hujan deras

Perang Hizbullah-Israel Hancurkan Peradaban

Posted on: 20 Agustus, 2006

www.rakyatmerdeka.co.id

Jumat, 18 Agustus 2006, 19:50:53


SETELAH hampir 32 hari, genjatan senjata di Libanon terkait diterimanya resolusi PBB No. 1701 oleh Dewan Keamanan (DK) PBB secara konsensus, awal pekan ini, akhirnya disepakati. Israel pun secara bertahap mulai memundurkan pasukannya dari wilayah selatan Libanon. Namun tak bisa dipungkiri kerusakan peradaban telah terjadi akibat perang antara tentara Israel dan pejuang Hizbullah.

Kekerasan seperti itu bukan pertama kali mengguncang negara tersebut. Antara 1975 dan awal 1990-an, perang saudara telah menewaskan sekitar 100.000 orang dan menyebabkan kehancuran infrastruktur dan perekonomian negara tersebut. “Ke depan, kami berharap upaya perdamaian di sana segera diwujudkan. Gencatan senjata itu mungkin terlambat, karena perang sudah berlangsung 32 hari, tapi hal itu cukup baik untuk mencegah jatuhnya korban lagi dan juga mempermudah akses bantuan kemanusiaan,” ujar Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi.

Ketua Pengurus Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB), Abdul Muhaimin, menyatakan persoalan kemanusiaan yang terjadi di wilayah perang di mana pun merupakan persoalan universal. Karenanya, korban yang jatuh akibat agresi Israel di Libanon juga sudah semestinya menjadi keprihatinan bersama semua manusia yang beriman.

“Jatuhnya korban jiwa jangan dipersepsikan secara kuantitatif. Berapa pun korban jiwa manusia yang jatuh akibat perang Israel- Libanon haruslah menjadi perhatian serius. Apalagi, sebagian korban itu masih anak-anak,” ujar Abdul.

Dalam pernyataan sikapnya, FPUB yang berkantor sekretariat di Pondok Pesantren Putri Nurul Umahat, Kotagede, menyoroti sejumlah hal. Antara lain, perang selalu berakar pada persoalan politik dan kekuasaan yang akhirnya selalu menghancurkan peradaban. Sehingga, kegiatan yang sifatnya mendukung atau membiarkan terjadinya kekerasan merupakan bentuk kejahatan yang akan menjadi musuh peradaban.

Romo Suyatno yang tergabung dalam FPUB menambahkan, pihaknya mengimbau dan mengajak semua lembaga kemanusiaan di dunia untuk berperan aktif dalam menghentikan kekerasan di Timur Tengah. Dalam hal ini, PBB juga diminta segera bertindak secara proporsional atas krisis tersebut.

Pemerhati masalah sosial Rini Rahmalia, menyatakan, selama ribuan tahun, Libanon menjadi persimpangan utama peradaban. Karena itu tidak mengherankan, negara kecil ini mempunyai budaya yang luar biasa kaya dan hidup. “Campuran kelompok etnis dan agama yang sangat luas di Libanon ikut menyumbangkan tradisi makanan, musik dan sastra, serta festival,” ujarnya.

Beirut khususnya, kata Rini, merupakan panggung seni yang sangat hidup dengan berbagai pertunjukan, pameran, mode dan konser yang diadakan sepanjang tahun di berbagai galeri, museum, teater dan tempat terbuka. Masyarakatnya modern, terdidik, sangat mirip dengan banyak masyarakat Eropa lainnya di Mediterania. “Meskipun sangat mirip dengan Eropa, Bangsa Libanon sangat bangga pada warisan mereka serta menjadikan negeri itu dan khususnya Beirut sebagai pusat kebudayaan dunia Arab,” cetusnya.

Lebih jauh Rini menyatakan, Libanon adalah negara anggota Organisation Internationale dela Francophonie (negara berbahasa Perancis). Itu sebabnya, kebanyakan orang Libanon berdwibahasa –mampu berbahasa Arab dan Perancis. Namun demikian, lanjut dia, Bahasa Inggris kini sangat populer khususnya di antara mahasiswa. “Di negara ini, penganut Agama Kristen bergaul akrab dengan Muslim. Libanon juga merupakan pintu masuk Arab ke Eropa, dan sebaliknya menjadi jembatan Eropa ke dunia Arab,” tegasnya.

Rini menyayangkan, pertempuran antara tentara Isreal dan pejuang Hizbullah sedikit banyak telah merusak peradaban di wilayah Libanon yang berangsur membaik setelah negeri itu mengalami kerusakan akibat perang selama 15 tahun pada era 1975 hingga awal 1990.

Ketua Umum Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin menambahkan, yang paling penting saat ini adalah segera mengakhiri perang agar korban warga sipil tidak terus berjatuhan dan Libanon bisa segera bangkit dari keterpurukan akibat gempuran militer Israel. “Yang paling utama adalah menghentikan perang sehingga korban tidak terus berjatuhan dan terjadi perang yang lebih meluas lagi,” ungkapnya.

Sementara mantan Menteri Agama yang juga rektor Universitas Islam Azzahra, Jakarta KH DR Tarmizi Taher menegaskan, agresi militer Israel ke Libanon dan Palestina jika tidak terselesaikan dikhawatirkan akan mendorong munculnya radikalisme baru dan radikalisme ekstremisme. “Kalau ini tak terselesaikan akan sangat mendorong terjadinya radikalisasi dan munculnya radikalisme serta ekstremisme. Apalagi kalau ini dikaitkan dengan agama dari orang -orang yang tak punya cara lain untuk mempertahankan diri terhadap agresi Israel,” jelasnya. AT

2 Tanggapan to "Perang Hizbullah-Israel Hancurkan Peradaban"

Perang hanya akan menghancurkan segalanya. Wahai manusia tobatlah, sadar kalau semua perbuatan sia-sia

Israel akan menang, secara lapangan tapi secara psikologis israel telah kalah. Buktinya semakin banyak pihak yang kurang suka dengan israel. Musuh israel harus berani mengambil kesempatan, dalam krisis ekonomi global buatlah US sekutu israel bangjrut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: