hujan deras

Jualan Gie? Please dech….

Posted on: 3 Agustus, 2005

Oleh: T. Arif


“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.” (soe Hok Gie, “Menaklukan Gunung Slamet” dalam Kompas 14 Desember 1967)


Sebuah penggalan ulasan Soe yang membatasi antara dirinya dan kejumudan yang melilit keadaan disekelilingnya. Sebuah artikel yang melegalkan posisi seorang penyendiri sebagai seorang oposan sejati bagi setiap kelompok manapun. Dikala semua ‘teman’ seperjuangannya turun ke tengah pesta eforia kemenangan Gie justru memilih untuk pergi menyepi.


Dalam Gie arahan Riri Riza, tidak dimunculkan sebab yang jelas dan telah membuat keresahan Soe. Monolog-monolog hasil torehan tangan pemuda Tionghoa itu hilang dan mengalir saja dalam bahasa gambar yang disajikan Miles Production. Proyeksi yang ditampilkan dan mewujud ke dalam Nicholas Syahputra terasa buram dan cendrung tidak menghadirkan Soe di tengah penonton (entah mungkin itu hanya menimpa diri saya).
Perdebatan yang menampilkan Soe sebagai seorang yang dinamis dan merdeka dalam berpikir tidak muncul. Gie hanya memperlihatkan sosok seorang Soe yang humanis dan idealis tapi tanpa kerangka cerita yang menarik.


Ada korelasi yang sangat berkaitan dengan “hadir”-nya kembali Soe Hok Gie sebagai si Anak hilang yang telah lama dinantikan kepulangannya. Tiba-tiba saja semua orang mengingat dan memutar kembali waktu dan menahannya di sebuah titik. Tahun 1966 ketika pergulatan politik di Indonesia sudah sampai pada tahap yang paling menentukan.


Melalui poster-poster yang ditempelkan di tembok-tembok kampus, di kotak rokok, terakhir sampai ke kulit buku yang kita temukan pada cetakan Catatan Seorang Demonstran, tahun 2005 oleh LP3ES, Soe dihadirkan secara lux di hadapan kita. Semua cara ini seperti sudah terkendali dan terumuskan, seolah-olah si Anak Hilang bakal pulang bersama keuntungan yang akan direngguk dari hasil penjualan romantisme yang terasa berlebihan.


Berlebihan. Sebab sosok pemuda Soe masih terdengar asing di telinga sebagian kita. Jelas namanya tidak lebih pop dari Soekarno yang juga pernah difilmkan dan dibintangi oleh Anjasmara. Atau Hatta yang diperankan David Chalik dalam film yang sama. Soe hanya hidup dan dikenal baik dalam pergaulan mahasiswa yang aktif dalam pergerakan.

 

Di jamannya, buku-buku seperti Catatan Seorang Demonstran, Zaman Peralihan, Orang-Orang Di Persimpangan Kiri Jalan, Di Bawah Lentera Merah adalah buku wajib bagi kalangan aktivis di Indonesia. Lalu, sejak promosi yang gencar dan melibatkan banyak “pedagang” dan kaum kapital, Soe benar-benar pulang dan mampu mengalahkan rating kisah paling heroik yang pernah ada di Indonesia.
Hal ini pernah terjadi ketika tahun 1998 buku-buku yang diidentifikasi berhaluan kiri booming dan meledak di pasar dan bursa buku.


“Kepulangan” Soe ini juga dibarengi dengan kesuksesan pop culture yang saat ini mendapat tempat yang sangat luas di hati masyarakat. Sejak buku-buku bernuansa pop nangkring di toko buku sampai kebangkitan film nasional mencuat ke permukaan, dengan langgeng Soe kembali ke ingatan masyarakat, bahkan Soe mampu menembus ingatan remaja yang tak pernah mengenalnya lewat tulisan-tulisannya.


Ada positifnya, bagi para remaja efek yang ditimbulkan dari gerakan total Soe Hok Gie –isasi sangat masuk dan mudah diterima dalam alam mereka yang hari ini hingar bingar oleh dentuman musik house dan larut dalam keapatisan historis. Sejarah yang benar (walaupun memalukan) terkuak dan telanjang dihadapan budaya pop. Dan dengan leluasa mahasiswa hari ini membalik-balik halaman catatan Soe di temani tampang cakep Nicholas dan mengacuhkan fungsi mereka sebagai mahasiswa.


Dalam film yang berdurasi lebih dari dua jam itu menampilkan kegarangan Soe yang tak kenal kompromi terhadap pemerintah Soekarno. Begitu sebaliknya, dalam film itu pula menampilkan Soekarno sebagai tiran yang seolah-olah tidak pernah berbuat kebaikan terhadap Republik. Rekonstruksi yang gagal dalam jalinan cerita membuat Soekarno tampak lemah di hadapan seorang Nicholas. Apalagi kurang jelasnya sebab yang mengakibatkan Soe memilih menjadi oposisi terhadap setiap organisasi extrakurikuler di kampusnya. Missunderstood yang ditampilkan dalam film itu akan menimbulkan simpul-simpul kusut di mata penonton yang sama sekali tidak mengenal sosok Soe.


Keparahan ini akan melahirkan pro-kontra terhadap pemikiran Soe dan jalannya sejarah di Republik ini. Kesamaran sosok Soe dan keburaman sejarah Indonesia akan dipertemukan dalam sebilah papan catur dan mereka harus saling memakan demi kepentingan pasar. Bisa jadi pula arus Soe-isasi ini akan terbentur tembok sejarah sehingga Soe akhirnya harus kembali kepada kesepian dan kesendirian yang abadi.


Seperti yang pernah dikatakannya, “MAN can be destroyed but never defeated”. Soe seolah paham bahwa dirinya akan selalu diperbincangakan banyak orang dan akan menjadi inspirasi bagi semua orang.
post: 03 Agustus 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: