hujan deras

Jakarta: Sebuah Perspektif dari Seorang Anak Desa

Posted on: 19 Februari, 2007

(Mengutip Frasa Tukul Arwana: Ndeso!)

Si Bambang tergoda untuk datang ke Jakarta . Kenapa? Terang saja, di kampungnya dia tak bisa kerja.

Si Zackaria jauh-jauh dari tanah Papua, datang ke Jakarta . Alasannya, di Tanah Papua tak ada sekolah.

Si Ucok nyebrang lautan tiga hari dua malam dengan kapal laut ke tanah Batavia . Katanya, “Aku mau nonton tuenti-wan (21)”. Sebab di kampungnya tak ada gedung bioskop.

Si Cut hobbinya shopping. Di tempatnya tak ada mal. Maka diputuskannya untuk menguras tabungan, datang ke Jakarta , khusus untuk belanja.

Jakarta menjanjikan semuanya. Bahkan mimpi anak-anak juga ditawarkannya. Jutaan oran g datang ke Jakarta bukan tanpa alasan dan tujuan. Jutaan oran g datang ke Jakarta karena di sana peluang lebih besar. Kenapa? Jangan Tanya kenapa deh.

Sebegitu lamanya keadaan yang terkondisikan ini terjadi. Bahkan, Jayakarta, Batavia ataupun Jakarta hari ini, sudah didatangi imigran dari berbagai pulau di nusa antara. Tak cuma dari archipelagos Sabang sampai Merauke, Jakarta sudah menjadi pusat perkembangan peradaban bagi beberapa negara sejak ratusan tahun lalu.

Dan hari ini, tidak mudah untuk mengatakan alasan kedatangan oran g-orang ke propinsi yang luasnya tak lebih besar dari Pula u Batam ini.

Benarlah, bahwa kenya taan hari ini, dimana politik sentralisir yang diwariskan Belanda menjadikan Jakarta sebagai tempat yang vital. Apa pun ada di tanah ini. Mulai dari pabrik yang besar, sekolah paling mutakhir, mal paling mewah sampai bioskop paling nyaman, ADA .

Siapa yang tak tergoda untuk datang ke Jakarta ? Mulai pemimpi dari desa, sampai kepada pemburu kepuasan duniawi, semua numpleg di sana . Akibatnya, pemerintah daerah Jakarta menjadi kelimpungan sendiri.

Hal tersebut bukanlah penyakit yang tak bisa dihindari. Membludaknya arus kedatangan imigran dari daerah setiap tahun (fenomena setelah lebaran) adalah bukti dari Jakarta adalah magnet bagi daerah di sekitarnya.

Begitulah, setelah Jakarta dijejali pendatang, kemudian daerah menjadi lengang. Tanah-tanah kosong tak digarap, sementara di Jakarta oran g-orang lebih memilih tinggal di kolong jembatan. Ini dia Fenomena Pembangunan!

Dimana yang dibangun hanyalah sekelompok daerah, yang akan terus menjadi magnet bagi kedatangan kaum ur ban yang tak dapat dibendung.

Kesempatan yang tak dimiliki daerah untuk membangun (apalagi otonomi daerah ternyata hanyalah kampanye palsu atas apa yang dinamakan pemerataan), membuat daerah di luar Jakarta menjadi “tetap terasing”. Sementara Jakarta sudah maju sepuluh langkah, di daerah masih tertinggal duapuluh langkah. Wacana daerah memiliki kekuasaan yang otonom pun tinggal jadi wacana. Semuanya mandek ketika isu pemerataan yang diniatkan peru mus kebijakan otonomi daerah, tidak terealisasi. Tepatnya bukan karena tak bisa terealisasi, tapi tak mau merealisasikannya.

Lantas apa yang bisa diharapkan warga yang tingggal di daerah? Ya…. Kabur ke Jakarta ! Karena di Jakarta, semuanya punya peluang untuk mewujudkan mimpi-mimpinya yang tak bisa dibuktikan di daerah.

Pfuh… nasiblah, kalau sesampai di Jakarta ini, ternyata semutan kaum ur ban tersebut terpaksa bersaing. Dan akibatnya? Yang repot tentu saja pemerintah daerah Jakarta !

Setiap tahun, angka kriminalitas di Jakarta bertambah. Hal ini dipacu karena terbatasnya lapangan kerja yang tersedia. Selain itu rata-rata pendatang yang digelapkan oleh mimpi semu tentang Kota Jakarta, memiliki skil yang terbatas. Malu pulang, dan tak memiliki aset di kampung (karena tanahnya sudah dijual, atau mungkin kebonya yang dijual) memaksa pendatang yang tak kebagian kesempatan memilih hidup di jalan kegelapan (hehe, kayak ksatria baja hitam aja yah?).

Bukan cuma angka kriminalitas yang meningkat, tetapi juga kemiskinan! Dan ini sangat kontras. Tak perlu membandingkan dengan daerah, untuk melihat kasus kemiskinan di sini. Karena di samping apartemen yang megah, pasti ada gubug reot yang nyaris tumbang. Perhatikan deh.

Yang paling mencengankan dari itu semua adalah, Fenomena Lebaran dan Imlekan. Hehehe.

Terus terang ini sebuah kemaluan yang cukup membuat muka merah. Bayangkan saja, bagaimana mungkin, Jakarta yang metropol ini ternyata memiliki cukup banyak stok gembel? Peminta-minta? Pengamen? Orang gila yang tak tertampung lagi, dan berkeliaran bebas? (kemana dinas sosial sembunyi?).

Habiskah, penderitaan kota Jakarta karena menjadi hujatan Rakyat Ind onesia yang tak dapat kesempatan? Belum. Belum saudara-saudaraku!

Setelah kerontang cukup lama di tanah yang dijanjikan ini, musim hujan pun turun. Bila biasanya hujan selama dua jam cukup membuat macet jalanan, kali ini, hujan turun berhari-hari dengan curah yang tak begitu tinggi.

Akibatnya, air naik, meluap, banjir…. Karam. Jakarta jadi empang! Jangan tanya ini salah siapa. Sebab hujan turun memang sudah hukum alam. Siklus yang turun memang berlaku sejak alam diciptakan. Hujan selama enam bulan dan panas selama enam bulan memang terjadwal. (kalau tidak percaya tanya pada BMG aja deh).

Artinya, hujan yang turun bukan tidak bisa diprediksi. Dan ketika semua sudah jelas diprediksi tentu saja bisa diambil langkah antisipatif. Tapi begitu, Ibukota negara RI yang telah menjanjikan semuanya ini gagal total. Dan setelah banjir mengaramkan hampir semua wilayah, kemudian, dengan gampang semua oran g mengatakan: “ini bencana”.

Ampuun!! Dimana logikanya? Dimana logikanya saudara-saudaraku?

Banjir bukan bencana. Digaris bawahi kata-kataku ini. Banjir bukan bencana. Manusia lah yang menjadikannya banjir sebagai bencana. Sedangkan alam hanya menjalankan hukum dan ketetapan yang sudah dimilikinya sebagai sebuah materi (alam itu sendiri) yang telah ada.

Jadi bagaimana? Apa masih percaya dengan Jakarta ? Atau, kita pindah saja Ibukota RI dari sini? Sebab di sini, penyakitnya sudah terlalu banyak. Sudah tak sehat. Lagi pula biar semua daerah punya kesempatan untuk berkembang. Siapa tahu, nanti pengangguran di Jakarta bisa gantian kabur pindah ke Ibukota negara yang baru. Nah… kalau sudah ada pemerataan, boleh deh ibu kota kembali ke Jakarta lagi….

 

2 Tanggapan to "Jakarta: Sebuah Perspektif dari Seorang Anak Desa"

Bang Yos,Silence please deh…. kembali ke laptop aja. biar cuek ndeso. yang penting… puas…puas..puas….!
tak sobek-sobek!

Hehehe, cooling down mas…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: