hujan deras

“Inong Balee” Bukan Milik GAM

Posted on: 10 Maret, 2007

Ini sih ketika mengobrak-abrik gugle. Mencari arcive lama, studi kota tua. memoar sebuah perjuangan mengenai penderitaan perempuan. Dari kisah Malahayati hingga janda-janda korban GAM-TNI.

Untuk disimak, untuk disibak

Dikutip dari: KCM

Senin, 01 September 2003, 20:30 WIB

“Inong Balee” Bukan Milik GAM
“Wanita Aceh melebihi kaum wanita bangsa-bangsa lainnya dalam keberanian dan tidak gentar mati bahkan merekapun melampaui kaum lelaki. Bukan sebagai wanita yang lemah dalam mempertahankan cita-cita dan agama mereka, menerima hak asasi di medan juang dan melahirkan anak-anak mereka diantara dua serbuan penyergapan. Mereka berjuang bersama-sama suaminya, kadang-kadang di sampingnya atau di depannya dan dalam tangannya yang mungil itu kelewang dan rencong menjadi senjata yang berbahaya. Wanita Aceh berperang di jalan Allah, mereka menolak segala macam kompromi.”

Sebuah ungkapan kekaguman HC Zentgraaff, seorang kopral marsose veteran Perang Aceh, dalam bukunya berjudul “De Atjeh” yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Suatu kekaguman atau penilaian yang berbeda dari penulis Belanda lainnya. Orang Belanda ini benar, sejarah bangsa Indonesia pun mencatat heroisme wanita Aceh di masa perang melawan penjajah. Sebut saja nama Tjut Nyak Dhien, Tjut Mutia,Tjut Meurah Gambang (anak Tjut Nyak Dhien), Pocut Baren, Tjut Meurah Intan dan Laksamana Malahayati.

Para wanita ini disebut dalam bahasa Aceh Inong Balee atau wanita yang ditinggal suami. Tjut Nyak Dhien meneruskan perjuangan suaminya, Teuku Umar. Tjut Mutia aktif di daerah Pase bergerilya bersama suaminya melawan Belanda. Ketika suaminya tertawan dan dijatuhi hukuman tembak, dia tetap melanjutkan perjuangan. Pocut Baren, menjadi panglima perang menggantikan suaminya yang gugur di medan perang. Laksamana Malahayati adalah pemimpin kapal perang, suaminya gugur saat berperang melawan Portugis. Boleh dikatakan, Inong Balee adalah janda yang bertekad meneruskan perjuangan suaminya.

Inong Balee, pada saat pemerintahan Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV (1589-1604), secara khusus dibentuk suatu pasukan yang prajuritnya adalah para janda yang suaminya gugur di medan pertempuran, dipimpin Malahayati. Selanjutnya pasukan ini dinamakan pasukan Inong Balee.

Sebagai tempat berkumpul para perempuan ini, dibangunlah Benteng Inong Balee. Selain tempat berkumpul, benteng ini pula adalah tempat untuk mengintai kedatangan kapal ke pelabuhan Kerajaan Aceh kala itu, karena tempatnya terletak 100 meter di atas permukaan laut. Dari benteng ini pula para Inong Balee turun bertempur di atas geladak kapal atau di daratan melawan Belanda dan Portugis.

Pemimpin Pasukan Inong Balee Malahayati dicatat sebagai laksamana perempuan pertama di Asia karena keberaniannya menyerang kapal serta benteng-benteng Belanda. Dia pula yang membunuh Cornelis de Houtman (orang Belanda yang pertama tiba di Indonesia) dalam pertarungan satu lawan satu di atas geladak kapal tahun 1599. Di bawah pimpinannya, Inong Balee menjadi pasukan andalan di tanah Aceh.

Untuk menghargai kepahlawanan Malahayati, Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Skep/1487/XI/1977 mengabadikan namanya di kapal TNI AL dengan nomor lambung 362. Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) juga mencatatkan Benteng Inong Balee dalam Daftar Inventaris Benda Cagar Budaya Tidak Bergerak dan Situs dengan nomor registrasi 2/01-06/C/56.

Sekarang masih ditemukan sisa-sisa bangunan benteng ini. Tepatnya terletak di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar atau sekitar 34,5 kilometer dari Kota Banda Aceh. Sepanjang jalan menuju benteng ini pengunjung akan disuguhi panorama laut dan pegunungan Bukit Barisan yang Indah, plus perasaan was-was karena masih kategori daerah “abu-abu” alias masih ada kemungkinan disergap tembakan.

Walau jalanan mendaki, tidak sulit menemukan benteng itu karena di tepi jalan ada papan nama (sudah mau roboh-red) yang dipasang Depdiknas bertuliskan Benteng Inong Balee yang sudah mulai memudar. Dari Benteng Inong Balee terlihat pemandangan Teluk Krueng Raya dan pegunungan Bukit Barisan. Dari sini terlihat jelas kapal yang keluar masuk dari Pelabuhan Malahayati. Dari benteng ini terlihat juga makam Laksamana Malahayati. Diperkirakan benteng ini dibangun pada abad ke-16 bersamaan dengan pembentukan pasukan Inong Balee.

Bentuk asli benteng ini, menurut perkiraan Depdiknas, adalah persegi panjang, dengan panjang sisi barat mencapai 54 meter, sisi utara 18 meter. Ketinggiannya mencapai 2,5 meter. Ada tiga lubang pengintai, terowongan. Di sekitar benteng, tepatnya di sebelah utara terdapat sebuah bekas permukiman yang disebut-sebut sebagai Kampung Janda atau Kampung Inong Balee.

Sayangnya, benteng ini juga tak luput dari dampak konflik yang berkepanjangan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Studi kelayakan telah dibuat oleh Depdiknas pada 1999. Dari studi ini dana sekitar Rp 1,6 miliar siap dikucurkan untuk melestarikan peninggalan sejarah ini. Namun demikian , hal itu belum dapat dilaksanakan karena situasi yang belum aman.

Akibatnya hanya pemandangan laut saja yang dapat dinikmati, sementara bekas benteng sudah hampir rata dengan tanah dan ditumbuhi oleh tanaman-tanaman liar (sebenarnya menikmati pemandangan laut dari sini juga tidak “nyaman-nyaman banget” karena selain harus was-was bertemu gerombolan bersenjata juga harus pintar menghindari banyaknya kotoran hewan).

Sayangnya lagi, sekarang sebutan Inong Balee mengandung makna negatif. Bukan lagi sebagai lambang patriotisme bangsa ini, melainkan “menjadi” milik Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pengertian Inong Balee adalah pasukan perempuan GAM. GAM mengklaim, Inong Balee adalah perempuan Aceh yang suaminya mati pada masa Daerah Operasi Militer (DOM) atau dibunuh penjajah seperti masa kolonial dulu.

Ironisnya, kita semua, di Jakarta, di Aceh, mungkin juga di seluruh Indonesia menerima mentah-mentah istilah GAM ini. Hal ini secara tak langsung mengakui bahwa bangsa ini telah menjajah Aceh. Harus diakui memang ada perempuan Aceh yang menjadi korban oknum aparat kita, tapi banyak juga yang menjadi korban GAM.

Benteng Inong Balee adalah satu contoh peninggalan sejarah yang terabaikan akibat konflik di Aceh. Masih banyak peninggalan sejarah lain yang terabaikan Nasibnya mungkin sama dengan sebagian perempuan Aceh yang menderita karena diperkosa, suaminya dibunuh dan diculik entah oleh siapa. Derita itu hendaknya jangan ditambah oleh sesama bangsanya sendiri, apalagi oleh yang paling lantang meneriakkan NKRI.(Martian Damanik)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Halaman

Link

Laci bulukan

Blog Stats

  • 141,788 hits
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: