Posted by: hujanderas on: 4 Juli, 2007
Malam tadi, aku mendapat telepon dari temanku di ujung pulau Sumatera sana. dia mengabarkan padaku tentang kondisinya yang sehat-sehat saja. Tak terasa tiga tahun sudah kami tak bertatap muka dan ngobrol sampai pagi tiba.
Ngalor ngidul, beromantisme, sampai akhirnya membicarkan suhu politik di Jakarta akhir-akhir ini. Temanku itu, yang ngakunya sebagai aktivis (padahal lebih mirip intel gadungan) ternyata terfokus pada pembicaraan mengenai pengibaran bendera RMS beberapa waktu lalu. Sebenarnya aku sih tak mau membicarakan hal itu. Malam itu sebenarnya aku cuma mau mendengar kisah darinya mengenai kesuksesannya menyabet cewek-cewek di kampusnya (soalnya aku tahu banget dia orangnya ngga gaul dan tak ramah pada perempuan).
Ah, tak apalah, tak membicarakan perempuan juga tak apa, yang penting aku bisa dengar suaranya setelah sekian lama aku hilang tersesat di belantara Jakarta.
Menurut Kawan itu, pasti ada skenario besar di balik pengibaran bendera yang katanya “ecek-ecek” itu. Panjang lebar dia berteori. Semua yang didapat di ruangan kelas, sampai warung kopi dia kawin-mawinkan sehingga muncul pendapat-pendapat liar mengenai skandal cakalele.
Lantas aku mengingatkan padanya, mengenai peran seni dalam politik. Dahulu ketika di SMA aku pernah menulis mengenai perlawanan kaum dramawan pada masa menjelang Aufklarung di Eropa.
Di Indonesia gaya seperti itu usianya malah lebih tua. Tari-tarian adat, ketoprak, lenong, wayang, dan seni yang langsung berkomunikasi dengan audiens adalah alat perlawanan yang efektif. Sejak jaman keemasan Islam di nusantara, pola seperti itu lebih terasa kental.
Namun akhirnya kami bisa menyepakati sebuah kesimpulan yang sama dan kesimpulan ini ternyata sebuah lelucon yang menyakitkan juru pengaman pemimpin negara kita.
Ku katakan pada temanku itu, “BTW, ANYWAY, BUSWAY, WATERWAY, barangkali-mungkin saja-bisa pula, kalau pun protap prosedural pengamanan terhadap Presiden emang sudah cukup ketat (mengingat Maluku adalah daerah endemik konflik), namun tetap kecolongan berarti hanya ada dua gendangnya. (Ini lelucon yang sama sekali ngga lucu). Pertama memang mungkin saja ada skenario besar yang sedang dipersiapkan menuju 2009.
Nah, untuk kulit gendang kedua adalah, mungkin saja memang protap prosedur protokoler presiden memang kecolongan. Betul, kecolongan itu disebabkan (kemungkinan) masuknya bendera itu tidak diketahui. Maksudnya, sedikit yang paham soal bentuk dan warna bendera RMS itu. Sehingga ketika pemeriksaan properti, penari cakalele kemudian dengan enteng menerangkan, “Pak ini umbul-umbul, properti menari cakalele.”.
Hehehe, lantas dengan keterbatasan pengetahuan, pengaman presiden itu memasang tampang bodoh. “Ho-oh” sambil mempersilakan penari memasuki lapangan.
Kawanku yang di ujung telepon meledak tawanya. Kataku padanya, tenang ajalah. ini urusan petinggi-petinggi. urusan kita itu cuma mengumpulkan rimah-rimah roti untuk dimakan malam nanti!
Dengan geram kawanku itu memaki “Babi!”
very funny
ii..ii..ii..ii..ii..
ya mbuh ya…
he he………petinggi itu ga cuma tampangnya aja yang bodoh, tapi permainannya juga ga cantik !!!! wong mau bermain politik kok ” mainnya” aneh !!! rakyat cerdas kok mau dilawan, ya tahu lah kalo dibohongi dengan permainan bodoh kayak gitcu………..!!! pesen buat yang bikin ” permainan ” mbok nek bikin permainan yang bagus dikit!!!!
23 Agustus, 2007 pada 8:01 am
lucu
dan sangat cerdas