hujan deras

Hidup adalah memilih

Posted on: 18 Mei, 2005

mamaOleh: T. Arif*

Pementasan pada hari ke tujuh pesta monolog yang diselengarakan Dewan

Kesenian Jakarta, Selasa (17/04) memiliki keistimewaan dari hari
sebelumnya. Kendati belum lagi semua pemonolog memperlihatkan kebolehannya,
namun bisa dikatakan, pertunjukkan pada hari itu sungguh memukau.

Pada pementasan pertama, pukul lima sore menampilkan Aisha Basyar dari
Medan. Lakon yang dibawakan berjudul Perempuan oleh aisyah Basyar sendiri. Perempuan yang lahir di Siantar, Sumut 34 Tahun lalu itu bermain
dengan prima. Bersama timnya dari Teater Anak Negeri yang disutradarai
Bapak Idris, hampir semua pesan yang disampaikan melalui cerita dan gerakan badan, sudah mewakilkan dan menyampaikan isi pesan.

Perempuan yang dibawakan Aisyah Basyar berkisah tentang kecemasan yang
dituai oleh seorang perempuan tua akibat pilihan-pilihan yang diambil
oleh anak-anaknya. Adegan dimulai dari suara tangisan bayi Serta permainan cahaya yang dikemas dalam warrna merah muram yang memantulkan siluet seorang perempuan sedang mengayun bayi dari balik layar screen. Sebuah monolog mengalir dari balik layar tatkala suara tangisan bayi mereda.

“Suatu hari Juang si Bungsu pulang bersama perempuan” kisahnya
mengawali dan memperkenalkan si bayi. Juang adalah anak Bungsu si ibu, dan ayah dari bayi yang diayun perempuan tuan. Juang dalam runutan cerita yang
dipaparkan perempuan tua itu adalah anak yang selalu terlibat didalam
aksi-aksi anarkis dan vandalis. Seperti dari kisah yang meluncur dari
mulutnya “sudahlah Juang, hentikanlah aksi-aksimu itu”. Namun si Bungsu
tetap melancarkan aksi-aksinya sampai mengantarkannya, sel demi sel.
Juang telah memilih jalan hidupnya.

Lantas apa yang membuat Juang memilih jalan itu? Ternyata ada kisah
lain yang melatari keras watak si Bungsu. Juang melihat ketidak-adilan
yang ada disekitarnya. Jiwa mudanya mendidih ketika ketidakadilan mengurungnya dalam sebuah ruang yang dibebat oleh sejarah buram. Intuisinya
untuk memberontak bangit. Dia melawan dengan kelompoknya yang menebarkan aksi-aksi terror kepada kebijakan sejarah yang dipelintir pemerintah.

Juang adalah seorang pemuda yang mewakili pemuda-pemuda yang terpaksa
mengambil jalan kekerasan demi terbenturnya kebijakan pemerintah yang

fundamental dengan perubahan konkrit dan berarti dalam tatanan peradaban.
Juang adalah anak seorang perempuan lemah yang harus meratapi malam
demi malam pelarian Bungsu kesayangan. Juang adalah mewakili kelompok
keras yang memiliki kadar militansi yang kokoh sperti cadas.

Tidak berbeda dari pilihan adiknya, pun, Bintang, sianak hilang yang
merupakan putra ke duanya juga mengambil resiko yang sama. Tidak ada
kronologis jelas, siapa mempengaruhi siapa dalam anggota keluarga Perempuan
Tua. Sehingga kedua putranya mengambil pilihan yang tidak masuk diakal
perempuan yang hari demi harinya habis meratapi akibat perbuatan
anak-anaknya. Sampai disitukah penderitaan perempuan tua?

Kisah ini seperti kisah Gorky, dalam kisah Mother. Dimana si ibu yang
hari-harinya mencemaskan keselamatan Pasha putranya yang terlibat dalam
aksi-aksi frontal yang didalangi kaum buruh. Guratan penderitaan yang
diderita Ibunda dalam Gorky nyaris sama dengan pergulatan Perempuan
dalam lakon sore itu. Hanya saja perbedaannya yang terlihat adalah Ibunda
tidak hanya sekedar menyesali pilihan anaknya. Tapi juga ikut memilih
jalan yang sangat berbahaya. Sedang perempuan dalam pementasan tidak
mengambil ikut mengambil pilihan. Perempuan lebih terfokus pada penyesalan
yang telah dilaluinya sepanjang hidup. Sejak Suri, Putri Sulungnya
hengkang ke luar negeri untuk mencari suaka. Sebab ditanahnya sendiri Suri
tidak mendapatkan pilihan yang membawanya pada ketenangan. Sebab bila
Suri tidak memilih, maka terror dan ancaman dari penguasa akan terus
mengalir. Suri adalah seorang penulis. Tidak jelas benar memang tulisan
apa yang telah menyebabkan dia terpaksa hengkang ke negeri jiran. Tapi
esensinya, adalah, ketiga putri-putra perempuan itu telah mengambil
pilihan hidupnya

Lalu apa pesan moral yang diangkat dalam pentas kali ini? Adalah sebuah
keberanian untuk memilih yang dilandasi pengetahuan yang besar,
walaupun apapun akibatnya adalah sebuah perbuatan mulia.

Tak penting sudah berapa korban jiwa melayang, yang berdosa ataupun
tidak, akibat serangkaian peledakan yang dilakukan Juang dan kelompoknya.
Itu bukan masalah. Bahwa jalan yang diambil Juang. Bukan sebuah
pembenaran atas pengambilan paksa jiwa seseorang kepada orang lain. Tapi apa
yang menjadi penyebab orang lain merasa berhak mengambil nyawa orang
lain itulah yang menjadi masalahnya. Seperti kata Shakespeare lewat
pangeran Denmark, Hamlet. “To be or not, that is the question. Bila dengan
tidur dan bermimpi kita dapat merubah kesialan hari-hari kita. Maka aku
akan mencoba untuk tidak bunuh diri”. Bila dirujuk pada serentetan kasus
peledakan sejumlah bom di NKRI ini, itu tidak akan penting. Akan
semakin banyak, pelaku-pelaku yang lain. Bahwa Juang-Juang lain akan terus
lahir dan meledakkan bom-bom di kantor-kantor, kedubes Negara asing, WC
umum, busway, halte bis, sekolah dasar. Rumah sakit jiwa dan
sebagainya-dan sebagaianya. Bahwa diluar sana, akan terus lahir Juang-Juang baru, Pasha-Pasha baru yang akan membawa suara-suara sumbang yang tidak akan  pernah disukai oleh pembuat kebijakan di negeri (ini).

Pesan terakhir sebelum layar diturunkan dan black out, adalah tak lepas
dari “buku” apa yang telah menjadi referensi kita untuk memilih jalan.

“Kenapa kau wariskan buku kepada tiga anakmu? Dengan buku-buku itu
mereka telah menjadi salah di mata umum. Dengan buku-buku itu merekatelah
mengambil pilihan hidupnya?” teriak Perempuan tatkala marah pada potret
almarhum suaminya.

Ketiga anak perempun tua adalah para pemberani yang mengambil pilihan.
Sebab di dalam hidup tak ada pilihan lain kecuali pilihan untuk tetap
bertahan. Keadaan memaksa kita untuk memilih sesuatu yang kadang kala
bertentangan dengan rasionalitas. Maka hiduplah. Jangan takut untuk
hidup. Sebab hidup adalah sebuah pilihan. Kita tak pernah meminta untuk
dilahirkan. Maka pilihlah kehidupan sebagai sesuatu yang merupakan sebuah
pilihan dengan nilai mutlak.

*Anggota Komunitas Pekerja Sastra Kampus, pemerhati Gerakan Mahasisiwa Kampus.

post: 18 Mei 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,133 hits
%d blogger menyukai ini: