hujan deras

Zidane vs Materazzi, Praktek Rasialis yang Terbukti

Posted on: 12 Juli, 2006

Teman saya berteriak galau bercampur makian, ketika di menit ke tujuh, si
Jenius dari Perancis mampu memerawani gawang si “Laba-laba” Buffon. Maklumlah
dia (teman saya itu) adalah tifosi Azzura, Italia. Pada saat yang sama, mungkin
jutaan orang melakukan yang sama dengan teman saya. Tetapi Perancis tetap
memimpin satu gol atas Italia.
Lantas suara membahana dari suporter tim Perancis membelah langit
Senayan, Indonesia.

Saya ada di sana, menonton partai Final antara Perancis “Les Blues” vs
Italia “Azzuri” (biru lawan biru).


Keunggulan Perancis tercipta oleh tembakan manis playmaker Real Madrid
itu tepat dari titik 12 pas. Lantas serangan demi serangan pun semakin terasa
kencang dilakukan Henry dkk.

Saya menonton siaran langsung pertandingan itu di antara dua pendukung
yang bersorak-sorai menjagokan keseblasan favoritnya.
Mungkin karena tim jagoan saya sudah kandas di babak-babak awal (saya
menjagokan kesebelasan Ahmadinejad, Iran, red), sehingga saya tidak begitu
menjagokan satu diantara kedua kesebelasan yang tengah berjibaku saling
membantai.

Maka saya pun cumamenjadi penonton yang baik. Penonton yang perasaannya
dimain-mainkan seiring kemana si kulit bundar ditendang. Kadang saya suka
Perancis, kadang juga saya suka Italia.

Sementara yang hadir ke sana, (saya curiga, kalau mereka menjagokan satu
dari kedua kesebelasan) rata-rata penuh dengan atribut dari keseblasan yang
sedang bertanding. Mulai dari kostum, bendera, coreng-moreng warna bendera di
wajah. Begitulah,meski Indonesia tak ikut Final Piala Dunia, tampaknya
pertandingan kedua negara itu cukup menjadi penawar bagi bola mania di tanah
air.

Alkisah, memasuki menit ke-19, Italia mendapat kesempatan tendangan
pojok. Ialah Marco Materazzi melalui tandukan mautnya berhasil menyapu bola
umpan dari Andrea Pirlo. 1-1 skor sementara.

Sontak giliran pendukung Italia yang bersorak girang. Menyaksikan
jagoannya berhasil mengejar ketertingalan dari Perancis.

Ada yang menarik dari jalanya pertandingan. Italia yang sempat bermain
menyerang yang ketika berhasil mengejar ketertinggalan, lantas kembali bermain
layaknya sepak bola Italia sesungguhnya. (a la Catenaccio kabarnya).

Selama sisa babak pertama, Perancis terus membombardir pertahanan Italia
yang dikawal Materzzi.

Memasuki babak kedua, saya kira akan ada kejutan-kejutan baru yang akan
ditampilkan dari kedua belah negara yang tengah haus kemenangan. Namun ternyata
keliru. Secara khusus saya tak ada melihat perubahan berarti dari permainan
kedua keseblasan, kecuali, Perancis yang semakin angker menyerang. Dan
pertahanan Italia yang kian berlapis-lapis.

Memasuki pertengahan babak kedua. Permainan semakin cepat. Tekhnik
menyerang tingkat tinggi diperlihatkan Perancis. (bahkan saya tak pernah
melihat tehnik itu pada babak pertama final piala dunia). Serta tehnik
pertahanan di kembali dipertunjukan Italia (Seperti biasa, saya cendrung tidak
suka melihat permainan bertahan a la negeri Pizza itu).

Sampai penghujung babak kedua, kedudukan tak berubah. Sehinga mau tak mau
kedua kesebelasan harus memainkan babak tambahan waktu. Memang tak cuma energi
yang terkuras dalam pertandingan tambahan. Sedikit demi sedikit temperamental
dan emosi mulai diperlihatkan.

Balas membalas pelanggaran pun semakin biasa terjadi. Sejumlah pemain
dari kdua tim mulai diganti.
Sedikit cooling down, Perancis mencoba sabar dongkrak gerendel Italia.
Sehingga Gigi Buffon harus bekerja keras membanting badan di depan gawang.

Saya menonton dengan tegang. Saya kira Perancis layak menang. Karena
melihat serangan dan cantiknya pola mereka bergerak merambah wilayah pertahanan
lawan. Saya ira, dalam waktutak berapa lama, Buffon pasti akan memungut bola
dari dalam gawangnya, mengingat David Trezeguet “Trezegoal” masuk menggantikan
Frank Ribery.

Pendukung dari kedua tim yang menonton pertandingan itu tentunya semakin
tegang. Sebab sudah memasuki menit-menit akhir, kesebelasan favorit belum juga
menambah angka, akankah harus berakhir dengan drama adu pinalti?

Kejutan benar-benar terjadi. 10 menit menjelang babak kedua berakhir,
tiba tiba wasit Horacio Elizondo menghentikan pertandingan.
Di layar terlihat Materazzi terkapar menahan sakit. Tak seberapa lama,
kemudianmuncul tayangan replay. Zidane menanduk Materazzi!! Yeah… si pemain
low profile itu melakukan tindakan konyol!

Tiba-tiba Senayan, (tempat saya menonton) diledakkan dengan teriakan yang
memaki Zidane. Ribuan orang yang hadir di sana, yang menjagokan Italia. Dengan
mudah memuntahkan makian kasar kepada Zidane.

Masih menatap layar lebar yang menampilkan si “terdakwa” Zidane, saya
melihat Horaccio bimbang untuk mengeluarkan kartu.

Benar, seolah mendengar harapan tifosi Italia sedunia, Horaccio kemudian
mengeluarkan kartu merah! Kartu merah untuk si botak menutup karir
internasionalnya!! Tragis, saya berbisik. (sementara teman saya di samping
tertawa puas, sambil terus memaki Zidane).

Zidane keluar lapangan, tapi bola terus digulirkan. Hingga, hingga drama
adu pinalti tak terhindari. (tayangan ini tak baik untuk pengidap sakit jantung
atau pengidap darah tinggi,).

Perancis kalah, namun konon seluruh pendukung tim ayam jantan itu
meyakini, kekalahan Perancis dalam adu pinali adalah karena si Profesor Zizou
tak ikut mengeksekusi dari titik 12 pas.

Itali, Warisan Benito Musolini
Oke, whatever dengan keyakinan pengagum Zidane dkk. Tapi, ternyata
dibelakang hari ada kisah baru yang tak bisa dikisahkan lewat potongan tayangan
reply dimana momen Zidane menanduk Mate.

Status pemain terbaik yang dipersembahkan bagi Zidan lantas
dipertanyakan. layakkah… dia (yang dikartu merahkan) mendapat anugerah itu?
Sementara perbuatannya di lapangan sama sekali tidak mencerminkan sepak bola
fair play.

Polling pemain terbaik ditutup pada turun minum babak pertama. Dan Zidane
ungul tipis atas Fabio Canavaro. Jadi, Zidane mutlah berhak atas anugerah itu.

Namun.. kemudian orang-orang bertanya-tanya soal adegan replay yang
sebenarnya tak dilihat Horaccio Elizondo: Materazzi terkapar, setelah dengan
maut Zidane menanduk dadanya.

Tak ada asap kalau tak ada api. Demikian orang Roma berkata. Perlahan
tapi pasti, terkuaklah misteri alasan Zidane menanduk Materazzi.

“Meritate tutti ciò, voi gli enculato di musulmani, sporchi terroristici.
(Kamu semua (maksdunya Zidane yang keturunan Arab) pantas mendapatkan itu. Kau
keparat Muslim semuanya adalah teroris)”. Konon begitulah Marianne Free, ahli
pembaca gerak bibir kenamaan dari The Sun menerjemahkan gerakan bibir Mate yang
beberapa saat sebelumnya terlibat perang mulut denga Zizou.

Begitulah, meski final telah usai dan Italia menjadi juara. Tapi bola
yang sesungguhnyabaru saja kickoff. Bola itu adalah isu rasialisme yang
selama ini menghantui tidak saja penduduk dunia yang entah beragama, suku, ras
bahasa atau profesi apa. Tapi juga dalam olah raga, (yang konon katanya adalah
“agama” universal yang baru, yang dapat menyatukan siapa saja), kemudian
menjadikannya ladang pembantaian baru bagi orang-orang yang memiliki semangat
dan jiwa fasis yang ultranasionalis.

Tentu Zidane tak sendirian menahan sakit hati atas ledekkan kasar
Materazzi. Di luar sana, milyaran orang yang (malahan mungkin saja tak kenal
Zidane sama sekali,) include dalam maksud Materazzi, pasti akan tersakiti
hatinya.

(Benar saja, teman saya yang tempoh hari mengutuk Zidane, begitu tahu
pelik perkaranya lantas berubah 380 derjad. Maklumlah, dia itu seorang Moslem
yang taat)

Materazzi telah mencoreng wajah agama universal baru poeradaban manusia.
Materazzi telah membuat siapa saja yang memeluk “agama” baru itu merasa tidak
nyaman.

Saya tidak hendak menghakimi Materazzi, saya tak kenal mengenal dengan
beliau. Ataupun Zizou. Tak ada untung ruginya bagi saya untuk membelanya.
Tapi saya, yang hidup di tengah-tengah keluarga yang mencoba harmonis,
sangat terganggu oleh perlakuan dan provokasi yang dilakukan Mate.

Sepak bola itu “agama” yang indah. Si kuning, si hitam, si merah,
semuanya dapat bersatu di dalamnya. Buang picik dan prasangka buruk terhadap
sesama. Saya kira agama manapun mengajarkan demikian.
Say no to Racisme, no more new Hidler, no more new Musolini.

-Bermain sajalah, tak perlu dipolitisir-

(Haidar al Mustafa berkhdimat untuk korban rasial di manapun berada)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,087 hits
%d blogger menyukai ini: