya untuk mereduksi (mengurangi) atau menjadikan makna yang satu kurang signifikan dibandingkan dengan makna yang lain, apalagi menjadikan makna yang lebih penting menjadi makna yang kurang penting. “Itu bisa berdampak tidak baik bagi pola perjuangan umat Islam ke depan,” tegasnya.

Sementara itu, dari kota suci Mekah, intelektual Muslim yang juga mantan menteri agama, KH Dr dr Tarmizi Taher, ketika dihubungi melalui sambungan telepon menyatakan, yang terpenting dalam mengaktualisasikan makna jihad adalah bagaimana kita berjihad dapat bermanfaat sebesar-besarnya bagi kemaslahatan umat dan bangsa.

Kontekstualisasi dan reakstualisasi makna jihad juga menuntut kepekaan dan skala prioritas. “Saat ini yang mendesak adalah jihad dalam mengentaskan kemiskinan dan kebodohan umat, serta pemberantasan korupsi secara menyeluruh,” papar Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI). Penulis buku Berislam Secara Moderat (Januari: 2007) ini menambahkan, umat lain tidak perlu takut atau risih dengan kata jihad, karena tujuan dari jihad sangat mulia. []

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: