hujan deras

Nasehat Orang Tua, (Sebuah cerita dari Pengajian Cak Nun)

Posted on: 19 Februari, 2007

Adik-adikku,

Suatu masa di Jazeerah Arabia, hiduplah seorang tua bernama Umar. Umar adalah
orang yang taat beragama dan bersahaja. Hubungan baik diperlihatkannya kepada
tetangganya. Gemar menolong dan sopan santun terjaga adalah sifatnya.

Namun malang, Umar yang dihormati dan disegani orang-orang itu memiliki anak
yang tidak mewarisi sifatnya.
Jakfar, demikian nama anak Umar. Jakfar adalah anak yang nakal, bandel dan
suka membantah apa kata Umar. Seringkali Umar menangisi anaknya yang nakal itu,
karena sudah kehabisan cara untuk menasihatinya.

Apa kata Umar selalu dibantah Jakfar. Umar menasehati anaknya, anaknya selalu
melawan dan berbuat sebaliknya. Begitulah, Umar kecewa pada diri sendiri karena
tak mampu mengajar Jakfar.

Suatu hari Umar menasihati Jakfar agar jangan pulang terlalu malam. Namun
Jakfar melakukan hal sebaliknya. Dia pulang pagi hari. Kali itu kemarahan Umar
tak terbendung lagi. Habis kesabarannya untuk mendidik Jakfar. Dengan dada sesak
dan terhuyung-huyung diusirnya Jakfar pergi dari rumah.

Maka Jakfar yang keras kelapa itu pun akhirnya pergi. Dalam hatinya dia
menyesal karena telah membuat ayahnya sakit dan sedih. Perlahan Jakfar mulai
luluh oleh kata hatinya. Sekarang dia tak tahu harus pergi kemana.

Di rumah Umar menyesal karena telah mengusir Jakfar. Maka dengan mengendarai
onta, Umar mengejar Jakfar ke tengah gurun pasir. Di pacunya Onta dengan kencang
hanya untuk membujuk Umar pulang ke rumah.

Di tengah padang pasir, Jakfar yang terus menerus menyesali kesalahannya
berjanji, mulai sekarang apapun yang akan diperintahkan ayahnya dia akan ikuti.

Maka sampailah Umar, mendekati Jakfar. Dari kejauhan, pandangnya anaknya yang
sudah bertobat itu. Namun Umar masih tak punya cara untuk meminta agar anaknya
berbalik arah. Maka diperintahkannnya Jakfar untuk berjalan terus, terus,
terus…. Dan terus.

Dalam hati Jakfar, sangat menyesal. Seumur hidup dia belum pernah mengikuti
perintah ayahnya. Maka dengan keiklasan dan penyesalan, dia ikuti saran ayahnya,
meskipun dia tahu, di depan sana, pasir hisap yang tak berdasar telah siap
menelannya.

Umar terus memerintahkan anaknya maju. Meskipun dia tahu, bahwa sumur pasir
telah menanti buah hatinya. Dia berharap Jakfar membantahnya kali ini.

Tuhan sudah menetukan nasib Jakfar. Meski dia tenggelam di telan pasir, dia
tak terlambat untuk berbakti pada oorang tuanya.

Demikianlah adik-adikku.
Pesan moralnya adalah, hormatilah orang tuamu. Dengar nasehatnya. Sebab
nasehat mereka ada benarnya.

Sekian.

2 Tanggapan to "Nasehat Orang Tua, (Sebuah cerita dari Pengajian Cak Nun)"

terimakasih, semoga saya bisa berbakti kepada orang tua saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: