hujan deras

Naik Haji, Keinjak, Eh…. Mati

Posted on: 13 Januari, 2006

haji

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam kepercayaan Islam, umatnya harus menjalankan lima perintah yang tertulis dalam rukun Islam. Islam yaitu, Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat dan naik Haji.

Yang terakhir itu, (naik haji, djn) adalah sebuah perintah yang diberikan kepada orang-orang yang mampu dalam artian, mampu dan sehat jasmani serta mampu materi.

Tidak banyak umat islam yang mampu menunaikan perintah yang kelima dari pasal yang disebut sebagai “Rukun Islam” itu. Karena selain berat di ongkos juga sangat pelik dan riskan bagi orang yang tidak sehat jasmani, alias penyakitan.

Seperti pasal-pasal perintah lain dalam “Rukun Islam”, Haji juga mempunyai tata cara dalam penunaiannya. Mulai dari memakai Ihram, yang disimbolkan sebagai manusia adalah sama di mata Allah, Sa’i yang mengingatkan pengorbanan Hajar dalam mencair air bagi Ismail, Mengelilingi Ka’bah sambil mengulang-ulang kata “Labbaik Allahuma Laabbaik…”, memotong hewan qurban yang mengingatkan pada pengorbanan Ibrahim, tawaf di Arafah, sampai lempar Jumrah di tiga tempat.

Jadi haji bukan main-main atau sebuah gaya-gayaan. Bukan membeli kifayah atau minyak Zaitun.Apalagi membawa berbarel-barel air Zam-zam. Tidak semua orang islam mampu berangkat ke tanah Mekah. Haji adalah sebuah pengorbanan untuk menjadi tamu Allah. maka sedih saja bila ada orang yang pergi haji berpuluh-puluh kali tapi tetap tak bisa “berkorban”. Mengorbankan dunianya dan mengingat pada rumahnya, di sisi Tuhan.

Setiap Tahun, lebih dari empat juta manusia berbondong-bondong datang dan menghadiri sebuah momen. Di suatu tempat dalam waktu bersamaan!. Setiap tahun pula, Allah didatangi tamu yang di mata-Nya terlihat sama.

Dan, setiap tahun pula jatuh korban dalam masa itu. Mulai dari yang sakit-sakitan, wafat dalam usia tua, sampai tewas terinjak-injak. Diinjak oleh sesamanya, sesama tamu Tuhan.

Orang Islam percaya, mati di tanah haram adalah sebuah anugerah. sebab tidak semua orang islam bisa mati di sana (karena naik haji).
Orang islam percaya bila mati di sana maka mereka akan langsung masuk ke surga tapa proses dari malaikat. makanya, tanah Mekkah selalu mendapat orderan mati massal umat islam setiap tahun di bulan dzulhijjah.

Kematian karena faktor sakit dan usia tidak bisa dipungkiri, jangankan di tanah haram sana, yang ketika dalam proses haji memang sangat berat. Namun kalau mati karena terinjak-injak, itu bukan sesuatu yang tak bisa dihalau dan dicegah. Mati keinjak itu adalah masalah kacaunya manajemen yang diciptakan manusia (baca: Pemerintah Arab Saudi Selaku Tuan Rumah), yang tak bisa menopang pertumbuhan dan peningkatan jamaah yang dari tahun ketahun yang semakin membludak (ingat, setiap tahun semakin banyak orang islam yang niat mati syahid).

Setiap tahun ada saja yang mati di sepanjang Mina, yang mati ketika mencoba mencium Hazarul Aswad, mati di Jabal Rahmah, mati mengantri di sumur zam-zam dan mati ketika melempar jumroh.

Ini adalah seperti sebuah penyakit yang kronis dan anehnya kita sudah tau obatnya apa, namun tetap tak bisa menggunakannya. Wallahu’alam bishawab.

Seharusnya, tidak akan terjadi musibah yang sama setiap tahun penyelengaran musim haji. Seandainya, pemerintahan Arab Saudi bisa dan mempunyai sistem penjadwalan yang dapat menekan angka kematian jamaah dalam tragedi serupa.

Atau, sebenarnya ini sudah ada di dalam pikiran pemerintah Arab Saudi, bahwa inilah (mati terinjak) jalan yang benar menjadi haji mabrur, karena tidak semua jamah haji pula yang bisa atau lebih tepatnya memiliki nyali untuk mati dengan cara seperti ini.

Saya Lebih sepakat seandainya naik haji dipindahkan ke luar Mekkah, sebagai alternaif saja, saya sebutlah beberapa tempat, seperi Madinah, Damsyik, Galilea, Karbella dan Palestina atau bukit Golgota, Aceh juga oke (kalo mekahnya sudah padat, mungkin bisa di serambinya,). Asal jangan Jakarta, karena nanti jamaah haji akan kesusahan oleh para gembel dan pengemis yang pasti mengantri di sepanjang jalan.

Tapi agaknya umat islam pasti akan marah. Dan memang bukan maksud saya hendak membuat orang islam marah, saya hanya mengherankan, kenapa dengan tempat yang saat ini sudah relatif menyempit karena pertumbuhan jamaah, pemerintah Arab Saudi tetap nekad tidak mencari solusi untuk menekan angka kematian akibat insiden yang sama sekali kita semua tak kehendaki. Subhanallah, apa sebenarnya yang ada di benak semua orang?

Saya juga tak tahu menahu, sebab saya belum punya niatan untuk berhaji, sebab saya masih dalam proses pencapaian kesempurnaan syarat dari pada empat rukun silam yang lainnya.

Ingat, haji itu buka gelar. haji adalah segalanya. Makanya, gunakan apa yang sudah didapat dari poses selama menempuh jalan menuju bait Allah.

Ps: Buat Pak haji Jole, dan haji-hajjah lainnya yang masih ingat pada dunia… saya mau ucapkan, selamat lebaran haji, semoga “qurban”nya diterima Alloh. AAAAmmmiiinnns

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: