hujan deras

Amnesti

Posted on: 2 Januari, 2006

Banta Cut bingung, dia belum tahu harus pergi ke mana. Gerbang baru saja dilewatinya. Masih terlihat lagi sipir yang mengantarkannya berbalik menjauhi. Dia menghela nafas dengan berat. Bulir keringat mengalir membasahi leher kemeja putihnya. Kemudian diseka dengan setangan yang diambil dari saku celana jeans ketat yang pakainya. Peluh bercampur debu.

Banta begitu dekil. Rambutnya tak terawat dengan baik. Namun pancaran sinar matanya yang menyala seolah menandakan sebuah kelahiran baru tengah menantinya di luar gerbang.

Memang tak ada anggota keluarga yang datang menjemputnya. Bukan dikarenakan Banta tidak mengabarkan pada mereka beberapa hari menjelang pembebasan dirinya sebagai suatu hal yang bisa saja. Atau peristiwa penangkapannya dua tahun lalu yang dipandangnya sebuah kebetulan belaka. Setelah pada suatu malm di pulang dari ladang karet warisan ayahnya untuk memungut getah.

Banta memalingkan wajahnya ke belakang. Sipir yang mengantarkannya belum jauh meninggalkan dia. Angin mulai berhembus kencang. Matahari mulai memanjat titik dua belas siang. Banta menarik tas yang dipanggulnya lebih ke atas. “Terik sekali,” gumamnya. Matanya semakin berbinar. Semakin cepat pula dia melangkahkan kaki menjauhi tempat yang telah mengasingkannya dari kehidupan dan pergaulan bebas.

Jalan-jalan mulai ramai kembali. Bangunan-bangunan baru berdiri dan mulai memenuhi tanah-tanah kosong yang sempat dipenuhi onggokan sampah bangunan lama, batang-batang pohon cemara dan bangkai manusia. Banta bergidik. Disekanya lagi keringat yang telah membasahi lehernya. “bangkai manusia.” Pikirnya lagi. Hari sudah merambat siang. Banta masih menelusuri jalan-jalan yang sudah ramai oleh anak-anak sekolah.

Empat ratus meter berlalu dari gerbang bui, kembali dia menolehkan wajahnya pada bangunan yang telah memaksa waktu yang milikinya berhenti. Nafasnya sedikit plong, senyum mengembang dari bibirnya yang tebal.

Hari benar-benar siang. Banta memutuskan berhenti di sebuah warung kopi. Dilepaskannya penat dan gusarnya dengan singgah di warung dan memesan segelas kopi pancung. Sebungkus kretek kegemerannya yang tiba-ta saja menjadi mahal dan langka ditemui di dalam penjara. Banta mengambil duduk di pojok, menghadap ke pintu masuk.

Kembali pikirannya dipenuhi pertanyaan yang selama ini menghantuinya setiap kali malam tiba. Semua pembicaraan yang didengarnya di warung berlalu begitu saja. Dia tak tertarik dengan pembicaraan mereka. Terlebih lagi ketika seorang berseragam loreng masuk ke dalam warung itu. Pikirannya menjadi kacau kembali. Haus matanya akan pemandangan di luar jendela seakan sirna ketika orang itu melangkah masuk dan memesan segelas capuccino.

Tak berani ditatapnya orang itu. Bahkan ketika si cupo penjaga warung membawakan kopi pancung dan sebungkus kretek pesanannya, “Terimong Geunaseeh, ” bisiknya pada si cupo. Seorang lain yang duduk di dekatnya dan berpakaian kaos oblong bergambar salah satu partai peserta pemilu melirik Banta.

Sontak adrenalin lelaki itu naik ke ubun-ubun. Wajahnya merah, jantungnya semakin deras berdegup. Kembali diambilnya setangan dari saku jeansnya. Kekacauan pikiran telah membuat Banta lupa untuk membakar kretek yang sudah ada di depan bibirnya yang memble.

“Kabarnya orang-orang itu sudah mulai dibebaskan sejak hari ini, ” tanya orang itu kepada orang berseragam loreng.

Darah Banta semakin mendesir kencang mendengarnya.

“Betul, mulai hari, ” jawab orang yang ditanya dengan singkat, jelas dan tegas. Banta semakin takut. Bayangan di dalam penjara kembali muncul di kepalanya.

***

“Mengaku, atau kau ikut kami ke pos! ” perintah komandan regu pada malam itu. Banta semakin pucat, sungguh dia tak tidak mengerti apa yang dimaksud dari pertanyaan komandan regu pada malam dia disergap. Banta mumang, dia baru selesai menyadap getah ketika pada malam naas itu sebuah mobil kijang berhenti di depannya dan tanpa ba-bi-bu langsung menyeretnya masuk ke dalam. Di dalam mobil Banta disodorkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat penganten muda itu hanya bisa melongokan wajah bingung. Bahkan sampai hari pembebasannya.

Sejak malam itu Banta sudah tak mengerti lagi nasibnya akan mengalir ke mana. Bagaimana kabar keluarga, faimah yang baru dinikahinya dua bulan, serta getah-getahnya. Satu yang dia tahu, umurnya sudah tidak lama lagi. Dan benar saja, sejak malam itu, pos demi pos disingahinya. Sampai pada akhirnya dia dijebloskan ke bui tanpa alasan yang jelas. “Beginipun tak apalah, yang penting aku masih bisa hidup, “

***

“Kok rokoknya dipegang aja Teungku? ” tanya orang berseragam loreng. Banta tak bisa bernafas. Suaranya tercekat. Buru-buru orang itu menyodorkan korek api kepada Banta. Dengan cepat dia langsung menyulut api dari korek yang telah menyala. “Terima kasih Pak, ” sambutnya. Dengan segera Banta sadar dari ingatannya. Dirapikannya bawaannya, dan diserupunya hingga kandas kopi yang masih panas. “Berapa? ” tanyanya pada cupo.

***

Banta bergegas dari warung itu secepat air bah. Tak ditolehkannya lagi wajahnya ke belakang. dia pun berlalu seiring waktu yang melaju. Sekarang dia membutuhkan tempat yang aman untuk memulihkan pikiran: rumahnya!

Dipanggilnya ojek yang mangkal tak jauh dari tempat itu. Banta menyebutkan sebuah tempat, tukang ojek menyebutkan berapa harga yang harus dibayar banta Banta.

“Semoga tidak hancur semua, ” pikirnya.

“Tapi kayaknya sudah tak ada sebuah rumahpun yang berdiri di sana Bang,” jawab tukang ojek ketika ditanya Banta.

“tak mungkin” pikir Banta. Sebab rumah Banta dibangun dari konstruksi yang kuat, besar dan megah. Maklumlah Banta memang orang kaya di kampungnya.

Tapi untuk apa kekayaan itu sekarang? Dia terkejut setelah memastikan bahwa tanah hampa yang ada di depan matanya saat ini adalah tapak rumahnya yang sudah tak dilhatnya lebih dua tahun lalu.

“Betulkan kataku? ” Banta menarik nafas. Dibayarnya jasa si tukang ojek, lantas dia pergi mengitari tapak rumahnya.

***

“Banta, kau kah itu?” panggil seorang kakek. Banta terkesiap. Itu Tengku Saman, tetangganya. Lantas air mata mengalir dari kedua pasang mata orang yang sudah lama tak bertemu itu. ” masih hidup kau rupanya? ” tanya Tengku Saman. Banta mengangguk.

“Aku pikir aku akan mati di dalam sana, tapi ternyata aku hidup, kalianlah yang bermatian di luar sini, ” kata banta. Dia menceritakan apa yang menimpa dirinya selama ini.

“Aku menyesal sekali, kalau kedua orang tuamu sudah ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa, sedangkan adikmu yang kecil hilang, dan belum ditemukan sampai hari ini. “

“lalu bagaimana dengan Fatimah? “

Tengku Saman berhenti sejurus, “Setelah kau menghilang, kami pikir kau sudah mati, ” Tengku Saman menceritakan kejadian yang menimpa keluarga banta.

“Lima bulan setelah kau hilang, dia di pulangkan oleh ayahmu. Ke orang tuanya, ” . banta kehilangan keluarga. Baginya pupus sudah semua angan-angan yang dicoba bangun selama di dalam penjara.

“Menurut ayahmu juga, Fatimah sudah kawin lagi dua bulan kemudian, ” lanjut Tengku Saman, matanya yang kuyu kembali meneteskan air.

Setelah mendengar penjelasan Tengku Saman, banta permisi dan beranjak dari tanah kelahirannya. Dia menuju sebuah tempat yang lain lagi: rumah hai Warsidi, mertuanya!

Hari itu juga Banta tiba di rumah haji Warsidi. Tapi di sana dia juga menemukan kekecewaan yang sama. Rumah mertuanya memang masih berdiri, meskipun kelihatan baru direnovasi. Lama dia tertegun di depan halaman. Ketika pada akhirnya sesosok perempuan muda yang lama tak dilihatnya mucul dari dalam rumah.

“Fatimah!” panggilnya. Perempuan itu bingung dan lama tertegun.

“Banta, kau kah itu? Kau masih hidup? ” kemudian seorang lelaki asing mendadak muncul di samping Fatimah.

Banta terdiam. Dia sadar, bahwa kini sudah tak ada tempat untuknya di dunia ini. Dengan gontai dia menjauh dari halaman rumah haji Warsidi.

“Sekali mati, ya mati. Tak mungkin hidup lagi, ” begitulah kata Zulkifli teman se-selnya suatu ketika. Banta baru mengerti apa arti kata itu saat ini.

“bagaimana seandainya aku ke gunung dan benar-benar pergi mengangkat senjata?” pikirnya. Tapi kemudian pupus. Sia-sia sudah harapannya untuk tetap hidup selama ini.

“Walaupun dapat amnesti, aku tetap mati. Tak ada yang bisa membayar waktu-waktuku yang telah hilang, ” dia memaki. Banta semakin takut tinggal brlama-lama.

Dipanggilnya tukang ojek yang mangkal di sana. Disebutkannya sebuah tempat yang akan ditujunya. Tukang ojek menyebutkan harga.

Sekarang Banta sudah kembali berada di jalan yang mulai sepi. Tekadnya sudah bulat, menuju tempat yang paling aman; Banta akan kembali ke dalam bui, untuk menunggu waktu sampai dia benar-benar mati.

Maardathillah, 03 des 05

Mumang: Pusing. (Aceh)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: