hujan deras

For “Malin” with Love

Posted on: 16 Januari, 2006

(Antara Semangkuk Bakso dan celana dalam merek Jaguar)

Seorang tukang bakso mengeluh,”karena media memberitakan ada bakso yang direndam dengan formalin, pendapatan saya turun sangat drastic’, matanya berkaca-kaca suaranya bergetar oleh amarah. Biasanya Pak De, (demikian biasanya, kami, mahasiswa UBK menyebutnya) tak akan terlihat kuyu seperti itu. Beberapa hari ini, dia terlihat menderita. Pukul 4 sore, biasanya kami tak akan melihatnya lagi di depan pagar kampus, sambil menongkrongi gerobak dorong, yang di bagian depan kacanya tertempel stiker, SBY-JK dalam pemilu lalu.

Jam sudah menunjuk pada angka yang senja. Pukul 6 sore! Dan baksonya belum habis. Dan Pak De terlihat semakin pusing, mengingat, beban bawaannya pulang semakin berat. Berat karena dia harus membawa kembali gerobak dengan berat yang nyaris sama dengan ketika dia membawa pergi gerobak dari rumah. Berat karena dia harus menutupi kerugian hari ini, kerugian berkilo-kilo daging yang tak habis. Berat karena besok dia terpaksa menjual bakso-bakso itu kembali, dengan konsekwensi akan sama dengan hari ini.

Cairan pengawet mayat dengan nama keren Formol – Methylene aldehyde – Paraforin, Morbicid – Oxomethane – Polyoxymethylene glycols, Methanal – Formoform – Superlysoform, Formic aldehyde – Formalith – Tetraoxymethylene, Methyl oxide , Karsan – Trioxane, Oxymethylene – Methylene glycol itu memang tidak baik untuk kesehatan. Karena medis mencatat beberapa efek samping yang diakibatkan dari penggunaan zat kimia yang cukup kita sebut dengan formalin saja.

Serangkaian operasi pengamanan dan penyelamatan masyarakat pun digelar BPOM untuk mengejar dan melacak aliran penggunaannya. Mulai dari pabrik penyuplai, pabrik tahu, toko kelontong yang menjual ikan kaleng. pasar ikan, Supermarket, produk melamine, tukan tahu dan gerobak Pak De.

Namun agaknya kesulitan. Karena penggunaan formalin ternyata bukan Cuma untuk gayaan-gayaan saja, formal-formalan, tapi memang ternyata sudah sangat akrab dan karib dengan kehidupan sehari-hari. Penggunaan formalin seperi penggunaan cabe, meskipun pedas, tapi diperlukan. Sebegitu susahnya penciuman dan upaya penyelesaian kasus pemakaian formalin secara berlebih, hingga akhirnya Majelis Ulama Indonesia (baca: yang punya republik ini) marah dan mengancam akan mengeluarkan fatwa haram untuk pemakaian formalin. Busyet!

Aksi keras, negara dan pemuka agama ini, tenyata tak sampai di situ. Tercatat sejumlah kerugian tak tertahankan diterima orang kecil, yang selama ini terpaksa bergantung pada kaum kapital penyuplai cairan maut ini. Tukang tahu jadi hanya bisa menjual beberapa potong saja sehari, nelayan tak bisa mendapat uag tambahan buat beli solar perahunya yang telah menjulang kelangit. Pak De tak bisa membawa pulang gerobak baksonya dengan kosong. Dan.. dan…. Kita harusbertanya dulu pada penjaga warung tegal bila ingin memesan seporsi makanan. “Mba, pakai formalin ga?”

Media adalah pelengkap penderitaan orang seprti Pak De. Sejak di Koran dan Tipi semuanya berbicara mengenai formalin dan efeknya. Pengusaha (saya pinjam istilah ini, sebagai maksud orang yang berusaha) kecil semakin tertekan oleh pengusaha besar.

Setelah isu kian santer, dan untuk mencega dan meyakinkan konsumen, pengusaha besr langsung melindungi produksiya dengan secarik kertas, ‘Sertifikat bebas Formalin’. Dan semua produsen tentunya tak bisa memiliki kertas bertuah itu. Hanya pengusaha tertentu yang bisa mendapatkannya. Dan kemudian, mereka muncul di tipi dan Koran-koran sambil memperagakan, bagaimaa sebuah produk di iklankan…. “saudara-saudara, pakailah bakso buatan kami, Very Good dan bebas formalin….”

Orang seperti Pak De hanya bisa mengelus dada. Jangankan untuk nongol di tipi dan dan Koran sambil menjajakan baksonya yang semangkok Cuma Rp 4000 itu, untuk membeli secarik kertas yang dikeluarkan BPOM saja dia tak bisa. Apalagio bercuap-cuap di depan tivi, “bakso Pak De, Selain bebas Formalin,juga Gede-gede……”

Dan setelah kisah formalin ini laris manis di media, maka bak film cerita Lord Of The Ring, kisah memilukan ini pun di buat bersambung. Seperti drama sekuel dari pemboman di Poso. Media bukan saja “menelanjangi” para produsen yang menggunakan formalin dalam produksnya. Tetapi juga mengupas tuntas proses produksi.

Berang? Tentu saja. Dan itulah akhirnya memaksa para nelayan mogok melaut. Penjual bakso berduyun-duyuk ke Trans Tv untuk meminta klarifikasi atas pemuatan sebuah tayangan, dan, dan masih dari pedagang bakso juga, secara berjamaah mereka membagi-bagikan baksonya secara gratis dan suwon ke kantor PKB untuk memohon perlindungan.

Walah dalah, ini gejala apa? Bukankah sejak dulu pemakaian formalin telah diketahui? dan sudah dituntaskan? Atau malah, jangan-jangan sebenarnya tidak tuntas? Dan hanya dibuat-buat agar terlihat seperti tuntas. Seperti kasus Lia Eden, Penembakan tiga gadis katolik di Poso, dan rekonsiliasi Aceh serta penembakan di atambua?

Kenapa masalah yang sudah lama diketahui harus kembali terjadi, dan membawa korban yang semakin banyak? Seharusnya penyakit itu bila diberi obat akan pulih sehingga pada akhirnya akan menyerupai sesuatu yang tak pernah sakit. Atau jangan-jangan, orang Indonesia inimemang pengikut aliran teori kekekalan masalah? yang mengatakan Bahwa masalah tak pernah bisa habis, hanya saja akan berpindah ke bentuk yang lain.

Ini seperi kotak Pandora, yang ternyata selama ini ditutup-tutupi. Dan ketika terbuka, maka akan terlihatlah segala kebusukan, ya, pemerintah, ya konglomerat, ya penguasa ya pengusaha. Dan yang menjadi korban dari penipuan sejarah yang telah dilakukan mereka adalah orang kecil. Yang kan terus menjual baksonya dengan ketakutan, menagkap ikan dengan kekhawatiran, pergi ke sekolah enggan akibat isu sara, pergi ke pasar takut ada bom.

Dan setelah banjir yang atang bertubi-tubi di awal januari, mobil jaguar pun berjatuhan dari langit, jatuh dan menimpa pejabat publik. Weleh… “Pak De… Pak De mau jaguar kah? Di Istana ada beberapa yang nagkring. Sama seperti Pak De, yang nangkring sambil menunggui Baksonya abis.”

Palmerah, 16/01/06

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: