<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>hujan deras</title>
	<atom:link href="http://hujanderas.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hujanderas.wordpress.com</link>
	<description>Sebuah catatan kecil</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 Feb 2011 11:51:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='hujanderas.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>hujan deras</title>
		<link>http://hujanderas.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://hujanderas.wordpress.com/osd.xml" title="hujan deras" />
	<atom:link rel='hub' href='http://hujanderas.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Bung Tomo dan M. Natsir Resmi Pahlawan</title>
		<link>http://hujanderas.wordpress.com/2008/11/08/bung-tomo-dan-m-natsir-resmi-pahlawan/</link>
		<comments>http://hujanderas.wordpress.com/2008/11/08/bung-tomo-dan-m-natsir-resmi-pahlawan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Nov 2008 06:11:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hujanderas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hujanderas.wordpress.com/2008/11/08/bung-tomo-dan-m-natsir-resmi-pahlawan/</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu, 08 November 2008, 09:24:03 WIB Jakarta, myRMnews. Ikon hari pahlawan, Sutomo alias Bung Tomo, akhirnya resmi dianugerahi gelar pahlawan nasional. Kemarin (7/11) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan gelar pahlawan nasional untuk pemimpin pertempuran 10 November 1945 itu di istana negara. Ada tiga tokoh yang kemarin dianugerahi gelar pahlawan nasional. Selain Sutomo, gelar pahlawan diberikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hujanderas.wordpress.com&amp;blog=807202&amp;post=179&amp;subd=hujanderas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sabtu, 08 November 2008, 09:24:03 WIB</p>
<p>Jakarta, myRMnews. Ikon hari pahlawan, Sutomo alias Bung Tomo, akhirnya resmi dianugerahi gelar pahlawan nasional.</p>
<p>Kemarin (7/11) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan gelar pahlawan nasional untuk pemimpin pertempuran 10 November 1945 itu di istana negara.</p>
<p>Ada tiga tokoh yang kemarin dianugerahi gelar pahlawan nasional. Selain Sutomo, gelar pahlawan diberikan kepada Mohammad Natsir dan K.H. Abdul Halim (Ketua Umum Persatuan Umat Islam).</p>
<p>SBY juga menyerahkan Bintang Mahaputera Utama untuk almarhum Petta Lolo La Sinrang, tokoh pejuang Kerajaan Sawitto (Sulsel). Juga Bintang Budaya Parama Dharma untuk almarhum Wahyu Sihombing (sutradara) dan almarhum Marah Rusli (penulis/sastrawan).</p>
<p>Gelar pahlawan bagi Bung Tomo diterima oleh Sulistina Sutomo, istri Bung Tomo. Perempuan 83 tahun itu hadir bersama putra bungsunya Bambang Sulistomo.</p>
<p>’’Alhamdulillah. Saya lega dan bersyukur. Terimakasih untuk warga Jawa Timur yang sudah memperjuangkan mulai tahun 80-an,’’ kata Sulistina.</p>
<p>Sulistina berharap generasi muda bisa mentauladani Bung Tomo yang selalu berjuang tanpa pamrih. Mengenai sulitnya gelar pahlawan diraih oleh Bung Tomo, Sulistina mengaku tidak pernah ngoyo. ’’Kebenaran itu pasti muncul, meski ditutupi,’’ katanya.</p>
<p>Wakil Walikota Surabaya Arif Afandi yang ikut mendampingi keluarga Bung Tomo juga mengaku senang dngan gelar pahlawan bagi pria kelahiran Blauran, 3 Oktober 1920 itu.</p>
<p>’’Atas nama warga kota Surabaya, saya ucapkan terima kasih kepada presiden. Ini menjadi kebanggan bagi arek-arek Suroboyo,’’ kata Arif.</p>
<p>Bagi Surabaya, gelar pahlawan tersebut mengokohkan status Surabaya sebagai kota pahlawan.</p>
<p>’’Sempat mengherankan, hari pahlawan di Surabaya, tapi tidak ada pahlawan dari Suarabaya,’’ tandas mantan pemred Jawa Pos itu.</p>
<p>Pemberian gelar pahlawan nasional bagi Bung Tomo dan Natsir cukup melegakan. Bung Tomo butuh waktu 27 tahun, sejak meninggal pada 1981, untuk ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Sedangkan untuk M. Matsir butuh 15 tahun (meninggal 6 Februari 1993).</p>
<p>Gelar pahlawan bagi Natsir kemarin diterima oleh putra bungsunya Ahmad Fauzie Natsir, (66). Empat dari putra Natsir kemarin hadir. Mereka adalah Siti Muchliesah Natsir (72), Asma Farida Natsir (69), dan Aisyahtul Asriah Natsir (66). Putri keempat Natsir, Hasnah Faizah Natsir (67), tidak hadir.</p>
<p>Gelar pahlawan nasional bagi Natsir sangat mengharukan bagi keluarga bersar Natsir.</p>
<p>’’Ini kami dedikasikan bagi seluruh warga Indonesia,’’ kata pemilik pondok pesantren Darussallah Bogor itu.</p>
<p>Natsir merupakan tokoh Islam yang sangat terkenal. Pria kelahiran Mingangkabau 17 Juli 1908 itu pernah menjabat sebagai perdana menteri dari 5 September 1950 hingga 26 April 1951. Natsir juga dikenal sebagai mantan ketua Masyumi, unsur pimpinan PRRI, dan Ketua Dewan Islamiyyah Indonesia (DDII). [hta]</p>
<br />Posted in Berita  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hujanderas.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hujanderas.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hujanderas.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hujanderas.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hujanderas.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hujanderas.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hujanderas.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hujanderas.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hujanderas.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hujanderas.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hujanderas.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hujanderas.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hujanderas.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hujanderas.wordpress.com/179/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hujanderas.wordpress.com&amp;blog=807202&amp;post=179&amp;subd=hujanderas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hujanderas.wordpress.com/2008/11/08/bung-tomo-dan-m-natsir-resmi-pahlawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/42b443dcf566b5ad7c33db37b0d57794?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">hujanderas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fitna, dan Samuel Huntington</title>
		<link>http://hujanderas.wordpress.com/2008/04/02/175/</link>
		<comments>http://hujanderas.wordpress.com/2008/04/02/175/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Apr 2008 02:58:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hujanderas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hujanderas.wordpress.com/?p=175</guid>
		<description><![CDATA[CATATAN SIANG Oleh: Tuahta Arief Jakarta, myRMnews. Dunia semakin digiring menuju peradaban baru! Seperti yang diramalkan Samuel Huntington, untuk menuju itu, harus ada yang mengalahkan dan ada yang dikalahkan. Dalam teori ‘clash of civilization’-nya Huntington membagi tiga peradaban raksasa yang menjadi sumber kekuatan dunia. Hancurnya kekuatan komunis pada tahun 1990 menandakan jarak antara Barat dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hujanderas.wordpress.com&amp;blog=807202&amp;post=175&amp;subd=hujanderas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>CATATAN SIANG</em></strong></p>
<p>Oleh: Tuahta Arief</p>
<p><strong>Jakarta, myRMnews. </strong>Dunia semakin digiring menuju peradaban baru! Seperti yang diramalkan Samuel Huntington, untuk menuju itu, harus ada yang mengalahkan dan ada yang dikalahkan.<span id="more-175"></span></p>
<p>Dalam teori ‘clash of civilization’-nya Huntington membagi tiga peradaban raksasa yang menjadi sumber kekuatan dunia. Hancurnya kekuatan komunis pada tahun 1990 menandakan jarak antara Barat dan Islam untuk saling berhadapan semakin dekat.</p>
<p>Sebenarnya apa yang dikonsepkan Huntington sebagai sebuah benturan antar peradaban hanya sekadar ekspresi alamiah kaum realis ketika melihat hubungan Barat-Islam. Kaum realis yang selalu berfokus pada perimbangan kekuatan (balance of power) dan faktor ancaman (threat perception) memang tak lelah mencari gara-gara.</p>
<p>Sejak jatuhnya Uni-Soviet dan negara satelitnya, dunia Islam adalah satu-satunya kekuatan yang nyata dan patut diperhitungkan dunia Barat. Ketika semua musuh sudah tak tersedia, Barat dan Islam yang memang sudah memiliki sejarah kelam, akhirnya harus bertemu berhadapan di medan perang.</p>
<p>Barat kemudian menyusun sejumlah skenario yang kemudian dirangkai untuk melemahkan konstruksi Islam dari dalam. Konflik Timur Tengah, penjajahan negara Islam, hingga pemiskinan struktural termasuk sengketa sejarah Sunni-Syiah, menjadi senjata untuk melucuti kekuatan Islam secara konkret.</p>
<p>Alhasil, setelah sukses dengan pecah-belahnya, Barat dengan mudah bisa masuk menyusup ke dalam Islam sebagai juru selamat. Berbagai ajaran bahkan dogma baru kemudian dijadikan pembenaran untuk memperlebar jarak perbedaan di kalangan Islam. Akhirnya, setelah masuk dan bermutasi, skenario baru kemudian muncul; Islam=Teror!</p>
<p>Tragedi 11 September kemudian dijadikan pintu masuk untuk melegalkan stigma: “Islam adalah teror”. Dari peristiwa itu, Barat memiliki alasan kuat untuk memukul Islam secara frontal. Satu per satu negara Islam dilucuti dan dipaksa belajar demokrasi. Mulai dari Taliban di Afghanistan, Irak dan sekarang targetnya adalah Iran.</p>
<p>Dalam kampanyenya, Georg W Bush meluncurkan slogan “War Against Terrorism” yang artinya adalah perang melawan Islam. Sebuah perang, dimana yang menjadi sasarannya adalah hantu ciptaan Barat, yakni Islam.</p>
<p>Maka kasus pemuatan karikatur penghinaan Nabi Muhammad di Jyllands Posten yang terjadi 2006 lalu semata-mata adalah salahsatu upaya memancing kemarahan dunia Islam. Barat ingin mempertegas kepada seluruh umat manusia di dunia, bahwa, hantu ciptaan mereka akan bangkit dari kubur dan segera memberikan perlawanan.</p>
<p>Meski timbul reaksi yang kadang terlihat berlebihan akibat penghinaan terhadap Nabi Muhammad, namun, Islam agaknya memilih enggan bertemu langsung dengan Barat di medan perang. Islam yang secara harfiah diartikan sebagai jalan damai, memilih tidak berkonfrontasi dengan Barat yang memuja Kurt Westergaard, sang Ilustrator.</p>
<p>Namun belum hilang luka hati atas penghinaan itu, penghinaan tak kalah dahsyatnya kembali diluncurkan barat untuk memprovokasi Islam agar mau turun ke medan laga. Fitna karya Geert Wilders seakan sengaja membuka luka lama antara Barat dan Islam. Film berdurasi tak lebih dari 16 menit itu seakan membentangkan kembali luka yang pernah terjadi sejak Pre-Dark Age berlangsung di Barat.</p>
<p>Yang jelas Fitna yang sekarang dengan bebas dapat ditonton siapa saja barangkali akan menjadi babak baru dalam cerita benturan peradaban.<strong> hta</strong></p>
<p>Sumber: www. myrmnews.com,  Selasa, 01 April 2008, 11:17:43 WIB</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hujanderas.wordpress.com/175/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hujanderas.wordpress.com/175/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hujanderas.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hujanderas.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hujanderas.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hujanderas.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hujanderas.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hujanderas.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hujanderas.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hujanderas.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hujanderas.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hujanderas.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hujanderas.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hujanderas.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hujanderas.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hujanderas.wordpress.com/175/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hujanderas.wordpress.com&amp;blog=807202&amp;post=175&amp;subd=hujanderas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hujanderas.wordpress.com/2008/04/02/175/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/42b443dcf566b5ad7c33db37b0d57794?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">hujanderas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Celana</title>
		<link>http://hujanderas.wordpress.com/2008/02/18/guru-kencing-berdiri-murid-kencing-celana/</link>
		<comments>http://hujanderas.wordpress.com/2008/02/18/guru-kencing-berdiri-murid-kencing-celana/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Feb 2008 18:48:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hujanderas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hujanderas.wordpress.com/?p=174</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Hujan (untuk almamaterku) Rajab dan Muis bertemu di balik pohon besar di halaman belakang sekolah. “Siapa saja yang mau ikut malam ini?” tanya Rajab. Muis menggeleng. “Syafei dan Ilham, Misrun juga mau ikut barangkali.” Tak lama, seorang siswa lain mendekati mereka. Seragamnya kucel. Padahal ini baru hari Senin. “Jab, Is, sedang apa kalian? tak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hujanderas.wordpress.com&amp;blog=807202&amp;post=174&amp;subd=hujanderas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="center"><b>Oleh: Hujan</b><br />
<i>(untuk almamaterku)</i></div>
<p>Rajab dan Muis bertemu di balik pohon besar di halaman belakang sekolah. “Siapa saja yang mau ikut malam ini?” tanya Rajab. Muis menggeleng. “Syafei dan Ilham, Misrun juga mau ikut barangkali.”</p>
<p>Tak lama, seorang siswa lain mendekati mereka. Seragamnya kucel. Padahal ini baru hari Senin. “Jab, Is, sedang apa kalian? tak ikut upacara?” sapa Shaleh, sambil mendekati dua siswa kelas tiga SMA.</p>
<p>“Sebentar lagi Leh, kau pergi sajalah dahulu.” jawab Muis mengusir. Shaleh tertegun sejenak. Kemudian tanpa banyak tanya langsung balik kanan. <span id="more-174"></span></p>
<p>“Jangan sampai dia tahu. Mulutnya rame seperti sarang lebah.” ujar Rajab. Muis mengamini.</p>
<p>Tujuhlimabelas. Bel berbunyi. Suara gaduh terdengar dari halaman sekolah. Seluruh siswa kini mulai mengatur barisan agaknya.<br />
“Jab, ayo.”<br />
“Sebentar, aku sedang merapikan bajuku,” jawab Rajab sambil setengah berlari menghampiri Muis.</p>
<p>Beberapa menit berlalu, dua anak itu sudah berada di dalam barisan. Misrun, ketua kelas tiga IPA satu, tengah mempersiapkan barisan yang dipimpinnya.<br />
“Kau ikut kami kan ‘I” tanya Muis. Syafei berbadan bongsor dan berkacamata mengangguk dan menjawab pelan.<br />
“Pulangnya jangan terlalu malam, aku harus mengerjakan tugas.”<br />
“Tenang aja ‘I, nanti, sepulang dari rumah Wak Leman, kita kerjakan tugasnya bersama-sama,” sahut Ilham yang berdiri di barisan ke empat dari belakang. Misrun melirik teman-temannya yang masih gaduh.<br />
“Sttt, jangan sampai Shaleh tahu.” bisik Rajab kepada Muis yang berdiri di depannya.</p>
<p>Usai pengibaran bendera, kepala sekolah naik ke podium dan mulai memberikan ceramahnya.<br />
Ini adalah saat-saat yang sama sekali tidak disukai Rajab. Dengan sengaja, siswa yang badung di kelas tiga IPA itu membuat gangguan kecil di tengah barisan.<br />
“Pidatonya kepanjangan. Seperti menteri saja dia bicara,”<br />
“Bukan saja menteri, kau tak lihat bagaimana tangan Pak Kepala sekolah bergerak-gerak? Seperti tangan Presiden Republik Mimpi!”<br />
“Hah, pidatonya masih sama! dari Senin ke senin itu-itu aja. Tidak kreatif. Tidak maju.” sambut Muis.<br />
“Bete,”<br />
“Panas,”</p>
<p>Riuh mulai terasa di barisan kelas tiga IPA. Dengan sikap istirahat di tempat Misrun memeringati kawan-kawannya. “Stt, jangan berisik, ntar kita dijemur semua loh,”<br />
“Ah, lebih baik dijemur Run, daripada harus masuk ke kelas, di kelas kita harus mengerjakan segudang tugas. Capek gua, mana ujian akhir sudah dekat lagi,” jawab Rajab memberi usul. Siswa yang lain mulai terusik dengan kata-kata Rajab.</p>
<p>Di atas podium Kepala Sekolah melirik kelas tiga IPA yang mulai gaduh.<br />
“Tuh, dia melirik, silent please,” pinta seorang siswi yang meski lelah berdiri namun tetap setia mendengar ceramah Pak Kepala Sekolah.</p>
<p>“Jadi, narkoba itu berbahaya anak-anakku. Selain dosa, narkoba juga membuat kita jadi tidak kreatif, tidak produktif. Tidak fokus dan tentu saja efeknya yang membuat korban jadi tergantung,” ujar Pak Kepala Sekolah.</p>
<p>Di barisannya Rajab mulai kesal. Sementara Muis, teman setianya juga terlihat sama.</p>
<p>“Kita harus jauhi narkoba. Apalagi, sekarang kita akan menghadapi ujian akhir. Persiapkan diri kalian. Belajarlah semakin keras. Karena belajar membuat kita pintar&#8230;.”</p>
<p>“Ya, iya lah,” celetuk Rajab di barisannya. Tanpa sadar dia mengucapkannya terlalu keras, sehingga siswa lain yang mendengarnya kontan memberikan reaksi.<br />
Gemuruh tawa mulai terdengar sayup dari barisan belakang kelas tiga IPA. Mula-mula Muis, diikuti Syafei dan terakhir Misrun yang berdiri persis di depan Kepala sekolah.</p>
<p>“Anak-anakku sekalian. satu hal yang perlu diingat. Jangan lupa untuk menyelesaikan kelengkapan administrasinya&#8230;”</p>
<p>Kali ini Rajab tak lagi nyeletuk tapi langsung menyambut dengan teriakan “Wuuu&#8230;”<br />
teriakan kecil itu pun disambut hangat siswa yang lain. Hingga tak sadar, di tengah-tengah pidato Kepala sekolah yang agung, terselip pekikan “Wuuu&#8230;”</p>
<p>Tercengang sejenak, namun kepala sekolah tetap jumawa melanjutkan pidatonya. “kita akan menambah jam dan kelas tambahan untuk kelas tiga,” lanjut kepala sekolah dengan disusul teriakan “Wuuu&#8230;” yang semakin kencang.</p>
<p>“Tenang-tenang anak-anak&#8230;” pintanya. Namun banyak dari siswa, khusunya kelas tiga dari semua jurusan masih terus berteriak “Wuuu&#8230;”</p>
<p>Dari jauh, Pak Karno, guru BP, tengah memantau. Nasib sial, bagi kelas tiga IPA, mereka semua berhasil dipantau dan diincar Pak Karno.</p>
<p>Diujung upacara seluruh siswa kelas tiga IPA semakin resah. Terbayang akan tugas-tugas mereka bila nanti tiba di kelas. Sementara di depan halaman guru Pak Karno tengah membariskan siswa-siswa bermasalah, hasil sweeping ke tengah-tengah barisan. Tak jauh dari gerombolan siswa yang tak memathui aturan upacara duduk beberapa siswa yang menyerah untuk mwengikuti upacara bendera. wajah mereka kuyu, ada juga yang terlihat sesak nafas meski lebih terlihat dibuat-buat.</p>
<p>“Perhatian-perhatian, khusus kelas tiga IPA satu, jangan masuk kelas dulu. Kelas tiga IPA satu,” terddengar suaara Pak Karno memberikan informasi.</p>
<p>“Tuh, apa kubilang, kalian sih, ribut terus,” ujar Misrun kepada teman-temannya di dalam barisan. Sementara di atas Podium Pak Karno dengan garang terus memberikan pengumuman. Misrun berlari menghadap Pak Karno.</p>
<p>“Yes, mantab,” kata Rajab. Muis, Syafei dan Ilham cengengesan. Sementara siswi-siswi kelas tiga IPA satu berdiri sambil menggoyang-goyangkan lutut mereka.<br />
“Tidak ada pilihan lain,”<br />
“Lebih baik dijemur,”<br />
“Tapi tugasku sudah selesai, sepanjang malam aku selsesaikan tugasku,” ujar Martha, siswi teladan di kelas Rajab.<br />
“Iya, memang kamu sudah selesai Martha, tetapi yang lain? “<br />
“Makanya sesama pelajar jangan pelit-pelit contekan.”<br />
“iya,”<br />
‘Betul”<br />
“Lebih baik kita dijemur sepanjang hari, betul tidak kawan-kawan?” tanya Muis.<br />
“Wah dijemurnya sih oke, tapi jangan satu harian lah. Gila,” ujar siswi yang lain.<br />
“Yah, gila karena dijemur lebih baik daripada gila karena belajar,” sambung Rajab.<br />
“Ah itu kan mau kalian,”  cetus Shaleh. Syafei dan Ilham kontan meraih dan menendang pantat Shaleh yang berdiri di depan. Shaleh meringis menahan sakit.</p>
<p>“Kita disuruh membersihkan WC dan halaman, kawan-kawan,” ujar Misrun tersengal-sengal.<br />
“Ah, apa pula?”<br />
“WC?”<br />
“Halaman sih oke, tapi kalau WC?”<br />
“Rajab,  bagaimana sekarang?” tanya Muis sambil membayangkan bakal hukuman yang diterima.<br />
“Mana aku tahu, tanya si Misrun,” balas Rajab.</p>
<p>Upacara bendera bubar. Seluruh siswa kembali ke kelasnya masing-masing. Tinggallah siswa-siswa bermasalah yang menanti hukuman dari Pak Karno.<br />
“Aku tak terima hukuman itu,” tukas seorang siswa.<br />
“Sudahlah, terima saja, toh kita semua dihukumnya bersama-sama,” jawab Rajab.<br />
“Enak saja, engkau yang buat gaduh, kita disuruh menanggung akibatnya,”<br />
“Lebih baik di sini daripada di dalam kelas. Sambil membersihkan halaman, kita tetap bisa mengobrol, rileks. Daripada bertemu guru-guru yang berwajah kubus,”<br />
Rupanya seluruh siswa terhibur juga dengan kata-kata Rajab. Tawa segera membahana dari barisan yang tengah menanti hukuman itu. Pak Karno yang tengah menghukum siswa yang tak patuh kemudian menghampiri kelas tiga IPA satu. Rajab menelan ludahnya. Bagi dia, sekaranglah saat-saat dimana dia harus mengasihani dirinya sendiri.</p>
<p>Dengan wajah galak dan suara tinggi, Pak Karno menghardik Misrun dan kawan-kawannya.<br />
“Seharusnya kalian memberikan teladan bagi adik kelas. Bukannya membuat gaduh,” ujar guru yang masuk dalam daftar killer di buku catatan siswa sekolah Rajab.</p>
<p>“Sekarang bersihkan halaman, WC dan lalu kembali ke sini. Segera!” bentak Pak Karno. Seluruh siswa kelas tiga IPA satu pucat. Hanya Rajab yang menyunggingkan bibirnya.</p>
<p>Sambil menahan kesal, siswa hukuman itu membubarkan dirinya menuju halaman sekolah. Sementara dari jendela kelas, terlihat beberapa siswa kelas lain mengintip.</p>
<p>“Kita ditonton kelas lain Jab,” ujar Muis menghampitri Rajab.<br />
“Biarin, bukannya bagu kita ditonton?,” jawab Rajab sambil mencabut rumput liar yang tumbuh di halaman. “Sial apa guna tukang kebun, kalau kita juga yang membersihkan rumput-rumput ini?” tanya Rajab pada dirinya sendiri.</p>
<p>Ilham menghampiri. “Tidak bisa kita begini. Meski kita siswa, kita juga manusia , Jab. Ingin rasanya aku balas memaki guru-guru yang sok kuasa itu,” gerutu dia.<br />
Rajab semakin jengkel. Dicabutnya rumput dengan kencang.</p>
<p>“Kau punya ide apa Jab?” tanya Muis. Namun Rajab yang dikenal sebagai anak kreatif, kali ini seperti mati siasat.</p>
<p>“Woi, gimana malam nanti? aku ikut ya?” sapa Shaleh menghampiri.<br />
“Ah dia lagi.” ujar Ilham.<br />
“Tahu darimana dia rencana kita malam nanti?” tanya Muis.</p>
<p>Shaleh mendekat. “Kata si Syafei, kalian mau ke rumah&#8230;” suara Shaleh tercekat. Tangan Rajab dengan kencang membekap mulut Shaleh. “Eh apa-apaan ini? Mulutku kemasukan tanah,”<br />
“Diam kau. Bikin rusak peta saja,” ujar Rajab melepas bekapannya.</p>
<p>Dari jauh Pak Karno mengawasi siswa kelas tiga IPA satu. Seiring siang, tampang Pak Karno semakin garang.</p>
<p>“Ayo, semua berpikir.” perintah Rajab kepada teman-temannya yang mulai berkumpul.<br />
“Jab, aku diperintahkan bekerja, bukan berpikir. Kau  sajalah yang berpikir.” sambung Muis.<br />
“Ah, kau. Kau sendiri yang bilang sudah capek. sekarang, kuminta kau berpikir, kau bilang kau tidak sedang diperintahkan berpikir.” jawab Rajab sambil terus mencabuti rumput-rumput liar.</p>
<p>“Kita musti melawan kawan-kawan.”<br />
“Gila kau, mana mungkin kita melawan. Aku kemari dititipkan emakku untuk sekolah. bukan untuk melawan,” ujar Syafei yang sudah ada di tengah-tengah mereka.</p>
<p>Matahari bersinar terik. Misrun mondar-mandir sambil terus menebar senyumnya kepada Rajab cumsuis. “Tuh, si Misrun, tidak ada rasa senasib sepenangungan. Kita semua dihukum, dia mondar-mandir saja.” ujar Muis.<br />
“yang minta dihukum ‘kan kau, makanya, kuminta kau berpikir, biar tak dihukum,” kata Rajab.<br />
“Ah, apa yang bisa dipikirkan, kita serba susah Jab.” sambung Ilham.</p>
<p>“Ah, kemari kalian semua. Merapat, merapat.”  pinta Rajab dengan wajah berseri. Hari semakin siang. Siswa kelas tiga IPA satu mulai lelah.</p>
<p>Pak Karno mulai terusik dengan kelompok Rajab yang bergerombol mengobrol.<br />
“Hai, kalian! apa yang kalian lakukan? Bubar-bubar!” teriak Pak Karno sembari mendekat. Rajab dan kawan-kawan kaget dan mulai berpencar.</p>
<p>“Kau ingat ya, begitu kubilang siap, kau siap,” perintah Rajab.<br />
“Kau yakin Jab?” tanya Muis sambil menjauh.<br />
“Insyaallah,”</p>
<p>Pak Karno mendekat. Rajab kembali mencabuti rumput liar.</p>
<p>“Kamu, bersihkan WC!” perintah Pak Karno kepada Muis yang gelagapan. Muis manggut dan menurut pada perintah Pak Karno. Kesal di hatinya semakin menkristal.<br />
“Ku balas kau,” maki Muis sambil beranjak ke WC.</p>
<p>Dari jauh Shaleh memperhatikan Rajab.<br />
“Mulai!” perintah Rajab.</p>
<p>Syafei ambruk, kelojotan di tanah kemudian diam tak bergerak. Seluruh siswa hukuman mengerubungi tubuh Syafei.<br />
“Run, Syafei, pingsan,” teriak Rajab. Misrun lari mendekat. Kemudian berbalik ke ruang guru.<br />
***<br />
“Apa pingsan?” tanya Pak Karno. “Badannya montok begitu kok bisa pingsan?”<br />
“Baiknya Bapak lihat saja dahulu,” ujar Misrun tersengal-sengal.</p>
<p>Di halaman sekolah para siswa berhamburan. Empat siswi menangis, satu diantaranya meraung histeris.</p>
<p>“Pak, Syafei mengamuk.” lapor seorang siswa.<br />
“Apa? mengamuk?” serempak Misrun Pak Karno bertanya.</p>
<p>***<br />
Di WC, Muis masih mempersiapkan diri. “Inilah saatnya, aku membalas,”<br />
Sementara kepanikan merembet ke dalam kelas.<br />
“Kesetanan!”<br />
“Kerasukan!”<br />
“Masyaallah!”<br />
“Allahuakbar!”<br />
“Puji Tuhan!”</p>
<p>Syafei menggeliat di tanah. Dia berguling-guling terus sambil meracau. Tak jauh darinya empat siswi yang tadinya meraung sudah jatuh pingsan. Raungan semakin kencang. Di kelas tiga IPA dua yang tengah belajar Fisika, bangku-bangku dilempar. Guru yang mengajar lari pontang-panting meninggalkan kelas.</p>
<p>Pak Karno panik. Dengan ragu, didekapnya Syafei yang tengah meracau.<br />
“Allahu akbar, pergi kau setan!” katanya sambil berteriak. namun teriakan itu tetap kalah dengan suara siswa yang semakin ramai.</p>
<p>Dua orang siswa yang lain ikut terjatuh, berguling-gulingan dan berteriak histeris.<br />
Semua guru dan siswa SMA itu berkumpul di lapangan. Korban dilarikan ke dalam kelas. Tak terkecuali Syafei yang sudah dibekap Ilham dan Misrun. namun, begitu Syafei mau digotong ke dalam kelas, di WC, Muis berteriak.<br />
“Hai, tuan guru, aku adalah jin penunggu sekolah,” ujar Muis dengan suara serak dibuat-buat. Shaleh menelan ludah. Dia mulai ikut-ikutan panik.</p>
<p>“Ha? jatuh juga?” ujar Pak Karno.<br />
“Panggil kiyai, pendeta, pastor, dan dukun&#8230;.” perintahnya kepada Misrun.  Misrun yang tengah membopong Syafei lari meninggalkan sekolah. Seorang guru berlari-lari dikejar siswa yang –entah kesurupan-. Dia terjatuh, berguling-gulingan lalu ikut berteriak seperti siswanya.</p>
<p>“Pak Karno, dukun, kyiai, pastor dan pendeta masih dalam perjalanan.  Saya bawa orang ini Pak,” lapor Misrun.<br />
“Siapa dia?” tanya Pak Karno.<br />
“Wartawan, Pak,”<br />
“Wartawan?” ulang Pak Karno. Si wartawan tersenyum. Sedang Misrun jatuh lunglai ke tanah.</p>
<p>“Jadi bagaimana kejadiannya?”<br />
“Kejadian apa?”<br />
“Kesurupan massal ini,”<br />
“Siapa bilang kesurupan?”<br />
“Lha ini apa tha Pak?”<br />
“Ini hanya anak-anak yang sedang disusupi setan.”<br />
“Nah, sama saja tha Pak?”<br />
“Sama bagaimana? Ya jelas beda. Kalau kesurupan ya kesurupan. Kalau disusupi setan, namanya kesetanan.” jawab Pak Karno.<br />
“Whatever, kejadiannya bagaimana Pak?”<br />
“Ya, begitu saja Mas. Tiba-tiba, sekonyong-konyong siswa berteriak, malah ada yang menghancurkan properti sekolah segala,”<br />
“Maksudnya anarki Pak?<br />
“Iya anarki, seperti yang biasa dilakukan orang demo itu,”<br />
“maksud bapak massa aksi?”<br />
“Bukan, aksi massa,”<br />
“Massa aksi barangkali Pak,”<br />
“Yang guru itu saya atau sampeyan sih? Sudah ah, jangan tanya lagi, saya sedang repot nih,” tandas Pak Karno sambil sibuk membopong siswa-siswa lain yang jatuh pingsan.<br />
“Tapi, Pak&#8230;”</p>
<p>***<br />
Shaleh tak melihat Rajab. Sejak suasana menjadi kacau, Rajab raib begitu saja. Sementara warga sekitar dan wali siswa sudah ramai mengunjungi sekolah itu. Di kantornya, Pak Kepala Sekolah tengah diinterogasi oleh wali siswa, wartawan dan juga polisi.</p>
<p>“Hai, dengarkan tuan-tuan guru. Lama sudah kuamati perlakuan kalian kepada siswa di sini.” Tiba-tiba Muis menerabas kerumunan orang di ruang kepala sekolah. Kepala Sekolah terkesima, begitu pula dengan orang-orang yang hadir di sana.<br />
“Aku adalah jin penunggu kamar mandi. Aku tak bisa melihat kejahatan yang telah kalian lakukan terhadap siswa-siswa di sini,” ujar Muis meyakinkan. Sambil terus berakting diliuk-liukkannya tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Seorang wartawan terus menyodorkan tape recordernya ke arah Muis.</p>
<p>“Tidak kah kalian pernah sekolah? Tidak kah kalian pernah menjadi siswa juga yang tertekan karena tugas-tugas dan kewajiban?”</p>
<p>Di bawah pohon di halaman belakang sekolah Rajab duduk dengan galau.  Shaleh yang akhirnya menemukan Rajab berjalan mendekat. “Aku tahu ini ulahmu Jab,”</p>
<p>“Kalau memang iya, kau mau apa? Mau melaporkannya ke kepala sekolah?”<br />
“Iya, tentulah, aku pasti akan adukan. Tapi bisa jadi, aku tak akan adykan perbuatanmu dan kawan-kawan lainnya, asalkan&#8230;”<br />
“asalkan apa?”<br />
“asalkan aku ikut ke rumah&#8230;”<br />
“Bah, kau mau ancam aku? Aku tak takut Leh. Silahkan saja, kau adukan. Tapi aku juga akan adukan kau,”<br />
“Adukan apa?”<br />
“Kau yang mengedarkan narkoba di sekolah ini,” kata Rajab.<br />
“Apa? Kau tak punya bukti Rajab.”<br />
“Wah, kau salah Bung. Syafei yang memberitahu aku, kalau kau biang keladinya. Kau itu semua kulaporkan, kau tidak hanya dikeluarkan dari sekolah, tapi juga bisa masuk bui. Kau mau masuk bui?” ancam Rajab membalas.<br />
“Jangan, jangan Jab. Tolong. Aku memang konsumsi narkoba, tapi bukan pengedarnya. Kebetulan saja ketika itu Syafei ada di dekatku, jadi kutawarkan padanya. Tapi dia juga mau kok.”<br />
“Ah, itu sama saja. Sekali pengedar tetap pengedar. Ku adukan kau ke Pak Karno, bisa rusak nama orang tuamu. Bagaimana?”</p>
<p>Shaleh terdiam. Tatapan matanya kosong. Rajab sudah pegang kartunya.<br />
“Ah sudahlah Leh, bagaimana pun, aku masih lebih baik dari kau. Setidaknya, sekarang kita bisa bebas di luar jam sekolah. Ini kulakukan demi kawan-kawan juga.” Timpal Rajab lagi.<br />
Shaleh menunduk.</p>
<p>Di ruangan kepala sekolah, Muis semakin nekat. Semua  benda yang ada di atas meja habis diserakkannya. Buku catatan dan administrasi sekolah dirobek dan dimakannya.<br />
“Tenang Pak, tenang. Ini ada Pak Ustad,” kata Pak Karno masuk sambil membawa seorang lelaki tua berbaju gamis.</p>
<p>“Masyaallah, ini cucunya jin ifrit penunggu sekolah.” ujar Pak Ustad begitu melihat Muis yang tengah meronta-ronta karena dibekap.<br />
“Hei, Wak Ustad, ente jangan sok tahu. Ane mantrain, ente bisa jadi onta. Mundur!” perintah Muis yang semakin terbawa suasana.<br />
“Hei,” kata Muis menunjukk Pak Karno. Mengapa kamu begitu kejam kepada cucuku ini? ujar Muis. “Kenapa kamu memberikan hukuman yang tidak mendidik kepada cucuku?” Muis masih terus menatap Pak Karno. Sekarang dia puas bisa melihat tampang Pak Karno yang berubah pucat. “Kau tak punya perasaan. Kalian semua yang ada di sini, guru-guru macam apa kalian? Memberikan tugas kelewat berat. Kalian bilang itu pelajaran? Itu siksaan. Siksaan, Goblok!” kata Muis sambil menepis tangan orang-orang yang membekapnya.</p>
<p>Masuk seorang pendeta membawa salib besar. “Puji Tuhan, ampunilah hambamu ini Tuhan. Dia tidak tahu, kalau alamnya sudah berbeda. Bebaskanlah dia dari dosanya, kembalikan dia ke alamnya,” pidato pak pendeta sambil terus menyodorkan salib ke arah Muis. Muis tertawa sukses. Dua orang pemuka agama sudah dibuatnya terlihat bodoh hari ini. Sambil tertawa keras, Muis mulai menari-nari di atas meja kepala sekolah “Nggak mempan, nggak mempan,” ejeknya.</p>
<p>***<br />
Ilham datang menemui Rajab dan Shaleh. “Jab, bagaimana ini? Gara-gara ulahmu semua orang jadi panik sekarang.”<br />
Rajab menoleh sambil tersenyum kecut. “Salah mereka Il, kenapa mereka mau ikut-ikutan,”<br />
“Salah mereka bagaimana?”<br />
“Awalnya kita cuma berakting agar tidak dihukum. Tapi kok yang lain malah ikut-ikutan? Mana aku tahu. Kau tanyakan saja sama yang lain. Jangan-jangan mereka juga Cuma berpartisipasi. Biar tidak belajar,”<br />
“Ah, pandai kau cakap. Aku tak mau ikut-ikutan,” ujar Ilham ketakutan.<br />
“Eh tidak bisa, kau sudah ikut Bung.” sergah Rajab. Shaleh yang berdiri di samping Rajab hanya bisa menunjukkan wajah.<br />
“Dan si Shaleh?” tanya Muis sambil memandangi Shaleh.<br />
“Tidak ada urusan dengan dia. Ayo kita ke kelas.” ajak Rajab. Muis mengekor di belakang. Hanya Shaleh yang memilih tinggal.</p>
<p>Pukul tiga siang. Muis masih berakting di dalam ruang kepala sekolah. Sementara ibunya yang datang ke sekolah, menangis melihat tingkah anaknya.</p>
<p>“Kemana semua uang pembayaran sekolah? Tanya Muis menginterogasi Kepala Sekolah. Pak Karno terus memegangi Muis yang tenanganya semakin siang semakin bertambah. Pak Kepsek panik, gagap tak bisa membujuk Muis. Sementara si wartawan terus memegani tape recordernya.<br />
“Ku cekik kau!” ancam Muis kepada Kepala Sekolah.<br />
“Ada, ada wahai kakek penunggu sekolah,” jawab Kepala sekolah ragu.<br />
“Bohong, kau pasti sudah makan uang itu. Kalau memang ada, kenapa siswa harus dihukum membersihkan halaman dan WC? Bukan kah itu tugas pembersih sekolah?”<br />
“Iya, iya Kek.”<br />
“Iya apa? Sudah berapa bulan pembersih sekolah tak digaji?”<br />
Kepala sekolah bingung. “Hei Bodoh! Aku bertanya padamu,” Muis nekat membentak.<br />
Ruangan hening. Di halaman sekolah kepanikan sudah lama berhenti.</p>
<p>Sambil menelan ludah Kepala Sekolah menjawab putus-putus. “Ti, ti, tiga bulan Kek,”<br />
“Mengapa bisa begitu? Jawab, ku cekik kau!”<br />
“Ampun Kek, jawabnya nanti saja, di sini ada wartawan dan pak pulisi. Tidak enak dijawabnya,”<br />
Muis terus memutar otaknya. Dia terus berusaha agar tidak mati gaya.</p>
<p>“Pak ini ada dukun sakti, baru pulang dari Pantai Selatan,” ujar Misrun menghampiri Pak Karno. Tak lama masuk seorang dukun berbaju lurik. Sementara ustad dan pendeta terus berdoa dengan cara yang beda.</p>
<p>Ruangan kepala sekolah adalah satu-satunya ruangan yang masih ramai. Sebab menurut ustad dan pendeta yang mengusir ruh jahat, raja setannyalah sampai sekarang merasuki tubuh Muis.</p>
<p>“Kelamaan nih. Bilang ke Muis, aktingnya sudah cukup,” kata Rajab pada Syafei.<br />
“Mana bisa bos. Dia dikelilingi orang sakti,” jawab Syafei.<br />
Sambil turun dari meja. Ilham gantian naik ke meja dan gantian mengintip ke dalam ruangan.<br />
“Muis akting apa beneran sih?”</p>
<p>***<br />
“Wharah kadah, babi ngepet roh jahat, keluarlah kau dari tubuh cucuku ini!” perintah Mbah Dukun sambil menyemburkan air mineral ke wajah Muis. Muis kaget sejenak. Jijik dan marah bersatu. Namun dia tak mungkin begitu saja berubah lakon. Sementara dari seberang jendela Ilham terus menunjuk-nunjuk jam tangannya sendiri.</p>
<p>“Hai dukun palsu. Rupanya kau sudah lama tak sikat gigi. Baiklah, aku tak kuat mencium bau mulutmu. Tapi sebelum aku pergi, ingat pesanku, jangan buat cucu-cucuku di sini cepat tua karena tanggung jawab yang tak bisa dipanggulnya. Satu lagi, jangan tambah pekerjaan mereka. Segera bayar gaji pembersih sekolah dan yang terutama, tidak ada mata pelajaran tambahan! Ingat?”</p>
<p>Semua yang hadir mengangguk. Pak ustad dan pendeta terus berdoa. Tak lama Muis terkapar jatuh lunglai. Ditahannya rasa geli yang sejak pagi dirasa.</p>
<p>***<br />
Esok paginya, Muis bertandang ke rumah Wak Leman. Di punggungnya tersandang tas di tangan kirinya sebuah koran. Dia memang tak ke sekolah pagi itu. Sebabnya, Kepala Sekolah telah mengumumkan libur tiga hari untuk meruwat sekolah.</p>
<p>“Is! Lama betul kau datang.” sapa Rajab yang sudah duduk rapi di depan meja di ruang tamu Wak Leman. “Syafei membetulkan letak kacamatanya untuk memastikan bahwa yang datang adalah Muis. Sambil menggeser duduknya Syafei membereskan buku pelajaran yang berserakan di atas meja.</p>
<p>Muis masuk dan memberikan koran yang dibawanya pada Rajab.<br />
“Hehehe, kena dia sekarang. Memang harus ada yang berani bongkar kasusnya. Betul tidak? Tanya Rajab pada teman-temannya. Muis dan Syafei mengangguk. “Kita punya cara kawan,” sambungnya lagi. Muis mengambil duduk dan meletakkan tasnya. “Aku sudah bilang pada emakku, hari ini kita belajar kelompok,” kata Muis sambil menjatuhkan pantatnya.</p>
<p>“Itu si Ilham.” ujar Muis.<br />
“Mana si Misrun?” tanya Syafei. Ilham masuk ke dalam rumah.<br />
“Dia tak bisa ikut.” Ilham menjawab dua temannya. Dengan lesu ditutupnya pintu rumah Wak Leman.<br />
“Kalau dia tak ikut, ya sudahlah, kita mulai saja acaranya,” kata Rajab sambil membuka bungkusan kecil dari dalam kotak rokoknya. Pagi itu, Rajab, Muis, Ilham dan Syafei begitu gembira.</p>
<p>Palmerah, 22 November 2007</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hujanderas.wordpress.com/174/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hujanderas.wordpress.com/174/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hujanderas.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hujanderas.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hujanderas.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hujanderas.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hujanderas.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hujanderas.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hujanderas.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hujanderas.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hujanderas.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hujanderas.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hujanderas.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hujanderas.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hujanderas.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hujanderas.wordpress.com/174/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hujanderas.wordpress.com&amp;blog=807202&amp;post=174&amp;subd=hujanderas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hujanderas.wordpress.com/2008/02/18/guru-kencing-berdiri-murid-kencing-celana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/42b443dcf566b5ad7c33db37b0d57794?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">hujanderas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Agenda CCF Jakarta bulan Februari</title>
		<link>http://hujanderas.wordpress.com/2008/02/10/agenda-ccf-jakarta-bulan-februari/</link>
		<comments>http://hujanderas.wordpress.com/2008/02/10/agenda-ccf-jakarta-bulan-februari/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Feb 2008 16:37:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hujanderas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hujanderas.wordpress.com/2008/02/10/agenda-ccf-jakarta-bulan-februari/</guid>
		<description><![CDATA[Bonjour, Bersama ini kami informasikan agenda acara budaya CCF Jakarta bulan Februari 2008 : * 9 Februari &#62;&#62;&#62; Program film pendek Indonesia &#8211; Prancis à courts d&#8217;écran # 12 Tavelogue * 14 &#62; 17 Februari &#62;&#62;&#62; Program sinema spesial Marguerite Duras @ Kineforum * 2 &#62; 23 Februari &#62;&#62;&#62; Program sinema reguler Agnes Varda @ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hujanderas.wordpress.com&amp;blog=807202&amp;post=173&amp;subd=hujanderas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bonjour,</p>
<p>Bersama ini kami informasikan agenda acara budaya CCF Jakarta bulan Februari 2008 :</p>
<p>* 9 Februari &gt;&gt;&gt; Program film pendek Indonesia &#8211; Prancis à courts d&#8217;écran # 12 Tavelogue<br />
* 14 &gt; 17 Februari &gt;&gt;&gt; Program sinema spesial Marguerite Duras @ Kineforum<br />
* 2 &gt; 23 Februari &gt;&gt;&gt; Program sinema reguler Agnes Varda @ CCF Jakarta</p>
<p>Selanjutnya informasi lebih lengkap dapat Anda baca di bawah ini. Besar harapan kami Anda dapat datang dan berpartisipasi pada kegiatan CCF Jakarta.</p>
<p>Terima kasih atas perhatian Anda.</p>
<p>Salam hangat,<span id="more-173"></span></p>
<p>Kegiatan CCF Jakarta terselenggara berkat kerjasama dan dukungan : O Channel &#8211; Jakarta Java Kini &#8211; Trax &#8211; Spice! &#8211; 90.4 FM Cosmopolitan  &#8211; 101.4 Trax FM &#8211; I Radio 89.6 FM &#8211; WhatzUp &#8211; Djakarta! &#8211; Kompas URBANA.</p>
<p>&#8212;<br />
Astri Retno Onengan (Aci)<br />
Centre Culturel Français de Jakarta<br />
Jl. Salemba Raya N° 25, Jakarta 10440<br />
INDONESIE<br />
T. [++ 62 21] 390 85 80 &#8211; 390 77 16<br />
F. [++ 62 21] 390 85 86<br />
M.[++ 62] 815 913 60 90<br />
astri.onengan@ ccfjakarta. or.id<br />
info@ccfjakarta. or.id  &#8211; ecrire@ccfjakarta. or.id<br />
www.ccfjakarta. or.id<br />
http://ccfdejakarta .multiply. com/</p>
<p>(Film Pendek)</p>
<p>à courts d’écran</p>
<p>Pemutaran film, Diskusi</p>
<p>Sabtu, 9 Februari 2008</p>
<p>Pk.15.00 &gt; selesai</p>
<p>di</p>
<p>CCF Jakarta</p>
<p>Jl. Salemba Raya No.25, Jakarta Pusat</p>
<p>tel. 390 77 16 – 390 85 85</p>
<p>Kurator: Dimas Jayasrana</p>
<p>Informasi lebih lanjut : http://acourtsdecra n.wordpress. com &#8211; www.ccfjakarta. or.id</p>
<p>Email: acourtsdecran@ ccfjakarta. or.id</p>
<p>GRATIS – Terbuka untuk umum</p>
<p>Sukses tidak pendek!</p>
<p>Satu tahun telah dilalui oleh program à courts d&#8217;écran. Tercatat 57 film pendek Indonesia diputar, bekerjasama dengan tujuh organisasi film Indonesia (Boemboe, Konfiden, Kineforum, Kinoki, Hello;Motion, Sangkanparan dan Jiffest), serta satu program spesial dalam program ini mulai bulan Januari &#8211; Desember 2007 dengan melibatkan lebih dari 70 pembuat film pendek Indonesia dan Prancis, mengundang satu orang programmer dari Clermont Ferrand Film Festival.</p>
<p>2008 adalah tahun kedua program à courts d&#8217;écran. Menyediakan ruang dialog Indonesia &#8211; Prancis melalui film pendek serta memberi ruang seluasnya bagi pembuat film pendek Indonesia untuk menampilkan karya tetap menjadi visi-misi utama à courts d&#8217;écran. Nantikan program-program à courts d&#8217;écran ditahun 2008 ini !</p>
<p>«Travelogue »</p>
<p>Agus Mediarta, programmer Konfiden, berkesempatan melakukan perjalanan ke Paris dan Clermont-Ferrand untuk mengunjungi festival serta asosiasi film pendek pada bulan Desember lalu. Simak presentasi dan kurasi hasil perjalanannya.</p>
<p>Ryan<br />
Chris Landreth / Fiction / 13’50” / Canada / 2004<br />
Sebuah eksperimentasi dokumenter animasi tentang dialog pembuat film dengan animator legendaris Canada, Ryan Larkin.<br />
Memperoleh 60 penghargaan dari berbagai festival di dunia: 3 penghargaan dari Cannes dan 1 dari Festival Film Animasi di Annecy.</p>
<p>La Femme Seule<br />
Brahim Fritah / Fiction / 23’ / Togo / 2005<br />
Esai dokumenter yang provokatif tentang kehidupan Legba Akosse, seorang gadis dari Togo yang mengalami keterkungkungan dalam ruang keluarga sebuah apartemen di Paris.<br />
Prix spécial du jury Clermont Ferrand 2005.</p>
<p>Berbulu is Sexy<br />
Bayu Bergaswaras / Fiction / 10’35” / Indonesia / 2005<br />
Film dokumenter yang berusaha menggunakan pendekatan yang sederhana dan terkesan naif tentang isu yang sensasional lewat wawancara dengan sembilan perempuan. Apa persepsi para perempuan itu tentang bulu ketiak?</p>
<p>à courts d&#8217;écran adalah sebuah program yang memfasilitasi pembuat film pendek Indonesia-Prancis melalui pemutaran film serta diskusi untuk menciptakan ruang apresiasi bagi pembuat film pendek dan publik. CCF Jakarta membuka ruang bagi pembuat film pendek Indonesia untuk terlibat dalam program ini. Pembuat film pendek Indonesia dapat mengirimkan karya ke CCF Jakarta untuk dikurasi dan ditampilkan dalam satu program pemutaran. Program pemutaran dilakukan sebulan sekali di CCF Salemba serta tempat lainnya.</p>
<p>(Sinema)</p>
<p>MARGUERITE DURAS<br />
pemutaran film sastra dan diskusi bersama Stéphane Bouquet<br />
Kamis s/d Minggu tanggal 14 &gt; 17 Februari 2008<br />
pukul 14.15, 17.30 dan 19.30 (diskusi pukul 12.00)<br />
di KINEFORUM &#8211; studio 1 TIM 21, Jalan Cikini Raya 73 Jakarta Pusat 10330</p>
<p>Marguerite Duras adalah nama samaran dari pengarang dan penulis drama, Marguerite Germaine Marie Donnadieu yang lahir pada tanggal 4 April 1914 di Gia Dinh, dekat kota Saigon (sekarang Ho Chi Minh Ville) di Vietnam. Ia meninggal dunia pada tanggal 3 Maret 1996 di Paris pada usia 81 tahun. Ciri khas karya-karyanya terletak pada keanekaragaman aktivitasnya. Sebagai narator, penulis skenario dan sutradara, Marguerite Duras menjadi pelopor genre roman baru dan mendobrak berbagai aspek dalam bidang teater dan sinematografi.</p>
<p>Bekerjasama dengan Kineforum, 3 hari seputar Marguerite Duras dan dunia perfilman akan menjadi momen untuk mengenal kegiatannya dalam bidang sinema. Pengarang, penulis skenario dan kritikus Prancis, Stéphane Bouquet akan berada di Jakarta untuk mempresentasikan film-film yang akan diputar dan mengadakan diskusi. Pada hari Sabtu 16 februari 2008 pukul 12.00, Stéphane Bouquet akan membahas kehidupan dan karya Marguerite Duras dengan fokus pada sinema. Pertemuan ini dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab dengan publik.</p>
<p>NOTE :<br />
- Pemutaran film ini terbuka untuk umum,<br />
- tidak ada pemesanan tempat dan tidak dipungut biaya.<br />
- Penonton diharapkan datang tepat waktu dan<br />
- tidak makan, minum, merokok dan berbicara selama pemutaran film berlangsung. .</p>
<p>JADWAL<br />
Kineforum &#8211; studio 1 TIM 21, Jalan Cikini Raya 73 Jakarta Pusat<br />
tel. 08 18 16 76 62 82 / 98 06 75 97 (Petrus)<br />
kineforumdkj@ yahoo.co. id | http://kineforum. wordpress. com</p>
<p>Kamis 14 februari 2008<br />
14.15 La couleur des mots: Marguerite Duras<br />
17.30 Mort du jeune aviateur anglais<br />
19.30 Hiroshima mon amour</p>
<p>Jumat 15 februari 2008<br />
14.15 Marguerite telle qu&#8217;en elle même<br />
17.30 La couleur des mots: Marguerite Duras<br />
19.30 L&#8217;Amant</p>
<p>Sabtu 16 februari 2008<br />
12.00 Diskusi bersama Stéphane Bouquet<br />
14.15 Mort du jeune aviateur anglais<br />
17.30 Marguerite telle qu&#8217;en elle même<br />
19.30 Hiroshima mon amour</p>
<p>Minggu 17 februari 2008<br />
14.15 La couleur des mots: Marguerite Duras<br />
17.30 Marguerite telle qu&#8217;en elle même<br />
19.30 L&#8217;Amant</p>
<p>SINOPSIS</p>
<p>&gt; Hiroshima mon amour<br />
karya Alain Resnais<br />
ditulis oleh Marguerite Duras<br />
menampilkan Emanuelle Riva, Eiji Okada<br />
1959, 91 min., versi Prancis teks inggris<br />
Bulan Agustus 1957 di Hiroshima. Dalam keremangan sebuah kamar, sepasang kekasih berpelukan. Yang wanita seorang aktris Prancis tigapuluhan yang datang membuat film tentang perdamaian. Yang pria seorang arsitek Jepang. Inilah kisah cinta mereka yang mustahil.</p>
<p>&gt; L&#8217;Amant<br />
karya Jean-Jacques Annaud<br />
adaptasi dari Marguerite Duras<br />
menampilkan Jane March, Tony Leung, Melvil Poupaud, Frédérique Meninger<br />
1992, 111 min., versi inggris<br />
Kisah cinta seorang gadis limabelas tahunan dengan seorang pria Cina tigapuluh enam tahun di akhir tahun 1920 di Indocina.</p>
<p>&gt; Mort du jeune aviateur anglais : Marguerite Duras<br />
karya Benoît Jacquot<br />
1993, 43 min., versi Prancis teks inggris<br />
Marguerite Duras bercerita kepada Benoît Jacquot kisah &#8220;La mort du jeune aviateur anglais&#8221; yang makamnya ia temukan di dekat kota Deauville, di sebuah desa kecil. Tidak ada yang tahu kebenaran cerita ini. Kita tak tahu kalau ini hanyalah kisah fiktif karangan Marguerite Duras atau bukan.</p>
<p>&gt; La Couleur des mots : Marguerite Duras<br />
Edition vidéographique critique<br />
karya Dominique Noguez<br />
1984, 63 min., versi Prancis teks inggris<br />
Pasca produksi film India Song (1975) dibagi menjadi beberapa tahap. Partama-tama tatap muka Marguerite Duras dengan Dominique Noguez, menghubungkan film dengan dua buku. Berbagai tema diungkapkan : masa kecil, penokohan yang beragam dan film-film lainnya&#8230;</p>
<p>&gt; Marguerite telle qu&#8217;en elle-même<br />
karya Dominique Auvray<br />
2002, 61 min., versi Prancis teks inggris<br />
Salah satu ungkapan terindah &#8220;Duras Marguerite, perempuan sastra&#8221;, seperti ucapnya. Ia juga mengatakan bahwa ia membuat film karena ia tak bisa berdiam diri saja. Cantik, bebas, politik, dihantui oleh masa lalu, bersumpah takkan melupakan apapun, Duras selalu ada disana.</p>
<p>Acara ini terselenggara berkat kerjasama CCF Jakarta dengan KINEFORUM &#8211; Dewan Kesenian Jakarta dan didukung oleh http://www.rumahfil m.org</p>
<p>(Sinema)</p>
<p>AGNES VARDA<br />
Pemutaran film setiap Sabtu jam 13.00 wib<br />
Di CCF Salemba &amp; Wijaya, 2 &gt; 23 Februari 2008</p>
<p>Agnès Varda adalah seorang sutradara film dan fotografer. Siswa di Sorbonne, mahasiswa Ecole du Louvre, ia memperoleh master fotografi. Ia memperoleh sukses dengan Cléo de 5 à 7. Dalam debut awalnya, Varda membuat film pendek dan panjang, dokumenter dan fiksi, film pesanan dan cerita picisan. Tahun 1976, ia menemani suaminya, Jacques Demy, ke Amerika Serikat. Ia jatuh cinta dengan Los Angeles, kota dimana ia sering bertemu Andy Warhol dan Jim Morrison. Ia membuat fiksi mengenai kehidupan hippies dan dokumenter mengenai lukisan tembok. Dengan bakatnya sebagai pencerita dan rasa ingin tahunya yang besar, Varda berhasil memperoleh tempat khusus dalam perfilman Prancis. Tahun 2001 ia menerima César d&#8217;honneur.</p>
<p>NOTE :<br />
- Pemutaran film ini terbuka untuk umum,<br />
- tidak ada pemesanan tempat dan tidak dipungut biaya.<br />
- Penonton diharapkan datang tepat waktu dan<br />
- tidak makan, minum, merokok dan berbicara selama pemutaran film berlangsung. .</p>
<p>&#8212;&#8212;<br />
JADWAL<br />
&#8212;&#8212;</p>
<p>CCF Salemba<br />
Jl. Salemba Raya 25 Jakarta Pusat 10440 &#8211; tel. (021) 390 85 85</p>
<p>sabtu  2 februari &#8211; 13.00  Les démoiselles ont eu 25 ans<br />
sabtu  2 februari &#8211; 13.00  Les glaneurs et les glaneuses<br />
sabtu 16 februari &#8211; 13.00  Daguerréotypes<br />
sabtu 23 februari &#8211; 13.00  Cléo de 5 à 7</p>
<p>CCF Wijaya<br />
Jl. Wijaya I/48 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12170 &#8211; tel. (021) 720<br />
81 33</p>
<p>sabtu  2 februari &#8211; 13.00  Daguerréotypes<br />
sabtu  2 februari &#8211; 13.00  Cléo de 5 à 7<br />
sabtu 16 februari &#8211; 13.00  Les démoiselles ont eu 25 ans<br />
sabtu 23 februari &#8211; 13.00  Les glaneurs et les glaneuses</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8211;<br />
SINOPSIS<br />
&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>&gt; Les Demoiselles ont eu 25 ans<br />
karya Agnès Varda<br />
1993, 120 min., versi Prancis teks inggris<br />
Di kota Rochefort tahun 1966, Jacques Demy membuat film &#8220;Les Demoiselles de Rochefort&#8221; bersama kakak-adik Deneuve-Dorlé ac. Tahun 1992, kota ini berpesta memperingati perayaan 25 tahun film ini.</p>
<p>&gt; Daguerréotypes<br />
karya Agnès Varda<br />
1974-1975, 80 min., versi Prancis teks inggris<br />
Ini bukan film mengenai jalan Daguerre yang asri di blok 14 di Paris. Film ini mengnai potongan jalan Daguerre, antara nomor 70 dan 90, sebuah dokumen sederhana dan lokal mengenai pemilik toko kecil, pengamatan terhadap warga yang mayoritas pendiam. Film ini mewakili Prancis dalam Oscar 1975 kategori dokumenter &amp; mendapat Prix du cinéma art et essai 1975.</p>
<p>&gt; Les Glaneurs et la glaneuse : Deux ans après<br />
karya Agnès Varda<br />
2002, 171 min., versi Prancis teks inggris<br />
Hampir di seluruh Prancis, Agnes bertemu dengan para pemungut dan pemulung barang-barang aneh. Sengaja atau tidak, mereka saling berhubungan. Dunia mereka sungguh mengejutkan.</p>
<p>&gt; Cléo de 5 à 7<br />
karya Agnès Varda<br />
avec menampilkan Corinne Marchand, Antoine Bourseiller, Dorothée Blank<br />
1961, 90 min., versi Prancis teks inggris<br />
Cléo (kependekan dari Cleopatra) si penyanyi cantik, menunggu hasil laboratorium kesehatan. Dari takhayul sampai rasa takut, dari Rivoli sampai Café de Dôme, dari ke-genitan sampai kekhawatiran, dari rumah-nya sampai Taman Montsouris, Cléo melalui 90 menit kehidupan yang tidak biasa.</p>
<p>&#8212;&#8212;<br />
JADWAL<br />
&#8212;&#8212;</p>
<p>sabtu, 2 februari 2008 &#8211; pukul 13.00<br />
CCF Salemba : Les démoiselles ont eu 25 ans<br />
CCF Wijaya  : Daguerréotypes</p>
<p>Sabtu, 9 februari 2008 &#8211; pukul 13.00<br />
CCF Salemba : Les glaneurs et les glaneuses<br />
CCF Wijaya  : Cléo de 5 à 7</p>
<p>Sabtu, 16 februari 2008 &#8211; pukul 13.00<br />
CCF Salemba : Daguerréotypes<br />
CCF Wijaya  : Les démoiselles ont eu 25 ans</p>
<p>Sabtu, 23 februari 2008 &#8211; pukul 13.00<br />
CCF Salemba : Cléo de 5 à 7<br />
CCF Wijaya  : Les glaneurs et les glaneuses</p>
<p>Acara ini terselenggara berkat dukungan dari www.rumahfilm. org</p>
<p>Informasi selengkapnya, hubungi :</p>
<p>Yosef Indra<br />
Penanggung jawab program film / grafis</p>
<p>Centre Culturel Français | Pusat Kebudayaan Prancis | CCF Jakarta<br />
Jalan Salemba Raya No. 25 Jakarta Pusat 10440<br />
tel. 021 &#8211; 390 85 80, 390 85 85<br />
fax. 021 &#8211; 390 85 86<br />
www.ccfjakarta. or.id<br />
yosef.indra@ ccfjakarta. or.id</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hujanderas.wordpress.com/173/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hujanderas.wordpress.com/173/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hujanderas.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hujanderas.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hujanderas.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hujanderas.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hujanderas.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hujanderas.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hujanderas.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hujanderas.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hujanderas.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hujanderas.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hujanderas.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hujanderas.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hujanderas.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hujanderas.wordpress.com/173/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hujanderas.wordpress.com&amp;blog=807202&amp;post=173&amp;subd=hujanderas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hujanderas.wordpress.com/2008/02/10/agenda-ccf-jakarta-bulan-februari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/42b443dcf566b5ad7c33db37b0d57794?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">hujanderas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Majalah Tempo Dilaporkan ke Polda Metro Karena Penistaan Agama</title>
		<link>http://hujanderas.wordpress.com/2008/02/09/majalah-tempo-dilaporkan-ke-polda-metro-karena-penistaan-agama/</link>
		<comments>http://hujanderas.wordpress.com/2008/02/09/majalah-tempo-dilaporkan-ke-polda-metro-karena-penistaan-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Feb 2008 02:26:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hujanderas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hujanderas.wordpress.com/2008/02/09/majalah-tempo-dilaporkan-ke-polda-metro-karena-penistaan-agama/</guid>
		<description><![CDATA[Edisi Sabtu, 9 Februari 2008 Jakarta, (Analisa) Majalah Tempo dilaporkan ke Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat, atas tuduhan melakukan penistaan agama, terkait pemuatan gambar mantan Presiden Soeharto dengan keluarganya yang identik dengan gambar Yesus Kristus dengan para muridnya. Laporan itu disampaikan oleh sekelompok orang yang menamakan diri Aliansi Mahasiswa dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hujanderas.wordpress.com&amp;blog=807202&amp;post=172&amp;subd=hujanderas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Edisi Sabtu, 9 Februari 2008<br />
Jakarta, (Analisa)</p>
<p>Majalah Tempo dilaporkan ke Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat, atas tuduhan melakukan penistaan agama, terkait pemuatan gambar mantan Presiden Soeharto dengan keluarganya yang identik dengan gambar Yesus Kristus dengan para muridnya.<span id="more-172"></span></p>
<p>Laporan itu disampaikan oleh sekelompok orang yang menamakan diri Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Kristen (AMPK). Laporan tersebut tercatat dengan nomor 435/K/II/2008/ SPK Unit I.</p>
<p>AMPK menuduhkan sampul majalah Tempo edisi 4 Februari 2008 yang membuat gambar Suharto dengan keluarganya identik dengan lukisan &#8220;The Last Super&#8221; karya Leonardo Da Vinci yang menggambarkan Yesus Kristus sedang menggelar perjamuan kudus dengan para muridnya.</p>
<p>Menurut AMPK, sampul majalah Tempo itu dinilai melanggar pasal 156 KUHP tentang penistaan agama.</p>
<p>Juru bicara AMPK, Marselius Simarmata, meminta Polda Metro Jaya agar mengambil tindakan hukum terhadap kasus ini.</p>
<p>&#8220;Kami juga meminta aparat penegak hukum agar menarik majalah Tempo dari peredaran karena telah melukai hati umat Kristen dan Katolik,&#8221; katanya.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hujanderas.wordpress.com/172/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hujanderas.wordpress.com/172/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hujanderas.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hujanderas.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hujanderas.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hujanderas.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hujanderas.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hujanderas.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hujanderas.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hujanderas.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hujanderas.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hujanderas.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hujanderas.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hujanderas.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hujanderas.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hujanderas.wordpress.com/172/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hujanderas.wordpress.com&amp;blog=807202&amp;post=172&amp;subd=hujanderas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hujanderas.wordpress.com/2008/02/09/majalah-tempo-dilaporkan-ke-polda-metro-karena-penistaan-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/42b443dcf566b5ad7c33db37b0d57794?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">hujanderas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jumhur Hidayat:Indonesia Jadi Benchmark Gaji Minimum</title>
		<link>http://hujanderas.wordpress.com/2008/02/06/jumhur-hidayatindonesia-jadi-benchmark-gaji-minimum/</link>
		<comments>http://hujanderas.wordpress.com/2008/02/06/jumhur-hidayatindonesia-jadi-benchmark-gaji-minimum/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Feb 2008 01:32:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hujanderas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[TKI Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hujanderas.wordpress.com/?p=171</guid>
		<description><![CDATA[http://www.gatra. com/artikel. php?id=111974 Para TKI Mengurus Paspor &#38; Berbagai Dokumen di KBRI Kuala Lumpur, Malaysia (GATRA/Miranti S Hirschmann)Bertahun-tahun &#8220;menekuni&#8221; masalah buruh membuat Jumhur Hidayat fasih melafazkan problematika tenaga kerja Indonesia (TKI). Kini sudah 10 bulan Jumhur menyandang jabatan Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI). Bagaimana hasilnya? Berikut perbincangan wartawan Gatra Hendri Firzani dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hujanderas.wordpress.com&amp;blog=807202&amp;post=171&amp;subd=hujanderas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>http://www.gatra. com/artikel. php?id=111974</p>
<p><a href="http://hujanderas.files.wordpress.com/2008/02/tki-tempo.jpg" title="tki-tempo.jpg"><img src="http://hujanderas.files.wordpress.com/2008/02/tki-tempo.jpg?w=257&#038;h=185" alt="tki-tempo.jpg" align="left" height="185" width="257" /></a><b>Para</b> TKI Mengurus Paspor &amp; Berbagai Dokumen di KBRI Kuala Lumpur, Malaysia (GATRA/Miranti S Hirschmann)Bertahun-tahun &#8220;menekuni&#8221; masalah buruh membuat Jumhur Hidayat fasih melafazkan problematika tenaga kerja Indonesia (TKI). Kini sudah 10 bulan Jumhur menyandang jabatan Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI). Bagaimana hasilnya? Berikut perbincangan wartawan Gatra Hendri Firzani dengan Jumhur, yang pada juga menjadi Ketua Umum Gabungan Serikat Pekerja Merdeka Indonesia.<span id="more-171"></span></p>
<p>Sejauh mana pembahasan soal TKI dengan Malaysia?<br />
Secara umum, pemerintahan Perdana Menteri Abdullah Badawi sangat concern. Mereka mengaku prihatin atas kasus-kasus kekerasan terhadap TKI. Hanya saja, karena terkait masalah hukum, Pemerintah Malaysia mengaku tidak bisa campur tangan. Tapi kita tetap meminta dan mendesak agar ada kepastian hukum.</p>
<p>Anda punya usul mandatory consular notification (MCN). Bagaimana nasibnya?<br />
Pemerintah Malaysia sudah setuju. Tapi mereka masih mempelajari teknis pelaksanaannya. Bisa dimaklumi, karena jumlah WNI di Malaysia ada 3 juta orang. Maksud adanya MCN, bagi setiap orang yang mendapat masalah hukum di negara tersebut, Pemerintah Malaysia wajib melaporkannya segera kepada kantor perwakilan Indonesia.</p>
<p>Bagaimana pemerintah mengawasi aktivitas TKI?<br />
BNP2TKI sedang mendiskusikan dengan Malaysia untuk membentuk lembaga monitoring. Lembaga itu akan berfungsi layaknya call center. Pengawasan TKI akan dilakukan dengan menelepon, mendata, dan melakukan konseling. Konsepnya sedang kami susun. Jika berjalan, saya yakin bisa mengurangi kasus-kasus kekerasan terhadap TKI.</p>
<p>Di Malaysia, melalui Departemen Luar Negeri, sejumlah perubahan sudah dilakukan. Antara lain dalam pengurusan dokumen, dulu bisa mencapai 41 hari, tapi diperbaiki hingga 16 hari, sekarang cuma butuh tiga jam. Begitu juga ruang pelayanan, dulu antre dan berpanas-panas, sekarang di ruang ber-AC.</p>
<p>Soal gaji, Filipina bisa menetapkan gaji minimal buat tenaga kerjanya, kok Indonesia belum?<br />
Saya rasa, bukan seperti itu. Malaysia tidak mengenal upah minimum. Adapun untuk Filipina, gajinya ditentukan oleh Pemerintah Filipina. Jadi, buat mereka yang hendak ke luar negeri, pemerintah menetapkan gaji minimum. Jika tidak, mereka tidak dapat ke luar negeri. Nah, itu kita lakukan di Timur Tengah. BNP2TKI berhasil menaikkan upah minimum TKI hingga 33%. Padahal, sudah bertahun-tahun tidak pernah naik.</p>
<p>Sekarang upah TKI minimal 800 riyal atau lebih dari Rp 2 juta per bulan. Sebelumnya hanya 600 riyal. Dan terbukti, permintaan TKI tak berkurang. Begitu pula di Singapura, kita naikkan 25%, dari S$ 280 menjadi S$ 350 per bulan. Ini luar biasa. Sepanjang sejarah Indonesia, baru kali ini kita bisa menetapkan gaji minimum bagi TKI di luar negeri. Bahkan negara lain menjadikan Indonesia sebagai benchmark.</p>
<p>Apa peran perusahaan pengerah jasa TKI (PJTKI). Kesannya, mereka fire and forget, mengirim TKI tapi soal perlindungan tidak bertanggung jawab?<br />
Itu sebabnya, kami membangun lembaga pengawasan. Di Arab Saudi akan ditetapkan tambahan pelayanan dan perlindungan bagi TKI. Mulai 1 Maret 2008, setiap TKI yang dikirim ke Arab Saudi dan juga seluruh kawasan Timur Tengah diwajibkan menjadi anggota salah satu kantor pengacara yang ditunjuk. Jadi, user akan memperhitungkan betul tindakannya pada TKI.</p>
<p>Itu berarti lagi-lagi peran pemerintah. PJTKI bagaimana?<br />
Memang, tapi agennya akan kami minta tanggung jawab untuk melakukan monitoring. Agen-agen di Malaysia bahkan mengaku sudah siap. Mereka malah berinisiatif akan mewajibkan user membawa TKI ke kantor agensi atau ke konsuler sebulan sekali. Namun lalu kami bilang, nggak usah, biar pemerintah yang mengawasi, tapi agen akan kami charge. Charge itu akan digunakan untuk membiayai operasional kantor pengawasan yang isinya ada lawyer, psikolog, dan call operator yang akan memantau seluruh TKI kita.</p>
<p>Bagaimana dengan kualitas TKI kita?<br />
Tahun ini, kami menyebutnya sebagai tahun kualitas atau tahun formal. Dua pekan lalu, saya mengumumkan rating balai latihan kerja (BLK). Dari 181 BLK yang ada, saya hentikan 86 buah atau 42%. Mereka tidak boleh beroperasi hingga memperbaiki kualitas pelatihan dan sarana-prasarana BLK. Kami juga akan membuat bursa-bursa kerja hingga kecamatan untuk mengurangi peran calo yang kerap merugikan.</p>
<p>[Nasional, Gatra Nomor 12 Beredar Kamis, 31 Januari 2008]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hujanderas.wordpress.com/171/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hujanderas.wordpress.com/171/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hujanderas.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hujanderas.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hujanderas.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hujanderas.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hujanderas.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hujanderas.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hujanderas.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hujanderas.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hujanderas.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hujanderas.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hujanderas.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hujanderas.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hujanderas.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hujanderas.wordpress.com/171/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hujanderas.wordpress.com&amp;blog=807202&amp;post=171&amp;subd=hujanderas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hujanderas.wordpress.com/2008/02/06/jumhur-hidayatindonesia-jadi-benchmark-gaji-minimum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/42b443dcf566b5ad7c33db37b0d57794?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">hujanderas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hujanderas.files.wordpress.com/2008/02/tki-tempo.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tki-tempo.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Megawati: Saya Sudah Bekerja Maksimal</title>
		<link>http://hujanderas.wordpress.com/2008/02/06/megawati-saya-sudah-bekerja-maksimal/</link>
		<comments>http://hujanderas.wordpress.com/2008/02/06/megawati-saya-sudah-bekerja-maksimal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Feb 2008 01:04:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hujanderas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hujanderas.wordpress.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[02/06/2004 01:01 Dialog Khusus Liputan6.com, Jakarta: Diam itu emas. Peribahasa satu ini tampaknya betul-betul dicamkan dalam pribadi Megawati Sukarnoputri. Lantaran itulah dia tak mau cepat melontarkan kata-kata, terutama menyangkut persoalan yang dinilainya masih bisa ditangani bawahannya dalam jajaran Kabinet Gotong Royong. Keputusan itu rupanya diambil lantaran di satu waktu lampau, pernyataan orang nomor satu di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hujanderas.wordpress.com&amp;blog=807202&amp;post=168&amp;subd=hujanderas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>02/06/2004 01:01 Dialog Khusus</p>
<div align="left"><a href="http://hujanderas.files.wordpress.com/2008/02/art.jpg" title="art.jpg"><img src="http://hujanderas.files.wordpress.com/2008/02/art.jpg?w=245&#038;h=309" alt="art.jpg" align="left" height="309" width="245" /></a><b>Liputan6.com, </b>Jakarta: Diam itu emas. Peribahasa satu ini tampaknya betul-betul dicamkan dalam pribadi Megawati Sukarnoputri. Lantaran itulah dia tak mau cepat melontarkan kata-kata, terutama menyangkut persoalan yang dinilainya masih bisa ditangani bawahannya dalam jajaran Kabinet Gotong Royong. Keputusan itu rupanya diambil lantaran di satu waktu lampau, pernyataan orang nomor satu di Indonesia ini dipelintir sejumlah kuli tinta. &#8220;Saya tak mau [kejadian] itu terulang lagi,&#8221; tutur Megawati, saat berdialog secara khusus dengan reporter SCTV Bayu Sutiyono, Selasa (1/6), di Jakarta.<span id="more-168"></span></div>
<p>Namun memang, belakangan perumpamaan diam adalah emas mulai bergeser. Boleh jadi, itu dilakukan menjelang Pemilihan Umum Eksekutif yang bakal digelar pada 5 Juli mendatang. Bahkan, jauh hari sebelum masa kampanye, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini menyempatkan diri bertatap muka sambil menjawab sederet pertanyaan wartawan [baca: Mega Bersedia Menjawab Pertanyaan Wartawan]. Pada peristiwa yang jarang dilakukan selama menjabat presiden itu, Mega mengatakan bahwa pemilihan presiden mendatang bukanlah sekadar persoalan menang atau kalah.</p>
<p>Keteguhan memegang prinsip telah menjadi jalan hidup putri sulung Presiden Pertama RI Soekarno. Sebab bagi dia, sikap itulah yang menjadikannya siap menjadi pemimpin bangsa Indonesia untuk periode lima tahun mendatang. Beragam proyeksi kinerja, visi, dan target yang hendak dilaksanakannya, dapat disimak dalam wawancara khusus pada kesempatan ini. Berikut petikannya:</p>
<p>Bayu Sutiyono (BS):Secara spesifik, dapatkah Ibu memberikan gambaran, apa saja keberhasilan yang Ibu lakukan selama tiga tahun belakangan ini semasa menjadi presiden RI? Apa saja menurut Ibu yang konkretnya?<br />
Megawati Sukarnoputri (MS): Satu, ya.</p>
<p>BS: Boleh. Kalau Ibu merasa ada dua keberhasilan.<br />
MS:Ya sekarang, yang paling konkret tentunya. Pemerintahan kami ini dapat menyelesaikan masalah yang sangat besar dan sangat substansial. Yaitu masalah BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional). Yang seperti Anda ketahui, ketika Keppres (Keputusan Presiden) dari pembentukan BPPN itu dibuat, yaitu dari sejak zaman Presiden Soeharto, terus berjalan, sampai ketika saya mendapatkan tugas untuk menjadi presiden Republik Indonesia. Karena banyak sekali masalah yang terkait dengan masalah perekonomian, atau masalah ekonomi, itu berada di BPPN itu.</p>
<p>BS: Jadi, menurut Ibu, itu salah satu keberhasilan? Atau, satu-satunya keberhasilan di pemerintahan Ibu?<br />
MS:Ya, banyak sekali masalah keberhasilan. Yang seharusnya juga, Anda sudah mengetahuinya. Apakah perlu saya sebutkan satu per satu?</p>
<p>BS:Saking banyaknya mungkin, ya Bu? Tapi, yang di tengah masyarakat dikatakan, mereka mengakui ada beberapa keberhasilan yang dicapai pemerintahan sekarang yang dipimpin Ibu sebagai presiden. Tapi, kenapa sih Bu, kurang sampai keberhasilan itu ke telinga masyarakat. Masyarakat kurang tahu bahwa, BPPN ini, seperti Ibu katakan tadi. Menurut saya, itu sebuah pernyataan yang banyak orang yang belum mengerti. Bahwa, BPPN itu sudah dari sejak zaman Pak Harto [Presiden Soeharto], dirunut sedemikian rupa, dan di zaman Ibu selesai tugasnya dengan baik. Kenapa Bu, menurut Ibu, di pemerintahan Ibu, itu [soal BPPN] kurang sampai ke masyarakat?<br />
MS:Ya, sebetulnya juga peran media pers itu sendiri. Yang tidak mendukung. Selalu mengatakan demikian. Karena sebenarnya, mereka [pers] itu tahu persis. Dalam sidang kabinet paripurna, dalam sidang kabinet terbatas, dalam rapat terbatas yang kami lakukan, kami selalu mengadakan konferensi pers. Tapi kelihatannya, kalau hal-hal seperti itu bukan merupakan suatu hal yang menarik bagi kalangan pers sendiri.</p>
<p>BS: Atau, jangan-jangan persnya itu, kepengen bertemu dengan Ibu langsung. Tapi, Ibu yang kurang sreg bertemu dengan media?<br />
MS:Ya, memang pada waktu yang lalu saya sering mengatakan. Bagaimana bisa media pers itu melakukan satu komunikasi yang positif. Karena banyak sekali kalau kita lihat. Saya mempunyai file, dari pernyataan-pernyataan yang seringkali dipelintir [media massa]. Yang seringkali tidak diberi, atau quotation-nya [kutipan] itu tidak begitu baik.</p>
<p>BS: Misalnya, Bu? Misalnya? Apa pelintiran media yang Ibu rasa, nggak cocok?<br />
MS: Saya pernah punya satu pengalaman.</p>
<p>BS: Boleh bagi-bagi, Bu?<br />
MS: Ketika ada satu media yang mengatakan, saya ini sama dengan seorang yang, pada waktu itu, kerjanya itu, senang memakan bangkai.</p>
<p>BS: Sumanto [lelaki asal Purbalingga, Jawa Tengah, yang terbukti memakan mayat], waktu itu disebutnya ya, Bu?<br />
MS: Sumanto. Bayangkan! Apakah begitu, ya? Peranan pers seperti itu.</p>
<p>BS: Ibu kaget waktu itu?<br />
MS: Bukan kaget. Saya hanya merasa sangat tersinggung. Karena, bagaimana suatu media pers itu sampai pada suatu taraf seperti begitu.</p>
<p>BS:Wajar kalau Ibu sampai begitu tersinggung. Tapi, ke belakang [bila melihat pada masa sebelumnya], bukankah Ibu juga dibesarkan oleh media di zaman Orde Baru dulu? Ketika Ibu memimpin PDI sampai ke PDI Perjuangan, dan akhirnya menjadi presiden?<br />
MS:Oh, ya. Saya memang pada waktu yang lalu, saya sangat erat dengan media pers. Karena bukan saya tidak mau, melakukan satu komunikasi. Karena tadi saya mengatakan, yang diperlukan adalah satu komunikasi yang positif. Masa saya harus selalu menerangkan, meyakinkan, bahwa apa yang saya lakukan itu sebenarnya memang benar saya lakukan dengan cara saya. Dan saya merasa yakin, itu adalah cara terbaik pada saat ini untuk dilakukan. Tetapi, ketika media pers menanggapinya dengan mempelintir atau mencari suatu momen, atau keinginan lain&#8230;</p>
<p>BS: Masa sih? Ibu yang begitu bermental baja ketika PDI dulu diobok-obok, dengan satu kasus dari media yang memelintir berita, Ibu sudah patah arang?<br />
MS:Saya tidak patah arang. Tapi saya hanya ingin melakukan suatu keputusan. Apakah saya hanya meladeni keadaan seperti begitu, atau saya bekerja keras karena memang beban. Yang saya pikul itu cukup berat, dalam waktu tiga tahunan yang begini singkat. Saya harus bisa banyak melakukan hal-hal yang selama itu tidak bisa diselesaikan. Seperti tadi yang saya katakan, suatu hal seperti masalah BPPN.</p>
<p>BS: Ooo, jadi, kapok alasannya, Bu? Karena selama ini akhirnya Ibu tidak mau bicara di media?<br />
MS: Buktinya saya sekarang bicara dengan Anda! Apa saya kapok? Kalau saya kapok, saya selama ini tidak akan berbicara.</p>
<p>BS: Kenapa Ibu sekarang bersahabat? Apakah karena sudah masa kampanye?<br />
MS: Ya, memang. Kampanye ini saya harus mempergunakan segala kemungkinan. Antara lain, tentunya dengan media pers. Tetapi saya juga mengatakan kepada tim sukses saya, sampai seberapa jauh juga media ini bisa mengambil momen atau kesempatan dengan saya?</p>
<p>BS:Jadi, kalau sekarang Ibu menggunakan media juga, Ibu bertemu dengan keluarga Nirmala Bonat, kemarin, TKW (tenaga kerja wanita) kita yang disiksa di Malaysia. Tapi, Ibu tidak merasa perlu untuk bicara atau berkunjung ke Pulau Nunukan di Kalimantan, ketika TKW kita mendapat masalah, terusir dari Malaysia.<br />
MS:Bagi saya, hal-hal seperti itu bukan suatu hal yang&#8230; Bahwa saya harus pergi ke Nunukan. Karena bagaimana pun juga, yang namanya presiden itu, tentunya juga, tanggung jawabnya, kerjanya, itu juga begitu banyak. Jadi kalau setiap saat, suatu kejadian, presiden harus berkunjung&#8230; Sedangkan sebenarnya, begitu banyak telah saya lakukan. Dalam mengoperasionalkan bagaimana cara penyelamatan, dengan melalui Departemen Perhubungan, mengirimkan kapal, mengirimkan berapa menteri.<br />
Kalau itu pun dinyatakan, sepertinya itulah bagian yang namanya memelintir dari media. Karena bagaimana pun juga, pada saat itu saya belum bisa ke sana. Lalu, apakah artiannya, saya di-force untuk pergi ke sana? Karena sebagai presiden itu tidaklah seperti orang biasa. Saya bisa datang, menjinjing tas, lalu datang ke sana. Tapi bagaimana pun juga memang ada hal-hal yang harus dilakukan oleh saya.</p>
<p>BS:Tapi, apakah Ibu tidak terganggu melihat, mungkin oleh media massa, terutama di media cetak kita, Presiden Filipina [Gloria Macapagal-Arroyo], menyambut dan menghibur TKW mereka, yang juga terusir dari Malaysia? Sebagai sebuah komunikasi politik?<br />
MS:Banyak hal yang saya lakukan, ketika saya menjadi wapres (wakil presiden). Kalau itu hanya untuk dijadikan komoditas di dalam pers saja. Apa yang dilakukan Presiden Arroyo, saya sangat appreciate. Saya telfon beliau, menyatakan&#8230;</p>
<p>BS: Ibu telfon waktu itu ke sana, ya?<br />
MS: Ya, makanya. Apa perlu saya beritakan juga, bahwa saya telfon ini, saya telfon itu? Jadi bagaimana pun juga&#8230;</p>
<p>BS: Tapi, ini hal yang kami baru tahu. Jadi, wajar kalau, mungkin, ada baiknya juga kalau Ibu berbicara mengenai hal-hal semacam itu, Bu.<br />
MS: Ya, kalau saya belum mau ngomong?</p>
<p>BS:Oke. Baik, Bu. Mudah-mudahan, tapi saya, atau media bahkan di seluruh Indonesia berharap, Ibu tidak kapok. Dan terus akan bersahabat dengan media.<br />
MS:Tergantung juga dari medianya. Kalau medianya selalu menjelekkan saya, buat apa saya mengadakan satu komunikasi dengan media itu.</p>
<p>BS: Partai, PDI Perjuangan yang Ibu pimpin sampai sekarang sebagai ketua umumnya disebut partai wong cilik. Tetapi beberapa kebijakannya. Bahkan ketika Ibu menjadi presidennya, beberapa kebijakannya bertolak belakang untuk membela wong cilik, seperti penggusuran. Apa tanggapan Ibu?<br />
MS:Itu satu hal saya berkeinginan media pers itu mempunyai satu latar belakang. Dan asal jangan langsung memvonis. Karena memang, meskipun saya menjadi seorang ketua umum partai. Tetapi ketika menjadi presiden maka tentunya saya harus meluruhkan kepentingan kelompok atau partai saya itu sendiri. Kalau saya sebagai presiden sekarang ingin mempergunakan kesempatan itu hanya untuk kepentingan PDI Perjuangan. Itu akan saya bisa lakukan. Tetapi hal itu tak saya lakukan. Masalah penggusuran&#8230; adalah satu hal&#8230;</p>
<p>BS: Tetapi, Ibu setuju tidak&#8230;<br />
MS: Nanti dulu. Ini, kan, yang saya tidak senang.</p>
<p>BS: Baik&#8230; Baik&#8230;<br />
MS: Ketika sedang saya bicara Anda dengarkan saya.</p>
<p>BS: Baik&#8230; Silakan Ibu.<br />
MS:Sebagai hal penggusuran itu juga suatu hal yang berbeda jangan disangkutkan dengan kepentingan saya sebagai ketua partai atau presiden. Penggusuran itu pun harus kita lihat sebagai hal obyektif. Karena memang banyak masalah. Yang antara lain tidak pernah dengan baik dimunculkan untuk bisa mendapatkan suatu masukan yang obyektif bahwa mengapa mereka itu tinggal. Betul mereka adalah masyarakat yang membutuhkan bantuan kita. Tetapi di satu sisi juga kita harus memberikan suatu pendidikan pada mereka bahwa untuk hidup, tinggal, dan sebagainya itu juga ada suatu peraturan yang perlu diketahui dengan baik. Dan saya kira hal-hal seperti itu sudah banyak yang mengetahui dengan baik.</p>
<p>BS:Tetapi Ibu waktu itu sempat mengucapkan sebuah pernyataan bahwa ini ada indikasi permainan dari kepala daerahnya. Sungguh-sungguh itu Ibu diucapkan?<br />
MS: Maksudnya apa? Saya malah tak jelas apa yang Anda katakan.</p>
<p>BS: Karena penggusuran waktu itu di Jakarta terjadi. Ibu mengatakan ini ada sebuah&#8230;<br />
MS: Saya tak pernah mengatakan seperti itu.</p>
<p>BS: Pernah sih, Ibu. Tapi begini&#8230;<br />
MS: Saya tak pernah ngomong. Siapa yang bilang seperti itu kepada Anda.</p>
<p>BS: Ada, kita punya catatannya Ibu. Tapi begini&#8230;<br />
MS: Catatan dari mana?</p>
<p>BS: Kami punya catatan atau rekamannya. Memang kami tak bisa membawanya sekarang, Ibu. Tetapi&#8230;<br />
MS: Rekaman dari siapa? Saya tidak pernah bertemu dengan Anda.</p>
<p>BS: Ketika ditanya, Ibu mengucapkan dampak dari&#8230;<br />
MS: Ditanya oleh siapa?</p>
<p>BS: Oleh wartawan.<br />
MS: Wartawan mana? Saya tidak pernah bertemu dengan wartawan. Karena waktu itu saya tak mau ngomong.</p>
<p>BS:Baik, Bu. Mungkin saja Ibu lupa atau bisa saja media [massa] yang lupa. Tapi begini. Ada kekhawatiran orang ketika Ibu tidak saja masalah penggusuran dan lain-lain. Tetapi ada masalah-masalah sosial dan bencana di mana kemudian Ibu tidak turun langsung sebagai presiden yang diharapkan bisa turut menghibur rakyatnya di lapangan di daerah bencana. Orang bilang, jangan-jangan Ibu tidak bisa memahami bagaimana wong cilik itu karena Ibu sudah lahir sebagai anak presiden. Tanggapan Ibu apa?<br />
MS: Hal-hal seperti ini yang memang tidak begitu saya senangi. Karena saya hanya disudutkan di suatu corner. Anda sebagai penanya itu selalu tidak memberikan suatu kesempatan kepada orang yang akan menjawab persoalan itu. Karena siapa yang akan minta ditakdirkan untuk lahir di suatu tempat. Anda pun saya kira tidak begitu juga. Jadi apa korelasinya saya harus menjawab hal itu</p>
<p>BS: Baik, enggak apa-apa kalau Ibu tak jawab. Sekarang boleh saya beralih sedikit, masalah Aceh. Menurut Ibu secara garis besar saja, adakah keputusan Ibu sebagai seorang presiden selama tiga tahun belakangan ini yang ternyata keputusan itu menjadi sangat penting dan sangat baik bagi bangsa dan negara kita.<br />
MS: Apa yang dimaksud dengan keputusan.</p>
<p>BS: Apa saja. Ibu mungkin memutuskan sesuatu bersama kabinet Ibu.<br />
MS: Coba jelaskan kembali.</p>
<p>BS: Atau begini, Bu. Kita ingat Ibu pernah berbicara kalau terpilih [jadi presiden] pada waktu 1999. Dengan membahasakan diri sebagai Cut Nyak waktu itu. Kalau saya terpilih&#8230;<br />
MS:Saya ingat. Makanya saya debat Anda mana yang saya ingat. Jangan bermain kata. Memang, benar&#8230; Benar&#8230; Tetapi kan saya juga akan menanyakan sekarang ini apakah proses untuk masalah Aceh itu tidak saya lakukan dengan suatu kesabaran yang tinggi. Berapa banyak perundingan yang dilakukan. Sampai saat terakhir, saya masih terus menanyakan apakah kalian [pihak Gerakan Aceh Merdeka] akan terus duduk semeja untuk melakukan suatu perundingan. Tetapi, tentunya, sebagai Presiden Republik Indonesia yang diberikan mandat untuk menjaga keutuhan wilayah republik ini. Saya juga memberikan syarat-syarat bahwa akan ada suatu perundingan dengan satu syarat bahwa yaitu kami [pemerintah] tetap menghendaki kalian [GAM] kembali sebagai warga bangsa.</p>
<p>BS: Itu Ibu sampaikan dan&#8230;<br />
MS: Tunggu dulu, saya sedang bicara. Yah, Anda selalu memotong.</p>
<p>BS: Baik, Ibu. Saya berikan kesempatan lagi kepada Ibu untuk bicara<br />
MS:Ya, tentu. Saya minta dengan Anda. Anda yang bertanya saya yang menjawab. Dengan demikian, tentunya, saya mengatakan tetapi kepentingan yang paling utama adalah menjaga wilayah Republik Indonesia. Dan, perundingan itu gagal bukan oleh delegasi kita. Tetapi oleh mereka [pihak GAM]. Mereka mengatakan, mereka tidak akan bersatu dan akan mengangkat senjata.</p>
<p>BS:Ibu sampaikan itu&#8230; kepada masyarakat Aceh secara kontinyu, secara terus-menerus. Ibu, misalnya, berbicara langsung kepada tokoh masyarakat Aceh.<br />
MS:Oh, iya. Saya beberapa kali didatangi oleh kalangan tokoh masyarakat [Aceh]. Yang saya katakan bahwa kalau untuk keutuhan negara Republik Indonesia tidak ada jalan lain. Sebagai presiden, saya harus melakukan dan itu bukan untuk Aceh saja. Untuk seluruh wilayah republik kita.</p>
<p>BS: Waktu itu Ibu juga pernah bicara di Masjid Raya (Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, September 2001&#8211;Red) [baca: Interupsi Mewarnai Pidato Megawati di Aceh]. Sebetulnya banyak yang sangat salut dengan keputusan Ibu untuk berkunjung ke Aceh. Tetapi ketika Ibu kemudian ada pertanyaan dari mahasiswa pada saat itu, Ibu malah kelihatan marah. Kenapa sih, Bu, waktu itu?<br />
MS: Karena mahasiswanya tidak sopan.</p>
<p>BS: Menurut Ibu?<br />
MS: Bukan menurut saya, semua orang juga mengatakan seperti itu.</p>
<p>BS: Ibu berkeberatan kalau mahasiswa berdialog karena mereka pasti ingin berdialog dengan Ibu?<br />
MS:Tentu saja, tapi dialog itu tentunya dengan suatu cara. Dengan cara yang sopan santunnya ada. Saya adalah tamu di situ. Saya diundang. Dan, kalau saat itu lalu diajukan pertanyaan. Bayangkan di masjid bertanya seperti itu. Saya, kan, juga&#8230;</p>
<p>BS: Kok, Ibu merasa sebagai tamu di Aceh?<br />
MS: Bukan, saya diundang untuk datang ke masjid. Itukan sebagai tamu karena di masjid itu ada imam besarnya.</p>
<p>BS: Mereka kan semua rakyat dari ibu?<br />
MS: Oh, ya memang.</p>
<p>BS: Anak-anak dari Ibu.<br />
MS: Betul.</p>
<p>BS: Tidak boleh mereka bertanya seperti itu?<br />
MS: Boleh, tetapi bukan dengan sikap seperti itu. Kita ini adalah bangsa yang berbudaya.</p>
<p>BS: Tapi itu bukan menjadikan Ibu jadi takut berdiskusi atau mendapat pertanyaan atau kritik di muka umum?<br />
MS: Selama saya menjadi presiden kini yang ada yang saya terima adalah kritik.</p>
<p>BS: Maaf, apakah Ibu seseorang yang gampang marah, Bu?<br />
MS: Menurut Anda.</p>
<p>BS: Kalau sampai sekarang sih tidak. Tetapi kalau&#8230;<br />
MS: Tidak perlu didialogkan hal itu.</p>
<p>BS:Saya pindah lagi ke topik lain. Ini berdekatan dengan Pemilihan Presiden 5 Juli mendatang. Apa Ibu merasa presiden yang cakap? Maksudnya saya begini, Ibu. Kita pernah punya, ayah Ibu sendiri Soekarno, presiden yang sangat dikenal di dunia internasional. Soeharto yang otoriter dan Habibie yang sangat mengerti teknologi. Kalau Ibu, apa? Presiden yang bagaimana menurut Ibu dan menjadi kelebihan Ibu dibanding calon presiden yang lain yang ada saat ini?<br />
MS: Pertanyaan aneh menurut saya itu. Karena mana mungkin saya membicarakan diri saya sendiri.</p>
<p>BS: Ibu merasa tak mempunyai kelebihan dibanding calon presiden lain?<br />
MS: Biarlah rakyat yang menilai.</p>
<p>BS:Baik. Tapi, selain Ibu sebagai seorang wanita dibanding calon presiden yang lain. Ibu merasa apa modal Ibu ketika Ibu maju sebagai kandidat presiden kali ini.<br />
MS:Saya tidak maju sendiri, Saya diputuskan oleh kongres partai [Kongres PDIP]. Dan, itu sampai dua kali. Berarti bahwa mandat dari bagian rakyat Indonesia yang menjadi anggota dari PDI Perjuangan memberikan suatu kepercayaan kepada ketua umumnya. Jadi bukan kepada saya pribadi, tetapi kepada ketua umumnya untuk ditetapkan sebagai calon presiden. Dan mandat itu&#8230; adalah penugasan partai, tentunya harus saya terima.</p>
<p>BS: Jadi Ibu yakin bisa memenangkan Pemilu Presiden tahun ini?<br />
MS: Oh, saya tetap terus berjuang. Saya optimis [optimistis].</p>
<p>BS:Apa dasar Ibu untuk optimis? Mesin politik Ibu yang cukup kuat karena Ibu memerintah saat ini? Uang? Atau nama besar Soekarno yang masih ada di belakang nama Ibu?<br />
MS: Bapak saya memang seorang yang besar. Dia adalah seorang proklamator. Tapi juga saya kira jangan dong selalu. Kenapa sih&#8230; Tidak fair menurut saya. Kalau sepertinya apa yang saya capai itu karena nama besar ayah saya. Tadi saya tegaskan bahwa ayah saya seorang yang besar. Dia membuat republik ini. Dan, tadi juga saya katakan apakah ada yang bisa menggugat kalau saya ditakdirkan untuk menjadi anak beliau. Jadi itu suatu hal yang lain. Dan, masalah keberhasilan saya itu tendangan kerja keras. Bukan oleh saya saja. Tapi oleh seluruh mereka yang mendukung saya, orang-orang, kader-kader partai yang ada, yang terus membantu sampai sekarang dengan semangat juang yang tinggi. itulah idealisme yang saya miliki.</p>
<p>BS:Baik, Ibu terima kasih waktunya bersama kami [SCTV]. Saya tahu Ibu cape, dan masa kampanye masih berlanjut, Dan saya ucapkan selamat berjuang untuk Ibu.<br />
MS: Terima kasih.<b> (BMI/ANS)</b></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hujanderas.wordpress.com/168/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hujanderas.wordpress.com/168/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hujanderas.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hujanderas.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hujanderas.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hujanderas.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hujanderas.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hujanderas.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hujanderas.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hujanderas.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hujanderas.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hujanderas.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hujanderas.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hujanderas.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hujanderas.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hujanderas.wordpress.com/168/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hujanderas.wordpress.com&amp;blog=807202&amp;post=168&amp;subd=hujanderas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hujanderas.wordpress.com/2008/02/06/megawati-saya-sudah-bekerja-maksimal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/42b443dcf566b5ad7c33db37b0d57794?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">hujanderas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hujanderas.files.wordpress.com/2008/02/art.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">art.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Setelah Dia Pergi</title>
		<link>http://hujanderas.wordpress.com/2008/02/05/setelah-dia-pergi/</link>
		<comments>http://hujanderas.wordpress.com/2008/02/05/setelah-dia-pergi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Feb 2008 19:40:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hujanderas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hujanderas.wordpress.com/?p=167</guid>
		<description><![CDATA[Edisi. 50/XXXVI/04 &#8211; 10 Februari 2008 DENGAN tujuh hari berkabung nasional, perintah pengibaran bendera setengah tiang—lain soal Anda patuh atau keberatan—Soeharto yang berpulang Ahad dua pekan lalu sudah menjadi ”pahlawan”. Suka atau tidak, sejak ia masuk Rumah Sakit Pertamina hingga wafat, tiga pekan kemudian, ia masih seorang master dengan kuasa penuh. Pejabat tinggi keluar-masuk membesuknya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hujanderas.wordpress.com&amp;blog=807202&amp;post=167&amp;subd=hujanderas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hujanderas.files.wordpress.com/2008/02/thelastsupper1.jpg" title="thelastsupper1.jpg"><img src="http://hujanderas.files.wordpress.com/2008/02/thelastsupper1.jpg?w=586&#038;h=329" alt="thelastsupper1.jpg" height="329" width="586" /></a>Edisi. 50/XXXVI/04 &#8211; 10 Februari 2008</p>
<p>DENGAN tujuh hari berkabung nasional, perintah pengibaran bendera setengah tiang—lain soal Anda patuh atau keberatan—Soeharto yang berpulang Ahad dua pekan lalu sudah menjadi ”pahlawan”. Suka atau tidak, sejak ia masuk Rumah Sakit Pertamina hingga wafat, tiga pekan kemudian, ia masih seorang master dengan kuasa penuh.<span id="more-167"></span></p>
<p>Pejabat tinggi keluar-masuk membesuknya. Turun-naik fungsi jantungnya menelan berita kematian pedagang ”gorengan” Slamet, yang putus asa lalu bunuh diri akibat harga kedelai ekstratinggi. Semua stasiun televisi—beberapa memang milik anak-anaknya—mengarahkan moncong kamera ke rumah sakit, seraya mengulang-ulang sejarah perjalanannya ketika mengemudikan negeri. Tentu saja, untuk menghormati dia yang sakit keras, sengaja dipilih berita-berita bagus saja.</p>
<p>Di rumah sakit, keluarga menetapkan ”protokoler” ketat: hanya mereka yang mendapat perkenan boleh menghampiri. Tidak semua bekas anggota lingkaran dekat lolos seleksi. Harmoko, yang selama menjadi menteri tidak pernah lupa minta petunjuk sang bos, entah kenapa tak masuk hitungan. Juga Habibie, bekas presiden yang pernah menyebut Soeharto sebagai profesornya itu. Di tengah paduan suara politikus merapal permintaan maaf untuknya, rupanya belum tersedia maaf untuk dua bekas setiawan itu.</p>
<p>Ketika ia akhirnya wafat, penyiar televisi dengan mata sembap semakin bersemangat menyiarkan kebaikan dan kisah sukses. Jam tayang ditambah, rating meningkat mengalahkan sinetron mana pun—artinya iklan pasti datang berduyun-duyun. Usaha ”menggoreng” perasaan rakyat lewat TV harus dikatakan berhasil.</p>
<p>Tiba-tiba di layar kaca orang menyaksikan sosok yang hanya boleh diberi simpati dan dikirimi doa. Mereka yang bicara lain, apalagi menyinggung dosa dan salahnya, seakan keliru, jahil, nyinyir, atau menyimpan dendam. Mungkin Asep Purnama Bahtiar benar. Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu merasa yang diberitakan media massa bukan lagi sebagaimana adanya, melainkan hasil konstruksi tentang sebuah ”dunia” yang diciptakan media massa dan pihak-pihak yang terlibat.</p>
<p>Sebentar lagi, setelah Astana Giribangun, makam keluarga yang megah itu, tidak lagi menjadi berita, yang tersisa adalah kasus perdata yayasan Soeharto, dan debat tentang status hukum ahli waris. Pemerintah jangan sampai habis waktu mengurus soal ahli waris ini. Semua aturan sudah jelas. Bila anak-anak almarhum tidak meminta penetapan menolak waris ke pengadilan, artinya hak waris jatuh ke tangan enam anaknya. Setelah apa yang diberikan Soeharto, mestinya tidak masuk akal bila ada di antara anak-anaknya yang berpikir untuk menolak waris itu. Selanjutnya, kejaksaan bisa berurusan dengan anak-anaknya dalam perkara perdata.</p>
<p>Kasus pidana Soeharto memang otomatis gugur dengan kematiannya, tapi para kroni yang masih hidup perlu terus dipersoalkan. Pemerintah tinggal menyatakan kebijakan zaman Soeharto yang dianggap menyalahgunakan kekuasaan, melawan hukum, atau membelokkan kebijakan publik untuk keuntungan diri dan kelompok sendiri. Siapa pun yang menikmati manfaat dari kebijakan semacam itu bisa langsung ditetapkan sebagai obyek pengusutan. Dan para penikmat tak bisa menghindar. Selama ini mereka tidak melakukan usaha apa pun untuk menolak ”madu” privilese yang mereka isap dengan riang.</p>
<p>Ada banyak cara kalau pemerintah memang mau dan punya niat. Audit semua kekayaan para kroni hanya salah satu metode itu. Harta yang bersumber dari privilese, atau yang tak bisa dijelaskan asal-usulnya, bisa dibawa ke pengadilan. Secara prinsip, menikmati keuntungan dari kebijakan yang melawan hukum termasuk perbuatan melawan hukum juga.</p>
<p>Bukti-bukti sudah sedemikian gamblang. Dokumen rahasia dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dan Gedung Putih bisa dipakai sebagai bukti tambahan untuk mengusut korupsi di zaman Orde Baru itu.</p>
<p>Publik tinggal menunggu, apakah di pengadilan para kroni akan buang badan dengan menimpakan semua kesalahan kepada Soeharto, tokoh yang kini mereka puja dan sudah begitu banyak memberikan ”gula-gula” kepada mereka. Hanya pengecut tulen yang sanggup ”menusuk” sang tuan yang sudah di alam baka.</p>
<p>Mengusut para kroni merupakan keharusan, kalau pemerintah memang ingin menegakkan keadilan ekonomi dan melaksanakan pesan konstitusi untuk menjamin persamaan kesempatan berusaha bagi warga negara. Tanpa tindakan apa-apa, fasilitas istimewa dan kenikmatan yang selama ini diduga diperoleh secara curang tidak akan pernah berakhir. Hanya kerajaan boneka yang membiarkan keadaan buruk ini terus berlangsung.</p>
<p>Sebaiknya pemerintah memberi prioritas mengusut para kroni—tindakan yang diamanatkan MPR itu. Menyelesaikan kasus ini lebih penting ketimbang sibuk mempertimbangkan gelar pahlawan untuk Soeharto—usul yang dipekikkan lantang Priyo Budi Santoso, orang Golkar yang pernah tidak memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi itu.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hujanderas.wordpress.com/167/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hujanderas.wordpress.com/167/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hujanderas.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hujanderas.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hujanderas.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hujanderas.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hujanderas.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hujanderas.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hujanderas.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hujanderas.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hujanderas.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hujanderas.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hujanderas.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hujanderas.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hujanderas.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hujanderas.wordpress.com/167/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hujanderas.wordpress.com&amp;blog=807202&amp;post=167&amp;subd=hujanderas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hujanderas.wordpress.com/2008/02/05/setelah-dia-pergi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/42b443dcf566b5ad7c33db37b0d57794?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">hujanderas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hujanderas.files.wordpress.com/2008/02/thelastsupper1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">thelastsupper1.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tempo Ditarik dari Peredaran</title>
		<link>http://hujanderas.wordpress.com/2008/02/05/tempo-ditarik-dari-peredaran/</link>
		<comments>http://hujanderas.wordpress.com/2008/02/05/tempo-ditarik-dari-peredaran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Feb 2008 19:35:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hujanderas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hujanderas.wordpress.com/?p=165</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: myRMnews Selasa, 05 Februari 2008, 18:49:37 WIB Laporan: Yayat R. Cipasang Jakarta, myRMnews. Redaksi Majalah Tempo tidak hanya meminta maaf kepada umat Kristiani tetapi juga berjanji untuk menarik majalah edisi 04-10 Februari 2008 di pasaran. Redaksi Tempo juga berjanji akan menulis dan membuat pernyataan maaf di media cetak dan elektronik di luar Grup Tempo. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hujanderas.wordpress.com&amp;blog=807202&amp;post=165&amp;subd=hujanderas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber: myRMnews<br />
Selasa, 05 Februari 2008, 18:49:37 WIB</p>
<p>Laporan: Yayat R. Cipasang</p>
<p><b>Jakarta, myRMnews. </b>Redaksi Majalah Tempo tidak hanya meminta maaf kepada umat Kristiani tetapi juga berjanji untuk menarik majalah edisi 04-10 Februari 2008 di pasaran.</p>
<p>Redaksi Tempo juga berjanji akan menulis dan membuat pernyataan maaf di media cetak dan elektronik di luar Grup Tempo. “Cuma masalahnya barang (majalah) sudah habis di pasaran,” kata Ketua Umum Pemuda Katolik Natalis Situmorang kepada MyRMNews seusai berdialog dengan redaksi Tempo di Gedung Tempo, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Selasa (5/2).<span id="more-165"></span></p>
<p>Natalis menuturkan, saat bertemu redaksi Tempo, pihaknya mempertanyakan makna di balik cover “Perjamuan Terakhir Soeharto” tersebut. “Redaksi bilang itu cuma karya seni,” kata Natalis.</p>
<p>Namun, Natalis curiga di balik pemuatan cover itu ada motif dan bentuk strategis bisnis. Tapi redaksi Tempo membantahnya. “Tapi kenyataannya di lapangan kini majalah Tempo kontroversial itu habis di pasaran,” kata Natalis.</p>
<p>Natalis dan elemen Kristiani lainnya menjelaskan kepada redaksi Tempo bahwa cover itu bila diperlihatkan kepada umat Kristiani tak akan membantah bahwa itu adalah The Last Supper. “namun mereka akan kecewa ternyata gambar itu adalah Soeharto dan anak-anaknya,” kata natalis. yat</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hujanderas.wordpress.com/165/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hujanderas.wordpress.com/165/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hujanderas.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hujanderas.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hujanderas.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hujanderas.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hujanderas.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hujanderas.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hujanderas.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hujanderas.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hujanderas.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hujanderas.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hujanderas.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hujanderas.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hujanderas.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hujanderas.wordpress.com/165/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hujanderas.wordpress.com&amp;blog=807202&amp;post=165&amp;subd=hujanderas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hujanderas.wordpress.com/2008/02/05/tempo-ditarik-dari-peredaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/42b443dcf566b5ad7c33db37b0d57794?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">hujanderas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Minta Maaf</title>
		<link>http://hujanderas.wordpress.com/2008/02/05/pemimpin-redaksi-majalah-tempo-minta-maaf/</link>
		<comments>http://hujanderas.wordpress.com/2008/02/05/pemimpin-redaksi-majalah-tempo-minta-maaf/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Feb 2008 19:31:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hujanderas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hujanderas.wordpress.com/2008/02/05/pemimpin-redaksi-majalah-tempo-minta-maaf/</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Tempo Interaktif Selasa, 05 Pebruari 2008 TEMPO Interaktif, Jakarta, Toriq Hadad, pemimpin redaksi Majalah Berita Mingguan Tempo meminta maaf kepada umat Kristiani sehubungan dengan penerbitan gambar sampul edisi terakhir majalah tersebut. Dalam edisi no 50/XXXVI/04 &#8211; 10 Februari 2008, majalah Tempo memuat laporan khusus mengenai meninggalnya mantan  presiden Soeharto. Pada sampul depan dengan judul [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hujanderas.wordpress.com&amp;blog=807202&amp;post=164&amp;subd=hujanderas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber: Tempo Interaktif<br />
Selasa, 05 Pebruari 2008<br />
<b>TEMPO Interaktif, Jakarta,</b> Toriq Hadad, pemimpin redaksi Majalah Berita Mingguan Tempo meminta maaf kepada umat Kristiani sehubungan dengan penerbitan gambar sampul edisi terakhir majalah tersebut. Dalam edisi no 50/XXXVI/04 &#8211; 10 Februari<br />
2008, majalah Tempo memuat laporan khusus mengenai meninggalnya mantan  presiden Soeharto.<span id="more-164"></span></p>
<p>Pada sampul depan dengan judul laporan utama Setelah Dia Pergi itu, digambarkan Soeharto duduk di sebuah meja dikelilingi anak-anaknya. Ilustrasi posisi duduk keluarga Cendana ini mirip dengan lukisan Perjamuan Terakhir karya Leonardo da Vinci, yaitu ketika Yesus Kristus duduk dikelilingi murid-muridnya menjelang penyaliban.</p>
<p>Menurut Toriq, sama sekali tidak ada niat melecehkan agama dengan ilustrasi tersebut. “Kami membuat gambar itu sebagai interpretasi atas lukisan Da Vinci, bukan mengilustrasikan kejadian di Kitab Suci,” kata Toriq kepada Tempo Interaktif hari ini.</p>
<p>Dia menegaskan, sama sekali tidak bermaksud melecehkan atau merendahkan agama mana pun. “Untuk segala hal yang tidak berkenan sehubungan dengan pemuatan sampul tersebut, saya atas nama institusi Tempo meminta maaf,” kata Toriq.</p>
<p>Redaksi majalah Tempo menerima berbagai pernyataan keberatan atas pemuatan sampul itu. Keberatan dikirimkan melalui email, telepon, mau pun dialog dengan tim redaksi. Delegasi Pemuda Katolik, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Indonesia adalah salah satu dari organisasi yang bertemu redaksi majalah Tempo dan menyatakan keberatannya siang tadi. TNR</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hujanderas.wordpress.com/164/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hujanderas.wordpress.com/164/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hujanderas.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hujanderas.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hujanderas.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hujanderas.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hujanderas.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hujanderas.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hujanderas.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hujanderas.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hujanderas.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hujanderas.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hujanderas.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hujanderas.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hujanderas.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hujanderas.wordpress.com/164/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hujanderas.wordpress.com&amp;blog=807202&amp;post=164&amp;subd=hujanderas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hujanderas.wordpress.com/2008/02/05/pemimpin-redaksi-majalah-tempo-minta-maaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/42b443dcf566b5ad7c33db37b0d57794?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">hujanderas</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
