hujan deras

Papa, Berapa Harga Waktumu?

Posted on: 26 Agustus, 2006

–Untuk adik2 ku dan bakal calon anakku kelak,–

Adalah seorang ayah yang selalu sibuk bekerja. Sampai sibuk-nya dia acap kali lupa pada kehidupan di luar kerja. dia lupa kalau dia adalah seorang anak dari seorang ibu, dia lupa kalau dia adalah adik dari seorang kakak, dia lupa kalau dia adalah seorang suami dari seorang istri. Dan dia juga jadi terlihat seperti seorang ayah yang lupa pada anaknya.

Suatu hari ketika keluarga itu tengah duduk-duduk menikmati sajian televisi, istrinya bertanya, mengenai anak mereka yang ternyata beberapa hari terakhir sering bertanya tentang ayahnya. Anak itu masih kecil, duduk di sekolah dasar kelas satu. Si istri merasa iba setiap kali anaknya bertanya perihal kesibukan ayahnya.

Lalu, dengan bijak si ayah mencoba menerangkan kepada istrinya bahwa apa yang dilakukannya selama ini tak lain dan tak bukan adalah usaha agar anak-istrinya dapat hidup terpenuhi. “Saya bekerja keras, siang malam, tak kenal waktu, itu demi kamu dan demi buah hati kita,” papar si suami beralasan.

Lagi lagi si istri hanya mengangguk membenarkan kata-kata suaminya yang memang bekerja sangat keras. Sementara itu tak jauh dari tempat mereka berbicara, si anak telah tertidur pulas, di antara pangkuan ibu dan ayahnya.

Suatu hari, ketika si ayah baru pulang dari tempat kerjanya. betapa kagetnya dia melihat si anak tiba-tiba muncul di depannya sambil membawa celengan yang telah dipecahkan. Melihat hal itu, tentu saja si ayah terkejut, dan belum dia mengganti bajunya, dia gendong anaknya itu. dengan heran dia bertanya tentang alasan si anak memecahkan tabungan.

“Ayah, tabunganku ada empatpuluhlima ribu rupiah. Ini adalah uang yang selalu diberikan ibu setiap kali aku mau pergi sekolah. memang belum banyak ayah. Belum bisa membeli baju bagus buat ayah. atau membeli kaset games terbaru.’ bisik anaknya memulai kisah.

“Tadi aku sudah minta ijin pada mama untuk memecahkan tabungan ini. kata mama boleh-boleh saja.”

Si ayah masih tak mengerti maksud si buah hati. “Uangku memang kurang kok Yah, makanya tadi aku katakan pada mama, kalau aku berhutang dulu pada mama.”

Si ayah membelalakkan matanya,

“Untuk menutupi kekurangannya, aku meminjam uang mama.” sampai disitu, si anak terdiam.

Dengan penasaran, si ayah bertanya, “memangnya kamu mau beli apa Nak?”

“Aku mau pergi dengan ayah, berdua saja. Kita jalan-jalan, beli es krim, mandi bola, beli mainan. Ngga lama kok Yah. Cuma 30 menit. Aku mau beli waktu ayah, hanya 30 menit. Meski tak bisa kubayar sebesar gaji ayah sebulan. Tapi aku mau beli waktu ayah selama 30 menit.”

Mendengar kata-kata anaknya, si ayah meneteskan air mata. di peluknya si buah hati makin erat. Semakin mesra. Sementara istrinya yang berdiri tak jauh dari tempat mereka berbicara, ikut meneteskan air mata.

ps; uang memang penting tapi keluarga tetap nomor satu.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: