hujan deras

“Habis Gelap Terbitlah Indonesia Raya”

Posted on: 21 April, 2006

Tulisan ini dibuat untuk menanggapi tulisan Bung Billy di Milis Kasat.

Pertanyaan andalan gue: masa sih, Kartini itu seorang lesbi?

“Habis Gelap Terbitlah Indonesia Raya”
Di awal tahun 1900-an, Kartini muda yang ketika itu dipaksa kawin dengan
seorang Bupati dari Rembang, Adipati Djojodiningrat, yang telah memiliki tiga
orang istri. (Kartini menjadi korban poligami, hehehe)

Sebagai seorang yang terpelajar, (di jamannya tak banyak kaum perempuan yang
bernasib baik dengan duduk di bangku sekolah ELS (Europese Lagere School). Di
sini antara lain Kartini belajar Bahasa Belanda.

Karena itu Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar
sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari
Belanda.. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari
buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir
perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, dimana
kondisi sosial saat itu perempuan pribumi berada pada status sosial yang
rendah.

Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotif, dia juga
menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan).
Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat,
juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian
beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari
surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil
membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan
atau mengutip beberapa kalimat.


Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga
masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh
kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih
luas.

Berdasarkan kesempatan-kesempatan itulah, Kartini yang berasal dari
golongan feodal itu lebih istimewa dibandingkan perempuan lain di masanya.
Bukankah terbukti, kalo perjuangan revolusi di Indonesia ini persis sama
seperti yang terjadi di Perancis pada saat kaum borjuasi kecil berjuang demi
sepetak tanahnya? Soekarno juga sudah mengatakan, bahwa gerakan revolusi dan
perjuangan Bangsa Indonseia ini adalah merupakan gagasan para borjuis kecil
yang tetap memelihara tatanan feodalistik dalam alam kemerdekaan?

Mengenai Kumpulan suratnya kepada “teman” nya, Mrs Abendanon, kemudian
pertama kali dibukukan pada 1911, (7 tahun setelah beliau wafat ). Si pengagas
buku itu tak lain adalah suami dari ‘teman’ nya semasa melakukan korespondensi,
Jawa-Neither Land.

“Door Duisternis tot Lichtm” buku itu kemudian diberi judul oleh Mr JH
Abendanon. Kelak kemudian hari seorang penulis angkatan Balai Pustaka, Armyn
Pane menerjemahkan surat-surat kegelisahan Perempuan Kartini ke dalam sebuah
buku dengan judul ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’.

Sayang, literatur itu kini luput dari perhatian remaja putri kita yang
justru sudah mengenal sekolah tinggi, mahir berbahasa asing lebih dari tiga
bahasa, dan bebas memencet tombol SMS atau sekedar berchitchat ria di depan
internet.

Habis Gelap Terbitlah Terang cuma jadi jargon yang hidup dalam legenda
kebesaran Indonesia. Momentum yang didirikan Soekarno pada 2 Mei 1964 dengan
menjadikan tanggal 21 April sebagai kelahiran gera’an Perempuan Indonesia,
nyaris menjadi kehilangan makna.

Seolah cuma ada satu kesimpulan yang dapat diambil dari ‘dongeng Kartini’
:jaman sudah berganti, emansipasi sudah terwujud, sekarang perempuan adalah
sama dengan pria tanpa ada status alam yang dikenal sebagai kodrat yang
membelenggu mereka. Lain daripada itu, Kartini tak punya peran apa-apa terhadap
nasib perempuan Hindia Belanda!

Kontroversi di Balik Tabir Gelap Surat-surat Perempuan Kartini
Habis Gelap Terbitlah Terang kemudian menjadi kontroversi. Ketika ternyata
yang mengumpulkan mushaf-mushaf atau lembaran dari surat-surat Kartini adalah
seorang Menteri Kebudayaan Agama dan Kerajinan. Siapa lagi kalau bukan Mr. JH
Abendanon. Menjadi kontroversi karena penerbitan buku itu bertepatan pada masa
Kerajaan Belanda menerapkan sisitem politik baru di Hindia Belanda (Indonesia
hari ini, hjn).

Untuk mensukseskan rancangan Trias Politika Van De Venter, terang saja,
kalo akhirnya Abendanon menjadi sangat berkepentingan.

Awalnya teori Van De Venter adalah untuk meredam kekuatan fraksis yang
muncul di tanah airnya. Hujan kritik kepada perlakuan Kerajaan Belanda terhadap
Hindia Belanda pada masa itu memaksa mereka harus bermain cantik, dengan
mendirikan sekolah dan memperbaiki sisitem edukasi , membangun irigasi serta
mengatur emigrasi dan transmigrasi penduduk.

Sialnya, ternyata teori itu menjadi kacau setelah semakin banyaknya
jumlah penanam modal asing yang masuk ke Hindia Belanda, sehingga semua rencana
itu kacau juga.

Menyadari kemerosotan Kerajaan Belanda tak mungkin dielakkan, satu hal
yang bisa dilakukan adalah dengan tetap mempertahankan sisitem edukasi yang
menampung hanya kaum Priyayi! (dan kartini masuk ke dalam kriteria itu!).
Mr JH Abendanon (1852-1925) yang sempat menjadi direktur departemen
pengajaran dan ibadah di Hindia Belanda (Indonesia) selama lima tahun
(1900-1905), bersama istrinya akhirnya menjadi penetralisir kekesalan para
kritikus di Kerajaan Belanda. Mereka dipandang sukses dengan mendirikan
sekolah-sekolah priyayi.

Meski terus digoyang oleh kritikan pedas kelompok etis Hoevell, dalam
Tijdschrift van Nederlands Indie 1849, namun proyek ‘kemanusiaan’ terus
dilakukan.

Perempuan Indonesia: Kartini
Sukses Ngebor-nya si ratu Ngebor Inul Daratista membuat perempuan
Indonesia semakin diuji ketabahannya, dan tebal lapisan kekuatan magmanya.
Anasir mengenai sisi negatif perempuan Indonesia menjadikan perdebatan antara
pembuatan kebijakan di negara merdeka ini terhadap kaum perempuan semakin
meruncing dan tajam.

Mulai dari penerapan Syariat Islam di Nanggroe Aceh Darussalam, Penerapan
Perda No 8/2005 Tangerang mengenai maksiat yang pada juntrungnya membuat kaum
perempuan menjadi resah karena dijadikan obejek, sampai Rancangan Undang-Undang
AntiPornoaskidan grafi yang akan sangat merugikan perempuan itu, menjadi skala
prioritas yang harus dijawab tuntutan jaman kemerdekaan.


Tidak adil rasanya bila menempatkan perempuan (Kartini) pada posisi yang
melulu salah akibat prejudis-prejudis lawan jenisnya. Lantas, siapa yang jamin
kalau perangkat hukum apapun yang mengatakan bahwa aturan itu dibuat demi
kenyamanan perempuan pada umumnya, akan diterima dengan senang hatioleh
perempuan umumnya?

Siapa bilang, kalau ukuran syahwat itu dapat diatur dengan perangkat
undang-undang ciptaan manusia? Ada yang bisa jamin?


Saya tak hendak berkampanye pasal penolakan terhadap RUU APP, Tapi saya
mahu mencuba mengajak pembaca untuk kembali menapaki petilasan para pendahulu
kita. Terlepas Kartini itu siapa, toh secara kodrati dia seorang perempuan yang
dari rahimnya lahir sebuah kehidupan. Di mana dalam setiap kelahiran dan
kehidupan yang diberikan perempuan, kita mengenal kompromi. Untuk hal apa saja.
Ada yang bisa dibicarakan baik-baik, didiskusikan dan dicari solusi. Biar
produk hukumnya tak terkesan memaksa dan si pelaksana hukum merasa ikhlas
menjalankannya.

Simpan saja kasus Ngebornya si Inul sebagai suatu pelajaran yang dapat
dipetik hikmahnya. Inul Cuma menjadikan perempuan Indonesia lebih berwarna.
Dan yakinlah, di masa-masa saat ini akan semakin banyak lahir


Kartini-Kartini Muda yang sesungguhnya, yang tak sekedar membicarakan
emansipasi di forum-forum diskusi, membicarakan hak perempuan di Komnas HAM,
atau berteriak keras, Bahwa perempuan Indonesialah yang paling berperan aktif
pada saat pemilihan, sebab lebih dari separuh pemilik suara adalah kaum Hawa!
Tapi lebih dari itu, Kartini Muda hari ini adalah Kartini yang mampu
berteriak: Kartini Bukan Barang Konsumsi Yang Dapat Sesukanya Dieksploitasi!,
dieksploitasi dalam hal apa saja, termasuk untuk urusan suatu kebijakan yang
akan dikeluarkan PEMERINTAH!


Salam Saya,
Hujan (seorang lelaki yang keluar dari rahim Kartini)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: