hujan deras

The Real War Episode

Posted on: 26 Februari, 2006

Akhirnya hari itu tiba juga, hari dimana malapetaka bagi seluruh unggas
di Jakarta. Walaupun belum sepenuhnya operasi itu berhasil menyentuh sudut
kota, tapi goncangan yang diterima beberapa wilayah
di ibukota itu terasa hebat
juga. Beberapa titik yang diidentifikasi sebagai pusat peny
ebaran varian virus
Avian Influenza itu disapu bersih oleh tim khusus yang didatangngkan Gubernur
Sutiyoso dengan budget yang tentunya tidak murah. Tapi tidak lebih mahal dari
ganti rugi yang diberikan Pemprov kepada si Otong yang harus kehilanga
perkututnya yang telah dirawat Otong selama dua tahun.

Kejadian luar biasa ini memang telah menyirep perhatian seluruh rakyat
Indonesia, dari Medan Sampai Merauke. Di Jakarta, khusunya, sebagai wilayah
terbesar penyebaran endemic nomor wahid di Indonesia.

Rumah sakit Sulianti Suroso kebagian orderan penanganan virus mematikan
ini. Lantas bak monyet kebakaran janggut, media lalu berlomba menyoroti kasus
flu burung. Membuat profil si pasien yang tewas, memajang fotonya di halaman
depan dan membuat inzert peta rumah si korban. Pokoknya sampai sedetil
mungkinlah, agar beritanya menarik dan oplahnya naik.

Dalam sehari rumah orang sakit dibanjiri oleh pewarta yang haus berita.

Pada 22 Februari lalu, resmilah ultimatum orang nomor satu se DKI itu
terhadap terror flu burung. Dengan ancaman yang tentunya bukan main-main, Bang
Yos-demikian media menyebutnya- akan mengusir bagi siapa saja yang tak mau dan
rela menyerahkan unggas peliharaannya kepada tim kesehatan hewan yang akan
memeriksa. Semua jenis unggas tentunya, ya, ayam, ya itik, ya angsa, ya dan
burung. Tapi bukan ‘burung’ yang itu kok. :p

Walhasil dari proyek perang terhadap flu burung di 55 Kelurahan di
Jakarta itu, dana yang digelontorkan untuk mengganti rugi unggas peliharaan
yang dimusnahkan memakan biaya yang gila banyaknya… cukup membangun rumah untuk
para gembel di ibukota, membangun rumah produksi bagi para penganggur, membuat
sekolah rakyat… (bujruk, 600 miliar cing!). dan bagi yang unggasnya dimusnahkan
diganti dengan Rp 10 ribu perak. Luar biasa… ini baru Kejadian Luar Biasa.

Lantas bagaimana masyarakat yang menilai kebijakan bang Yos itu? Walah
dalah, nda tau saya. Macam-macam saja yang dilontarkan mereka, pemelihara
unggas yang ternyata, di dominasi oleh orang “have not” alias miskin. Ya bilang
kelewatanlah, pakai usir-usiran segala. Ya bilang pasrahlah walaupun cuma
diganti sepuluh ribu perak. Halah, ntahlah.

Tapi yang jelas untuk urusan usir-usiran begini, Bu Nursjahbani
Katjasungkana anggota komisi III DPR tidak sepakat. Nah, menurut orang yang
getol ngomongin Hak Azaasi Manusia ini, pengusiran itu tidak bijaksana karena
tanpa negosiasi dulu. Ibu dari F-PKB ini juga bilang, kalau dia curiga dengan
virus flu burung yang lebih bia dianggap sebagai suatu masalah yang
dibesar-besarkan saja. (sumber:KCM)

Waduh, kalau sudah begini, bagaimana dong Bang Yos? Njilimet banget ya
untuk urusan satu ini. (Saya mulai curiga, kalau urusan flu burung aja orang
pada pusing, apalagi urusin NKRI ini). Padahal itu yang namanya fenyakit flu
furung tidak fisa komfromi dan negofiafi. Dan sementara Hak Azasi juga butuh
dijunjung tinggi.

Tapi menurut saya, ini soal burung, eh maaf. Soal flu burungnya. Halah.
Flunya burung maksud saya. Kok nda bisa diberesin dengan aman dan tidak
menyakitkan orang lain? Apa memang begitu skema kerjanya? Dimana selalu ada
yang berkorban dan yang dikorbankan untuk kepetingan seluruh umat? Apa tidak
ada cara lain?

Alkisah di sebuah tempat di pelosok Jakarta yang miniatur sebuah mall
ini, seorang anak memelihara seekor burung. Bagi semua orang burung itu memang
tak ada harganya, (tapi bagi Bang Yos tentu ada. Rp 10 Ribu harganya). Anak itu
sangat cinta pada burungnya itu. No body knows perihal hubungan si anak dengan
burungnya.

Pada suatu hari burungnya diminta oleh petugas yang didatangkan khusus
untuk membersihkan Jakarta dari penyakit bernama H5N1. Si anak ini miskin.
Ketika disodori uang gobanan dia mau menerima. Tapi untuk melepaskan burungnya
dia tidak mau. Lha? Terang saja, burungnya itu, maksud saya burungnya itu
adalah satu-satunya teman yang dapat membuat dia bahagia. Membuat dia lupa pada
kenyataan bahwa dia itu miskin dan ngga mau ngerti duit gobanan. Yang ada di
kepalanya Cuma burungku sayang.

Tapi ketika dia akhirnya diminta menyerahkan sang burung yang konon
kabarnya terinfeksi avian Influenza, dia bingung. Dengan sopan dia tolak uang
goban itu. Tapi tidak semudah itu ternyata. Kesulitan si anak justru baru
dimulai. Dan mulut api petaka sudah menunggu si burung di luar sana. Si anak
pun kehilangan burung kesayangannya. Dia stress dan akhirnya… akhirnya lahirlah
ketakutan-ketakutan saya…
Bisa jadi si anak bunuh diri karena tak sanggup menahan sedih.
Bisa jadi si anak menjadi penjahat karena kehilangan kasih sayang sang
burung.
Bisa jadi si anak mendatangi rumah Bang Yos dan mencuri seekor burung
dari halaman Bang Yos.
Bisa jadi si anak jadi bego dan malas menghadapi masa depannya.
Bisa jadi.. bisa-bisa saya sajalah, untuk mengatakan, bahwa “final
solution” atas unggas itu bukan jalan tengah.

Lha? Lalu jalan tengah itu apa dan mana? Iya, iya saya sedang bertanya.
Ini pertanyaan saya. Pertanyaan yang terus ada di pikiran kita yang mau serius
mengkulik-kulik fenomena alam ini tanpa ada tedeng aling-aling dan
keingintahuan yang sarat kepentingan.

Sampai hari ini, perang terhadap flu burung yang berarti perang terhadap
burung itu masih terus dikorbankan. Entah berapa nyawa manusia lagi yang
melayang. Dan entah berapa nyawa unggas pula yang akan melayang.

Yah, kita tunggu sajalah, sampai ada yang menawarkan jalan tengah.

Djenar_saja

(penikmat ayam goreng ala centucky)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: