hujan deras

Fenomena Syair (Penyair) Acheh.

Posted on: 6 Januari, 2005

Seketika orang-orang kembali mengingat pada sebuah tempat yang (sudah lama) dilupakan. Tragedi kemanusiaan di Aceh yang terjadi pada 26 Desember tahun lalu memang menyentuh hati siapapun. Bahkan orang gila menangis ketika melihat tayangan video amatiran hasil shoot-nya Cut Putri[1].

Yang terjadi kemudian adalah, bentuk-bentuk solidaritas yang terus mengalir pasca gempa dan tsunami. Ungkapan-ungkapan bela sungkawa dari negeri tetangga. Relawan-relawan yang tidak benar-benar rela juga sebenarnya. Para eksodus yang “dulu” melarikan diri meninggalkan Nanggroe Aceh, aparat pemerintah, para penduduk yang berdatangan dari luar Aceh yang datang mengunjungi tanah leluhurnya. Semua memenuhi Aceh. Tumpah ruah seperti bah.

Tsunami yang ditandai dengan gempa yang berkekuatan 8.6 skala richter dengan titik episentrum di ujung barat pantai Simeuleu dan ujung timur kepulauan Andaman cukup meluluh lantakan negeri yang terletak di ujung barat Indonesia. Daerah yang sepanjang tahun mengalami konflik itu yang kurang diminati dan tidak mendapat apresiasi dari kalangan masyarakat Indonesia di luar Aceh, khusunya yang tinggal di pulau Jawa (baca: Jakarta) termasuk para penyairnya. tiba-tiba saja menjadi sangat ramah di telinga kita (baca: masih Jakarta). Aceh tiba-tiba mengalahakan rating poling SMS Indonesia Idol maupun Jakarta Under cover yang di sebut-sebut best seller itu.

Jakarta adalah sebuah tempat yang penuh gegap gempita dengan nuansa khas politik a la Indonesia. Dimana permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswa dan penyairnya adalah masalah yang krusial, penuh intrik diseputar kisah antara kuasa, penguasa, mengusai dan dikuasai. Tidak melihat dengan seksama bahwa sebenarnya akar permasalahan tersebut di bawa dari daerah-daerah yang sedang membutuhkan perhatian intensif.

Ketika diberlakukannya Darurat Operasi Militer (DOM) oleh Pemerintah RI pada masa Orde Baru tahun 1989, banyak aktifis mahasiwa, dan kemanusiaan yang turut terjagal oleh misi keamanan tersebut. Tidak hanya itu, didalama kuburan-kuburan massal yang diisi oleh rakyat sipil tidak sedikit dari mereka adalah seniman-seniman, penulis, pemerhati budaya Aceh.


Bila dirunut, sebenarnya ada benang merah atas kematian/kehilangan orang-orang seperti mereka di tanah Serambi Mekkah.

Yang mengakibatkan kebudayaan dan kesenian Aceh tidak dapat terawat baik. Tidak pernah para seniman di Aceh dapat berdiskusi dengan aman. Justru dikarenakan oleh orang-orang yang membawa misi keamanan.

Hal itu berlangsung sampai masa Darurat Militer yang bersambung hingga dua jilid (Lebih mirip buku yang berjudul Balada Aceh). Rakyat yang dikondisikan dan diarahkan menjadi manusia yang tidak sehat itu terus dikurangi dengan paksa jumlah populasinya, sebagian mereka melarikan diri keluar Aceh, sebagian hilang dan lainya ditemukan mati di pasar, di sawah, di bawah tangga meunasah[2].

Di mana-mana. Bahkan sampai Darurat Militer itu diganti dengan nama yang sedikit sopan dan jauh dari kesan angker. Kendati Darurat sipil yang diberlakukan Ibu Mega yang bertubuh sehat itu bersambung kepada Bapak SBY yang berwajah tampan, namun tetap tidak menghindarkan korban jiwa yang terus jatuh, terlebih Budaya Aceh yang mulai samar-samar dipelupuk mata rakyatnya yang setiap hari berduka sebab ada saja kerabat mereka yang hilang, diciduk. Bahkan statistik menuliskan angka yang besar, 5 penduduk mati sia-sia perharinya akibat eksekusi dan klaim yang dituduhkan oleh dan kepada dua kelompok yang sedang berseteru di sana.

Namun begitupun sangat jarang issu Aceh menjadi perbincangan dan diskusi hangat dikalangan penyair dan budayawan di Jakarta. Semua penyair masih suka berkutat didalam pangsa-pangsa pasar yang akan mereka masuki nantinya. Para budayawan jarang menghumbar tari Seudati dan tembang malam Dodaidi yang berisikan falsafah hidup. Kecuali menjadikan Budaya Pop sebuah fenomena gaib yang layak menjadi bahan diskursus mereka.

Seolah-olah masalah Aceh (dan beberapa daerah di Indonesia sebenarnya)adalah masalah rakyatnya, masalah anak-anak yang kehilangan bapak. Masalah perempuan-perempuan yang menjadi janda janda.

Tuhan menjetikkan jarinya di ujung pantai Banda[3] dan itu benar! Ketika Tuhan sudah ikut langsung menengarai dan bersentuhan langsung diantara GAM dan TNI yang berebut menjadi eksekutor bagi sipil Aceh, semua mata tertuju pada Aceh, sebuah daerah yang didalam dongeng anak-anak Jakarta adalah sebuah tempat pensuplai ganja terbesar di Indonesia[4]. Presiden SBY yang hampir “merayakan” 100 hari ke-presidenannya kaget sejadinya[5]. Tidak hanya itu. Ke-tiba-tibaan itu menjangkiti semua lapisan masyarakat.

Semua menunjukan simpati dan empati yang dalam atas musibah yang menimpa Aceh. Seolah sebelumnya Aceh adalah sebuah wilayah di Indonesia yang makmur, aman damai, gemah ripah loh djinawi, dengan Gubernurnya yang korup[6], seniman yang bebas berekspresi di Taman Budaya Aceh serta mal-mal megah bersdiri di tanahnya.

Posko-posko didirikan di sepanjang kepulauan nusantara, tidak termasuk Aceh tentunya. mulai dari mahasiswa sampai preman terminal tidak ketinggalan dalam euforia yang belum tentu akan datang untuk sekian tahun yang akan datang. Pendek kata semua elemen mendirikan posko kemanusiaan, baju bekas, sembako dan lain sebagainya memenuhi posko-posko. Entah liar-entah resmi. Banyak yang percaya musibah ini adalah sebuah ujian Tuhan, ada juga yang percaya bahwa dibalik musibah ini adalah anugerah. Blessing in disguise.

Pun yang menjadi sorotan tajam adalah diputar-ulangnya lagu-lagu berbahasa Aceh di stasiun TV, pesona ragam budaya Aceh diperlihatkan kembali di muka umum. Seminar-seminar tentang rekonsiliasi dan rekonstruksi Aceh dibicarakan di lingkungan akademisi, warung kopi, hotel bintang lima sampai transaksi saham di BEJ. Bahkan penyair beramai-ramai membuat antologi puisi mengenai Aceh pasca tsunami. Antologi tersebut dijual kemudian hasilnya disumbangkan kepada rakyat Aceh. Hal ini tetap lebih menarik dari perundingan yang dilakukan NKRI-GAM di Helsinski beberapa waktu lalu.

Semua media diserbu para penyair. Mereka menerobos begitu saja tempat-tempat yang bisa dijadikan tempat berekspresi. Seperti sebuah cerita tentang tsunami penyair. Begitu besarnya hempasan gelombang penyair yang bersyair mengenai Aceh sehingga mampu mengalahkan ratap sedih yang ditimbulkan tsunami itu sendiri.


catatan:

[1] Video Cut Putri sudah mulai di Publish sejak hari ke-4 pasca tsunami. Konon kabarnya video itu dapat ditemukan dengan mudah di Glodok dalam bentuk kepingan CD, bertumpuk diantara CD bajakan, lagu barat, Rhoma Irama, filem Blue dst..

[2] Meunasah = Surau

[3] Sepenggal syair yang dilagukan Sherina, yang sering diputar di Metro TV
[4] Anak-anak muda Jakarta lebih mengenal Aceh sebagai daerah penghasil ganja
[5] Sby merencanakan perjalanan ke Nabire yang juga ditimpa gempa, sedang Kalla sbg wapresnya sempat menghadiri acara halal bihalal masyarakat aceh di Senayan, minggu pagi 10.00 wib, 26 Desember 2004.

[6] Pada senin 27 desember 2004 sidang Puteh, Gubernur NAD di buka untuk pertama kalinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 172,087 hits
%d blogger menyukai ini: